Laytime adalah alokasi waktu yang disepakati untuk pemuatan atau pembongkaran, selama kapal disediakan untuk operasi tersebut tanpa tambahan pembayaran di luar freight. Istilah ini digunakan dalam charter party. Perhitungan berpusat pada jatah waktu menurut kontrak dan waktu operasi yang diperhitungkan terhadap jatah itu.
Laycan membahas rentang kesiapan kapal untuk memuat, sedangkan laytime membahas alokasi waktunya. Sebuah kapal dapat siap di dalam jendela laycan, lalu menjalani perhitungan laytime sesuai klausul yang berlaku. Memisahkan dua istilah ini membantu pembaca memahami jadwal kapal dan penggunaan waktu sebagai dua informasi yang berbeda.
Pada banyak voyage charter, awal laytime terkait penyampaian notice of readiness atau NOR yang sah. Tempat kapal berada, kondisi kesiapan, cara pemberitahuan, serta masa tunggu yang ditetapkan kontrak memengaruhi titik mulainya. Karena itu, waktu kapal tiba di Port of Loading perlu dibaca terpisah dari waktu mulai laytime.
Sesudah titik mulai ditentukan, pencatatan operasi menunjukkan kapan pemuatan berlangsung dan kapan kegiatan berhenti. Statement of facts memuat peristiwa serta waktunya, termasuk alasan jeda. Catatan tersebut menyediakan bahan untuk perhitungan; penentuan jam yang masuk ke laytime dilakukan dengan membaca peristiwa itu bersama klausul kontrak.
Klausul tentang hari kerja, cuaca, atau penghentian tertentu dapat membuat waktu yang dihitung berbeda dari durasi kalender. Sebagai contoh, ketentuan weather working days memberi arti khusus pada periode kerja yang memungkinkan menurut kondisi cuaca. Pengaruh hujan juga terkait jenis kargo dan bunyi klausul, sehingga perlu dinilai pada operasi yang dibahas.
Untuk tim Stevedoring, jam kerja nyata menunjukkan kegiatan lapangan. Bagi perhitungan laytime, kegiatan itu perlu ditempatkan pada garis waktu kontraktual. Catatan seperti mulai muat, berhenti karena cuaca, kembali bekerja, dan selesai muat membantu menjelaskan selisih antara lamanya kapal berada di pelabuhan dan waktu yang diperhitungkan.
Sebagai contoh hipotetis, kontrak memberi alokasi 48 jam dan perhitungan akhir menunjukkan 54 jam terpakai. Dengan asumsi seluruh enam jam kelebihan dapat dibebankan sesuai kontrak, selisih itu menjadi dasar Demurrage. Jika tarif yang disepakati Rp24 juta per hari dan dihitung proporsional, enam jam setara Rp6 juta.
Bayangkan terdapat pula jeda empat jam yang dalam kontrak contoh memang dikecualikan dan belum dikurangkan dari 54 jam tadi. Waktu terpakai setelah koreksi menjadi 50 jam, sehingga kelebihannya dua jam. Ilustrasi ini memperlihatkan mengapa status setiap periode perlu selesai ditentukan sebelum selisih waktu dikalikan dengan tarif.
Apabila pekerjaan selesai lebih cepat, despatch dapat dibayarkan bila pengaturannya disepakati dalam kontrak. Dengan demikian, laytime merupakan dasar membaca penggunaan waktu, sedangkan demurrage dan despatch adalah konsekuensi yang terkait dengan ketentuannya. Tiga data utamanya tetap jelas: alokasi, waktu terpakai yang sah, dan selisih antara keduanya.
Your Reliable, Friendly Neighborhood Forwarder