Saat mulai menyiapkan pengiriman barang ke luar negeri, kamu mungkin akan berhadapan dengan berbagai dokumen ekspor, salah satunya Certificate of Origin (COO). Di Indonesia, Certificate of Origin dikenal sebagai Surat Keterangan Asal atau SKA, yang diterbitkan melalui layanan e-SKA Kementerian Perdagangan.
Certificate of Origin digunakan untuk menunjukkan dari mana suatu barang berasal, diproduksi, atau diproses. Dokumen ini bisa berpengaruh pada proses kepabeanan, tarif bea masuk di negara tujuan, hingga kepercayaan pembeli terhadap asal barang yang kamu kirim. Oleh karena itu, sebelum mulai ekspor, penting untuk mengetahui apa itu Certificate of Origin, fungsi, jenis, syarat, dan cara mengurusnya dengan benar.
Apa itu Certificate of Origin?

Certificate of Origin (COO) atau Surat Keterangan Asal (SKA) adalah dokumen yang menyatakan asal suatu barang dalam kegiatan ekspor. Saat ini, penerbitan SKA di Indonesia dilakukan melalui e-SKA, yaitu sistem elektronik dari Kementerian Perdagangan yang menghubungkan eksportir, Instansi Penerbit SKA (IPSKA), dan Kemendag. Sistem ini membantu proses penerbitan SKA menjadi lebih terpusat, terdokumentasi, dan mudah ditelusuri.
Baca Juga: Pengertian HS Code: Fungsi dan Cara Menemukannya
Fungsi Certificate of Origin
Bagi eksportir, Certificate of Origin bukan sekadar dokumen tambahan dalam proses pengiriman. Dokumen ini dapat membantu memastikan barang yang dikirim memiliki keterangan asal yang jelas, sehingga proses administrasi di negara tujuan lebih mudah dipenuhi.
Berikut beberapa fungsi Certificate of Origin yang bisa kamu pahami:
1. Membuktikan Asal Barang
Dokumen ini menjelaskan dari mana barang tersebut berasal, diproduksi, atau diproses di negara tertentu, sehingga pihak pembeli maupun otoritas negara tujuan dapat mengetahui asal barang dengan lebih jelas.
2. Mendukung Proses Kepabeanan di Negara Tujuan
Saat barang tiba di negara tujuan, otoritas kepabeanan dapat memeriksa COO/SKA untuk memastikan asal barang sesuai dengan dokumen ekspor-impor lainnya. Jika data dalam dokumen sesuai, maka proses pemeriksaan dapat berjalan lebih lancar.
3. Memenuhi Syarat dari Pembeli atau Otoritas Negara Tujuan
Dalam beberapa transaksi, pembeli dapat meminta COO/SKA sebagai dokumen pendukung sebelum barang dikirim. Selain itu, otoritas negara tujuan juga dapat mensyaratkan dokumen ini untuk jenis barang, skema impor, atau kebijakan perdagangan tertentu.
4. Membantu Mendapatkan Tarif Bea Masuk Preferensi
Untuk skema perdagangan tertentu, COO/SKA dapat digunakan agar importir di negara tujuan memperoleh tarif bea masuk preferensi, seperti pengurangan atau pembebasan bea masuk. Namun, fasilitas ini hanya berlaku jika barang memenuhi ketentuan asal barang yang ditetapkan.
5. Mengurangi Risiko Hambatan Dokumen
COO/SKA yang lengkap dan sesuai dapat membantu mengurangi risiko kendala administrasi saat barang masuk ke negara tujuan. Misalnya, permintaan ulang dokumen, pemeriksaan tertunda, atau barang tertahan karena asal barang belum dapat diverifikasi.
Baca Juga: Idle Time: Penyebab, Perhitungan, & Cara Menguranginya dalam Logistik
Kapan Certificate of Origin Dibutuhkan?
