Home / Blog / Kapan Bisnis Perlu Menerapkan Strategi Just in Case?
Apa Itu Just in Case (JIC)? Pengertian dan Manfaatnya

Kapan Bisnis Perlu Menerapkan Strategi Just in Case?

Keterlambatan pengiriman bahan baku bisa terjadi kapan saja. Kapal terlambat bersandar, pemasok belum bisa memenuhi pesanan, atau permintaan pelanggan tiba-tiba melonjak di luar perkiraan. Saat situasi seperti ini terjadi, perusahaan yang tidak punya stok cadangan (buffer stock) operasionalnya bisa terhenti. Alhasil, pengiriman ke pelanggan jadi ikut tertunda. Situasi ini mendorong banyak bisnis menyiapkan stok cadangan untuk mengantisipasi kendala tersebut. Strategi ini dikenal dengan istilah Just in Case (JIC).

Yuk, kita bahas selengkapnya mulai dari pengertian, cara kerja, hingga kelebihan dan kekurangannya dalam artikel ini!

Pengertian Strategi Just in Case (JIC)

Kapan Bisnis Perlu Menerapkan Strategi Just in Case?
Kapan Bisnis Perlu Menerapkan Strategi Just in Case? (magnific)

Just in Case adalah strategi pengelolaan persediaan yang menyiapkan stok cadangan sebagai bentuk antisipasi terhadap berbagai ketidakpastian dalam rantai pasok. Stok tersebut tidak disiapkan untuk memenuhi permintaan sehari-hari, melainkan sebagai cadangan ketika pasokan terganggu atau melonjaknya permintaan sewaktu-waktu. Tujuannya sederhana, yaitu memastikan operasional tetap berjalan meskipun terjadi kendala di luar rencana.

Beberapa tahun terakhir, banyak bisnis menerapkan strategi ini lagi setelah terjadi gangguan pada rantai pasok global, mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga keterlambatan pengiriman internasional. Pengalaman tersebut membuat banyak perusahaan menyadari bahwa biaya penyimpanan buffer stock relatif lebih kecil dari kerugian akibat produksi yang terhenti. Bagi bisnis yang bergantung pada bahan baku tertentu, memiliki buffer stock menjadi salah satu bentuk upaya preventif terhadap risiko operasional.

Baca Juga: Just in Case vs Just in Time: Mana yang Cocok untuk Bisnismu?

Bagaimana Cara Kerja JIC dalam Menyiapkan Stok Cadangan?

Stok cadangan bisa dimanfaatkan dengan optimal jika jumlah dan pengelolaannya sesuai dengan kebutuhan operasional. Berikut adalah cara kerja yang biasanya diterapkan dalam strategi ini:

  • Tentukan Produk yang Benar-benar Membutuhkan Stok Cadangan

Tidak semua produk membutuhkan buffer stock. Biasanya, perusahaan memprioritaskan bahan baku yang sulit didapat, memiliki lead time panjang, atau dapat menghentikan proses produksi kalau persediaannya habis. Cara ini membantu perusahaan memanfaatkan kapasitas gudang dengan lebih efisien. Dengan begitu, alokasi stok cadangan jadi lebih tepat sasaran karena terfokus pada material yang benar-benar berpengaruh terhadap kelancaran operasional.

  • Hitung Jumlah Stok Berdasarkan Tingkat Risiko

Jumlah stok cadangan sebaiknya tidak ditentukan berdasarkan perkiraan saja. Perusahaan perlu mempertimbangkan waktu pengadaan, pola permintaan, hingga dampaknya apabila pasokan terlambat datang. Material yang paling berisiko mengganggu operasional biasanya membutuhkan banyak buffer stock. Sebaliknya, produk yang mudah diperoleh cukup disimpan sesuai kebutuhan operasional sehari-hari.

  • Pantau Stok Secara Berkala

Bahan baku cadangan tetap perlu dipantau meskipun tidak digunakan setiap hari. Perubahan permintaan, jadwal pengiriman maupun kondisi pasar dapat memengaruhi jumlah persediaan yang perlu kamu persiapkan. Pemantauan secara berkala membantu perusahaan mengetahui kapan stok perlu ditambah, dikurangi, atau disesuaikan. Dengan begitu, perusahaan tetap memiliki buffer stock saat dibutuhkan tanpa menyimpan persediaan secara berlebihan.

