Stuffing adalah proses memasukkan kargo ke dalam kontainer atau equipment lain, kemudian menatanya untuk perjalanan. Definisi ini mencakup kegiatan fisik pemuatan, tetapi tidak dengan sendirinya menyatakan bahwa susunan sudah aman, dokumen sudah lengkap, atau unit sudah diterima terminal untuk pelayaran tertentu.
Proses kebalikannya adalah Stripping, yaitu mengeluarkan kargo dari unit. Kedua kegiatan membentuk perubahan isi kontainer, sedangkan gate event, release, dan pemuatan ke kapal merupakan peristiwa lain. Pemisahan ini membantu tim membaca status barang dan status equipment tanpa mencampur tahap operasional.
CFS merupakan fasilitas yang dapat mengonsolidasikan kiriman dan melakukan stuffing sebelum pengangkutan. Pekerjaan juga dapat berlangsung di lokasi pengirim atau fasilitas lain sesuai pengaturan shipment. Nama lokasi tidak cukup untuk menentukan tanggung jawab; kontrak dan prosedur pihak terkait tetap menjadi acuannya.
Dalam terminologi DCSA, pada FCL pihak shipper atau consignee beserta agen atau subkontraktornya bertanggung jawab atas stuffing dan stripping. Penjelasan tersebut menerangkan shipment term, bukan berarti kargo harus memenuhi seluruh volume internal atau bahwa semua risiko otomatis berpindah pada satu pihak.
Pada LCL, carrier, agen, atau subkontraktornya menangani stuffing dan stripping menurut definisi shipment DCSA. Beberapa kiriman dapat ditempatkan dalam satu unit melalui konsolidasi. Identitas tiap shipment, pemisahan barang, dan data dokumennya perlu tetap dapat ditelusuri sepanjang proses tersebut.
Sebelum pemuatan dimulai, shipper dan pihak yang mengatur pekerjaan perlu memastikan pembagian tugas jelas serta menggunakan CTU yang sesuai. Packer memeriksa kondisi unit, lantai, kemasan, kompatibilitas barang, dan informasi yang diperlukan. Temuan pada unit atau paket diselesaikan sebelum susunan ditutup.
Penataan mencakup lebih dari pemanfaatan ruang. CTU Code meminta distribusi beban yang tepat, teknik stowage sesuai sifat kargo, dan perhatian pada bahaya operasional. Muatan perlu ditopang atau diikat agar tidak bergeser maupun terguling akibat gaya yang muncul selama perjalanan antarmoda.
Packing list dapat menjadi referensi untuk jumlah koli, tanda, berat, dan uraian barang sesuai format yang dipakai. Setelah stuffing, catatan aktual juga menghubungkan nomor kontainer, nomor segel, dan hasil pemuatan. Perubahan fisik perlu tercermin pada data yang diteruskan ke proses berikutnya.
Sesudah pintu ditutup dan unit menjadi packed container, massa brutonya diverifikasi untuk pengiriman yang berada dalam cakupan SOLAS. Data itu disampaikan cukup awal agar dapat digunakan dalam stowage plan sebelum pemuatan kapal. VGM merupakan syarat pemuatan, bukan jaminan unit pasti dimuat.
Penyelesaian stuffing dicatat ketika muatan selesai ditata dan pengamanan yang diperlukan terpasang. DCSA mengaitkan status laden dengan selesainya stuffing dan pemasangan segel yang valid. Status tersebut menjelaskan kondisi isi unit; penerimaan terminal dan jadwal kapal tetap memerlukan event tersendiri.
Sebagai ilustrasi, kontainer diperiksa, paket dicocokkan dengan rencana, lalu barang dimuat dari bagian depan dengan distribusi berat yang telah diperhitungkan. Celah dikendalikan, muatan diamankan, pintu ditutup, dan segel dicatat. Contoh ini menunjukkan urutan kerja, bukan desain susun untuk semua kargo.
Your Reliable, Friendly Neighborhood Forwarder