Certificate of Origin tidak selalu diminta dalam setiap transaksi ekspor, tetapi dokumen ini bisa menjadi penting dalam kondisi tertentu, seperti:
- Saat mengekspor barang ke negara yang mensyaratkan COO/SKA,
- Saat ingin memanfaatkan tarif preferensi,
- Saat pembeli meminta bukti asal barang,
- Saat barang masuk dalam skema perjanjian dagang tertentu,
- Saat otoritas negara tujuan membutuhkan dokumen asal barang.
Jenis-Jenis Certificate of Origin
Secara umum, Certificate of Origin (COO) atau Surat Keterangan Asal (SKA) terbagi menjadi dua jenis, yaitu SKA Preferensi dan SKA Non Preferensi. Berikut perbedaan keduanya:
SKA Preferensi
Digunakan untuk mendapatkan pengurangan atau pembebasan tarif bea masuk di negara tujuan. Biasanya, SKA Preferensi digunakan jika Indonesia memiliki kerja sama perdagangan dengan negara tujuan ekspor. Namun, barang yang dikirim tetap harus memenuhi ketentuan asal barang yang berlaku dalam perjanjian tersebut.
Contohnya, jika barang ekspor Indonesia memenuhi syarat dalam perjanjian dagang tertentu, importir di negara tujuan bisa membayar bea masuk lebih rendah dengan menggunakan SKA Preferensi.
SKA Non Preferensi
Digunakan sebagai keterangan asal barang, tetapi tidak memberikan pengurangan atau pembebasan tarif bea masuk. Jenis SKA ini biasanya dibutuhkan untuk memenuhi permintaan pembeli, ketentuan negara tujuan, atau kebutuhan pengawasan perdagangan.
Dokumen yang Dibutuhkan untuk Mengurus Certificate of Origin
Dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus Certificate of Origin bisa berbeda tergantung negara tujuan, jenis barang, dan jenis yang diajukan. Namun, secara umum, eksportir perlu menyiapkan invoice, packing list, dokumen pengangkutan, serta dokumen pendukung untuk membuktikan asal barang.
Baca Juga: Shipper dalam Logistik: Pengertian, Tugas, dan Bedanya dari Consignee
Untuk pengajuan SKA di Indonesia sendiri, dokumen yang umumnya perlu disiapkan antara lain:
1. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)
PEB adalah dokumen pemberitahuan ekspor yang disampaikan kepada Bea Cukai. Dokumen ini digunakan untuk menunjukkan bahwa barang yang diajukan dalam SKA memang termasuk dalam proses ekspor resmi.
2. Invoice
Invoice berisi rincian transaksi antara eksportir dan pembeli, seperti nama barang, jumlah, harga, nilai transaksi, serta informasi penjual dan pembeli. Data dalam invoice perlu sesuai dengan data yang diajukan dalam SKA.
3. Packing List
Packing list memuat rincian kemasan barang, seperti jumlah koli, berat, ukuran, dan isi barang. Dokumen ini membantu mencocokkan data barang dalam pengajuan SKA dengan barang yang dikirim.
4. Bill of Lading, Airway Bill, atau Cargo Receipt
Dokumen pengangkutan digunakan sebagai bukti bahwa barang dikirim ke negara tujuan. Bill of lading biasanya digunakan untuk pengiriman laut, airway bill untuk pengiriman udara, dan cargo receipt untuk bukti penerimaan barang dalam proses pengangkutan.
5. Dokumen Pendukung Asal Barang
Dokumen ini digunakan untuk membuktikan bahwa barang benar berasal, diproduksi, atau diproses di Indonesia. Bentuknya bisa berbeda tergantung jenis barang dan ketentuan asal barang yang berlaku.
6. Cost Structure Jika Diperlukan
Untuk jenis SKA atau kriteria asal barang tertentu, eksportir dapat diminta menyiapkan cost structure. Dokumen ini membantu menunjukkan komponen biaya atau proses produksi agar dapat memenuhi ketentuan asal barang yang berlaku.
