Home / Blog / Apa Itu Transshipment? Pengertian, Proses, Biaya, dan Risikonya dalam Pengiriman Barang
Peran Transshipment dalam Logistik

Apa Itu Transshipment? Pengertian, Proses, Biaya, dan Risikonya dalam Pengiriman Barang

Transshipment adalah proses memindahkan barang dari satu alat transportasi ke alat lainnya saat dalam perjalanan ke tujuan akhir. Istilah ini paling sering muncul dalam pengiriman laut, tapi konsepnya juga berlaku untuk moda darat dan udara. Buat kamu yang baru menemukan kata ini di status pelacakan atau dokumen pengiriman, transshipment bukan tanda ada yang salah. Ini justru bagian normal dari rantai distribusi barang, apalagi di negara kepulauan seperti Indonesia.

Apa yang Dimaksud dengan Transshipment dalam Pengiriman Barang?

Transshipment adalah proses transit barang, bukan pengiriman baru. Barang yang kamu kirim tidak langsung sampai ke kargo tujuan akhir, melainkan singgah dulu di lokasi lain untuk pindah alat angkut, baru kemudian melanjutkan perjalanan.

Contoh paling sederhana begini. Kamu kirim barang dari Jakarta ke daerah pelosok di Maluku. Karena tidak ada jalur kapal langsung, barangmu harus mampir dulu di Surabaya atau Makassar, lalu dipindahkan ke kapal lain yang bisa masuk ke pelabuhan kecil di sana. Proses pindah kapal itulah yang disebut transshipment.

Menariknya, dalam bahasa hukum kepabeanan Indonesia, konsep ini punya nama resmi tersendiri. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membedakan dua istilah dalam Pasal 24 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan: “barang diangkut terus” adalah barang yang lewat kantor pabean tanpa dibongkar sama sekali, sementara “barang diangkut lanjut” adalah barang yang dibongkar dulu sebelum dimuat ke alat angkut berikutnya. Transshipment, secara teknis, masuk kategori kedua karena selalu melibatkan proses bongkar sebelum pindah moda.

Kenapa Pengiriman Barang di Indonesia Sering Melalui Transshipment?

Ada tiga alasan utama kenapa proses logistik harus melewati transshipment.

Pertama, tidak semua wilayah punya rute kapal langsung. Kapal besar butuh kedalaman pelabuhan tertentu, sementara banyak pulau di Indonesia hanya punya dermaga kecil.

Kedua, ini soal efisiensi rute. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran mengatur bahwa pelabuhan utama berfungsi sebagai tempat alih muat dalam jumlah besar, baik untuk angkutan laut dalam negeri maupun internasional. Artinya, konsep transshipment memang sengaja dirancang dalam sistem kepelabuhanan nasional, bukan sekadar akibat keterbatasan infrastruktur.

Ketiga, konsolidasi muatan. Mengumpulkan barang dari beberapa pengirim di satu hub sebelum dikirim lanjut biasanya lebih hemat dibanding menyewa kapal khusus untuk rute kecil yang jarang dilalui.

Bagaimana Proses Transshipment Berlangsung?

Secara umum, proses transshipment melewati empat tahap berikut, meskipun detailnya bisa berbeda tergantung moda dan rute yang dipakai.

1. Pemuatan di Pelabuhan Asal

Barang dimuat ke kapal atau alat angkut pertama di titik keberangkatan, lengkap dengan dokumen pengangkutan dan pemeriksaan awal.

2. Perjalanan Menuju Pelabuhan Transit

Alat angkut membawa barang ke pelabuhan hub, yaitu titik yang punya frekuensi kapal tinggi dan fasilitas bongkar muat lengkap.

3. Alih Muat di Pelabuhan Hub

Di titik ini barang dibongkar, lalu dipindahkan ke alat angkut lanjutan. Sebagian barang langsung dipindahkan ke kapal berikutnya, sebagian lagi ditimbun sementara dulu sebelum jadwal keberangkatan berikutnya tiba. Untuk kargo udara yang butuh penanganan cepat, Bea Cukai bahkan menyediakan fasilitas khusus berupa Pusat Logistik Berikat tipe Hub Cargo yang berlokasi dekat bandara internasional, dirancang khusus untuk mendukung barang yang butuh pergerakan cepat menuju luar negeri.

