Lean Manufacturing adalah pendekatan produksi yang berfokus pada penciptaan nilai bagi pelanggan dengan mengurangi pemborosan dalam pekerjaan. Perbaikannya menyasar aliran material, informasi, dan cara kerja. Tujuannya ialah menghasilkan produk yang dibutuhkan dengan kualitas yang baik, waktu yang lebih singkat, serta penggunaan sumber daya yang lebih efektif.
Pemborosan berarti kegiatan atau penggunaan sumber daya yang tidak menambah nilai bagi pelanggan. Dalam produksi, bentuknya dapat berupa membuat barang terlalu banyak, menunggu, perpindahan berlebihan, proses yang tidak perlu, Inventory berlebih, gerakan yang tidak perlu, serta perbaikan atas cacat. Masing-masing menunjukkan titik aliran kerja yang perlu dipahami.
Nilai dilihat dari kebutuhan pelanggan terhadap produk. Setelah kebutuhan itu jelas, tim menelusuri rangkaian pekerjaan yang menghasilkan produk tersebut. Penelusuran mencakup proses yang mengubah barang maupun aktivitas pendukung yang masih diperlukan. Pemisahan ini membantu tim memilih pemborosan yang dapat dikurangi tanpa menghilangkan pekerjaan penting.
Dalam contoh hipotetis sebuah bengkel perakitan, komponen berpindah ke tiga lokasi sebelum dipakai. Tim mengamati jalur Material Handling lalu menempatkan komponen yang sering digunakan lebih dekat ke titik pemakaian. Tujuan percobaannya adalah mengurangi perpindahan dan waktu menunggu, sambil mempertahankan akses kerja serta penataan yang aman.
Aliran yang lancar memungkinkan pekerjaan bergerak dari satu proses ke proses berikutnya dengan jeda yang lebih sedikit. Ketika aliran langsung belum memungkinkan, sistem tarik atau pull memakai kebutuhan proses berikutnya sebagai sinyal pengisian kembali. Proses sebelumnya membuat atau mengirim jumlah yang diperlukan oleh proses sesudahnya.
Toyota Production System menghubungkan Just-in-Time dengan jidoka. Just-in-Time menekankan pembuatan yang diperlukan, pada saat diperlukan, dalam jumlah yang diperlukan. Jidoka memungkinkan masalah dikenali dan proses dihentikan ketika terjadi ketidaknormalan, sehingga penyebabnya dapat ditangani sebelum cacat terus mengalir ke tahap berikutnya.
Pada contoh bengkel tadi, kotak komponen yang telah terpakai dapat menjadi sinyal untuk mengisi kembali jumlah tertentu. Jika ditemukan komponen yang bentuknya tidak sesuai, tim menahan pemakaiannya dan menelusuri masalah. Kedua tindakan itu memperlihatkan hubungan antara kelancaran pasokan dan kualitas barang yang diteruskan dalam proses.
Perubahan lean diuji melalui pekerjaan nyata dan pengamatan hasil. Dalam ilustrasi bengkel tersebut, tim dapat membandingkan Cycle Time sebelum dan sesudah penataan ulang, lalu melihat apakah jumlah cacat ikut berubah. Percobaan yang terbatas membuat hubungan antara masalah, perubahan, dan hasil lebih mudah dipahami oleh orang yang mengerjakan prosesnya.
KPI yang dipilih sebaiknya mengikuti tujuan perbaikan, misalnya waktu tunggu, kelancaran aliran, atau mutu keluaran. Lean Manufacturing berkembang melalui pembelajaran berulang bersama pekerja dan pengelola. Fokusnya tetap pada pekerjaan yang membuat produk lebih bernilai bagi pelanggan, sambil mengurangi langkah dan penumpukan yang menghambat aliran tersebut.
Your Reliable, Friendly Neighborhood Forwarder