  • Isi Ulang Stok Setelah Digunakan

Stok cadangan perlu diisi kembali setelah mulai digunakan agar selalu siap ketika gangguan pasokan kembali terjadi. Namun, perusahaan tidak harus langsung membeli dalam jumlah yang sama setiap saat. Jumlah pembelian bisa disesuaikan dengan kondisi persediaan, kebutuhan operasional, dan situasi pasokan saat itu. Cara ini membuat buffer stock tetap terjaga tanpa memenuhi gudang dengan persediaan yang belum tentu akan segera digunakan.

Bisnis Seperti Apa yang Membutuhkan JIC?

Strategi Just in Case tidak selalu dibutuhkan oleh semua bisnis. Namun, beberapa sektor industri tetap mengandalkan buffer stock untuk menjaga kelancaran operasional. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Bisnis yang Bergantung pada Bahan Baku Impor

Perusahaan yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri biasanya memiliki lead time lebih panjang dibanding supplier lokal. Proses pengiriman juga dipengaruhi banyak faktor, mulai dari jadwal kapal, pemeriksaan bea cukai, hingga kondisi pelabuhan. Kalau pasokan terlambat, produksi bisa ikut terhenti. Menyimpan stok cadangan membantu perusahaan tetap beroperasi sambil menunggu pasokan berikutnya tiba.

  • Bisnis dengan Permintaan Musiman

Bisnis musiman biasanya menghadapi lonjakan permintaan pada periode tertentu, misalnya produsen makanan dan minuman menjelang Ramadan, distributor parcel saat hari raya, atau pemasok perlengkapan sekolah menjelang tahun ajaran baru. Pada periode seperti ini, kebutuhan bahan baku maupun produk jadi dapat meningkat dalam waktu singkat.

Stok cadangan membantu perusahaan tetap memenuhi permintaan meskipun pasokan berikutnya belum tiba. Dengan begitu, peluang penjualan tetap terjaga tanpa harus khawatir kehabisan stok.

  • Industri yang Tidak Boleh Berhenti Beroperasi

Rumah sakit, industri farmasi, maupun produsen makanan merupakan contoh bisnis yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku atau produk tertentu. Keterlambatan pasokan dapat berdampak langsung pada layanan maupun proses produksi. Hal ini membuat banyak perusahaan di sektor ini tetap menyiapkan buffer stock sebagai langkah antisipasi. Tujuannya bukan untuk menimbun persediaan, melainkan mengurangi risiko ketika pasokan terganggu sewaktu-waktu.

Apa Kelebihan dan Kekurangan Strategi JIC?

Strategi Just in Case menawarkan sejumlah keuntungan, tetapi ada juga konsekuensi yang perlu jadi bahan pertimbangan. Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari strategi Just in Case:

Kelebihan JIC

  • operasional tetap berjalan saat pasokan terganggu
  • perusahaan lebih siap menghadapi lonjakan permintaan
  • memberi waktu perusahaan untuk mencari solusi

Kekurangan JIC

  • biaya penyimpanan menjadi lebih besar
  • modal tertahan di dalam persediaan
  • risiko stok menumpuk atau kedaluwarsa

Apa Syarat agar Penerapan JIC Tidak Membengkakkan Biaya Gudang?

Strategi JIC akan lebih efektif jika perusahaan tidak hanya menambah stok, tetapi juga mengelolanya secara berkala. Berikut adalah beberapa hal yang perlu kamu perhatikan:

  • Evaluasi kebutuhan stok secara rutin agar jumlah buffer stock tetap sesuai dengan kondisi bisnis
  • Gunakan data sebagai dasar perencanaan, seperti riwayat penjualan, lead time, dan pola permintaan
  • Pantau kinerja pemasok untuk menentukan apakah stok cadangan perlu ditambah atau justru bisa dikurangi
  • Tinjau kembali stok yang jarang digunakan agar gudang tidak dipenuhi persediaan yang sudah tidak lagi dibutuhkan

Setiap bisnis punya tingkat risiko rantai pasok yang berbeda, sehingga kebutuhan stok cadangannya pun tidak bisa disamaratakan. Strategi Just in Case membantu perusahaan menjaga kelangsungan operasional ketika pasokan mengalami kendala, tetapi jumlah persediaan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Pada akhirnya, JIC bukan soal menyimpan stok sebanyak mungkin, melainkan memastikan perusahaan memiliki cadangan yang cukup ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Agar pengelolaan pengiriman lebih terstruktur dan mudah dipantau, perusahaan dapat memanfaatkan solusi logistik yang terintegrasi. Forwarder.ai membantu bisnis mengelola pengiriman secara efisien dalam satu platform, mulai dari perencanaan hingga tracking kargo secara real-time.

Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik, cek rute, hingga cek biaya kirim sesuai kebutuhan bisnis Anda!

Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.

Feeling enlightened? Share this article to more people.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top