4. Perjalanan Lanjutan ke Tujuan Akhir

Barang melanjutkan perjalanan dengan alat angkut baru sampai ke pelabuhan tujuan (port of discharge) atau titik akhir pengiriman.

Proses ini bisa melibatkan lebih dari dua jenis moda sekaligus. Misalnya dari kapal ke trucking, lalu pindah ke kapal lagi. Karena itu, transshipment sebenarnya adalah salah satu bentuk paling umum dari transportasi multimoda, bukan konsep terpisah darinya.

Di Mana Pelabuhan Hub Transshipment Berada di Indonesia?

Baca Juga: 5 Jenis Kapal Kargo Berdasarkan Fungsi dan Muatannya

Untuk rute domestik, Tanjung Perak Surabaya menjadi hub utama Program Tol Laut, program pelayaran subsidi pemerintah yang menghubungkan pelabuhan pangkal dengan puluhan pelabuhan di wilayah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan. Menurut data Kementerian Perdagangan melalui Sistem Informasi Gerai Maritim, program ini mencatat puluhan trayek aktif setiap tahun sejak 2015, dengan 41 trayek Tol Laut yang direncanakan berjalan pada 2026 saja.

Untuk rute internasional, pemerintah tengah menyiapkan Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara sebagai transshipment port. Lokasinya strategis karena berada di jalur Selat Malaka, salah satu rute perdagangan tersibuk di dunia. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menargetkan Kuala Tanjung bisa mengambil sebagian pasar transshipment yang selama ini terjadi di Selat Malaka, dengan target market share sekitar 5 persen. Pelabuhan Belawan yang lokasinya berdekatan direncanakan berperan sebagai titik konsolidasi kontainer dari wilayah Sumatera bagian utara, sementara Kuala Tanjung difokuskan sebagai hub logistik dan rantai pasok.

Apa Itu Biaya Transshipment dan Apa Saja Komponennya?

Biaya transshipment adalah tambahan biaya yang muncul akibat proses bongkar muat dan penanganan barang di pelabuhan transit, di luar ongkos kirim utama dari asal ke tujuan. Komponennya biasanya mencakup hal berikut.

  • Terminal handling charge (THC) tambahan di pelabuhan transit, dikenakan setiap kali kontainer dibongkar atau dimuat ulang.
  • Biaya administrasi dan dokumen untuk penyesuaian manifest dan koordinasi jadwal kapal lanjutan.
  • Potensi biaya demurrage jika kontainer tertahan di pelabuhan transit lebih lama dari jadwal karena menunggu kapal berikutnya.
  • Biaya asuransi tambahan jika kamu memilih melindungi barang dari risiko selama proses pindah moda.

Besaran totalnya bervariasi tergantung jumlah kali pindah moda, jenis barang, dan lama waktu transit di hub. Karena itu, komponen ini sebaiknya selalu ditanyakan detailnya ke penyedia jasa pengiriman sebelum booking, bukan diasumsikan sama untuk setiap rute. Untuk gambaran lebih luas soal komponen ongkos kirim secara umum, kamu bisa cek dulu rincian biaya logistik yang berlaku di luar transshipment.

Transshipment vs Pengiriman Langsung: Apa Bedanya?

Dua metode ini punya karakteristik yang cukup berbeda, terutama dari sisi waktu dan struktur biaya.

AspekTransshipmentPengiriman Langsung
Jumlah pelabuhan singgahMinimal tiga: asal, transit, tujuanDua: asal dan tujuan
Jumlah alat angkutDua atau lebihSatu
Waktu tempuhLebih lama karena ada proses transitLebih cepat
Struktur biayaBiaya kirim ditambah komponen transitBiaya kirim tunggal, tanpa komponen transit
Paling cocok untukVolume kecil menuju daerah tanpa rute langsungRute dengan volume besar dan jadwal kapal langsung tersedia

Apa Keuntungan dan Risiko Menggunakan Transshipment?

Sebelum memilih rute dengan transshipment, ada baiknya kamu menimbang dua sisi ini sekaligus.

Bisa Menjangkau Daerah yang Sulit Diakses

Transshipment memungkinkan barang sampai ke pelabuhan kecil yang tidak bisa disinggahi kapal besar, karena barang dipindahkan dulu ke kapal yang lebih kecil di hub.

Berpotensi Lebih Hemat untuk Volume Tertentu

Menggunakan kapal besar di rute utama, lalu kapal kecil untuk rute lanjutan, kadang lebih murah dibanding menyewa kapal khusus untuk jalur langsung yang jarang dilayani.

Rute Jadi Lebih Fleksibel Saat Ada Gangguan

Jika terjadi cuaca buruk, kemacetan pelabuhan, atau gangguan operasional di satu titik, barang bisa dialihkan lewat hub lain tanpa harus membatalkan seluruh pengiriman.

Waktu Pengiriman Bisa Molor

Setiap kali barang menunggu jadwal kapal lanjutan, lead time pengiriman otomatis bertambah, apalagi kalau jadwal kapal di hub tidak setiap hari tersedia.

Ada Risiko Kerusakan Saat Pindah Moda

Semakin sering barang dibongkar dan dimuat ulang, semakin besar peluang terjadi benturan, tergores, atau salah penanganan.

Muncul Biaya Tambahan di Pelabuhan Transit

Seperti dijelaskan pada bagian biaya sebelumnya, proses bongkar muat di hub selalu punya konsekuensi biaya tersendiri.

Apa Arti Status “Diangkut Lanjut” atau “Transshipment” pada Pelacakan Kiriman?

Kalau kamu melihat status seperti itu di sistem pelacakan atau di dokumen bill of lading, artinya barangmu sedang berada di pelabuhan hub menunggu dipindahkan ke alat angkut berikutnya. Ini bukan tanda keterlambatan, melainkan bagian normal dari alur pengiriman yang memang direncanakan sejak awal. Di dokumen pengapalan, kondisi ini biasanya tertulis sebagai “via transshipment port” atau dicantumkan langsung nama pelabuhan transitnya.

Untuk memahami lebih jauh berbagai istilah status pengiriman lain yang mungkin muncul selama barangmu dalam perjalanan, kamu bisa cek juga penjelasan soal status transit pada paket.

Bagaimana Cara Menjaga Barang Tetap Aman Saat Transshipment?

Karena barang berpindah moda lebih dari satu kali, ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan supaya risikonya tetap terkendali.

  • Gunakan kemasan yang kuat, terutama untuk barang rapuh atau bernilai tinggi.
  • Pastikan labeling lengkap, mencakup identitas kontainer, alamat, dan kontak penerima.
  • Pertimbangkan asuransi kargo untuk melindungi dari risiko kerusakan atau kehilangan selama proses pindah moda.
  • Siapkan dokumen lengkap seperti invoice, packing list, dan bill of lading agar tidak ada keterlambatan administratif di pelabuhan transit.

Kapan Bisnis Kamu Perlu Mempertimbangkan Rute dengan Transshipment?

Coba cek tiga hal ini dulu sebelum memutuskan.

  • Apakah tujuan pengirimanmu termasuk daerah yang tidak dilayani rute kapal langsung?
  • Apakah volume barangnya cukup besar untuk memanfaatkan efisiensi kapal utama di rute transit?
  • Apakah efisiensi biaya menjadi prioritas dibanding kecepatan pengiriman?

Kalau jawabannya iya untuk sebagian besar poin di atas, rute dengan transshipment kemungkinan besar jadi opsi yang masuk akal untuk bisnismu. Yang penting, pastikan setiap tahap prosesnya terpantau dengan baik supaya kamu tidak kehilangan jejak barang selama transit.

Kalau kamu baru pertama kali mengurus pengiriman dengan skema seperti ini, momen belajar soal transshipment ini juga bisa jadi kesempatan yang pas untuk mulai mencoba sendiri. Saat ini tersedia voucher pengiriman pertama hingga Rp200.000 yang langsung terpotong otomatis saat checkout, jadi kamu bisa merasakan langsung bagaimana rasanya memantau kiriman dari satu dashboard tanpa perlu bolak-balik tanya status ke banyak pihak.

Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.

Feeling enlightened? Share this article to more people.
Scroll to Top