Cara Mengurus Certificate of Origin
Secara umum, Certificate of Origin diurus dengan menyiapkan dokumen, lalu mengajukannya ke instansi yang berwenang di negara eksportir. Jika permohonan disetujui, COO dapat diterbitkan dan digunakan sebagai dokumen pendukung ekspor-impor.
Baca Juga: Jenis-Jenis Dokumen Logistik yang Penting
Di Indonesia, pengurusan Surat Keterangan Asal (SKA) bisa dilakukan melalui sistem e-SKA milik Kementerian Perdagangan. Berikut gambaran alurnya:
1. Daftar atau Akses Sistem e-SKA
Pertama, eksportir perlu memiliki akses ke sistem e-SKA. Jika belum terdaftar, eksportir perlu melakukan registrasi melalui web e-SKA dan menyiapkan dokumen registrasi yang diperlukan, seperti notifikasi email registrasi, NPWP, Tanda Daftar Perusahaan (TDP), dan surat kuasa jika diperlukan.
2. Siapkan Dokumen Ekspor
Setelah memiliki akses, eksportir perlu menyiapkan dokumen pendukung. Berdasarkan flow pengajuan SKA elektronik, dokumen umum yang dibutuhkan meliputi PEB, invoice, packing list, Bill of Lading atau Airway Bill, dan cost structure jika diperlukan.
3. Isi Permohonan SKA Melalui Sistem
Selanjutnya, eksportir mengisi data permohonan di sistem e-SKA, seperti data eksportir, data barang, negara tujuan, serta informasi dokumen pendukung. Pastikan data yang diisi sesuai dengan dokumen ekspor.
4. Unggah Dokumen Pendukung
Kemudian, unggah dokumen yang diminta secara lengkap dan benar. Dokumen ini akan menjadi dasar verifikasi oleh IPSKA sebelum SKA diterbitkan.
5. Ajukan Permohonan SKA
Jika data dan dokumen sudah lengkap, eksportir dapat mengirim permohonan melalui sistem e-SKA. Pada tahap ini, permohonan akan masuk ke proses verifikasi.
6. Tunggu Verifikasi dari IPSKA
IPSKA akan memeriksa draft dan dokumen pendukung. Jika ada data yang belum sesuai, eksportir bisa diminta melakukan perbaikan. Jika disetujui, SKA dapat diterbitkan.
7. Gunakan SKA sesuai Ketentuan
Setelah diterbitkan, SKA dapat digunakan sesuai jenis dokumennya, baik dalam bentuk cetak maupun elektronik. Dalam alur e-SKA, data penerbitan SKA juga dapat dikirim secara elektronik ke Indonesia National Single Window (INSW).
Perbedaan Certificate of Origin dengan Dokumen Ekspor Lainnya
Dalam proses ekspor, setiap dokumen punya peran yang berbeda. Agar tidak tertukar, berikut perbedaan Certificate of Origin dengan dokumen ekspor lainnya:
Dokumen | Fungsi |
| Certificate of Origin/Surat Keterangan Asal | Membuktikan asal barang ekspor, misalnya negara tempat barang diproduksi atau diproses. |
| Invoice | Menunjukkan rincian transaksi antara penjual dan pembeli, seperti nama barang, jumlah, harga, dan total nilai transaksi. |
| Packing list | Menjelaskan rincian kemasan barang, termasuk jumlah kemasan, berat, ukuran, dan isi barang. |
| Bill of Lading/Airway Bill | Menjadi bukti pengangkutan barang, seperti Bill of Lading untuk pengiriman laut, atau Airway Bill untuk pengiriman udara. |
| PEB | Pemberitahuan Ekspor Barang kepada Bea Cukai sebagai bagian dari proses kepabeanan ekspor. |
Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Mengurus Certificate of Origin
Agar pengajuan tidak tertunda atau perlu direvisi, berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari saat mengurus Certificate of Origin:
Salah Memilih Jenis SKA
SKA Preferensi dan SKA Non Preferensi memiliki fungsi yang berbeda. Jika salah memilih jenis SKA, dokumen yang diajukan bisa tidak sesuai dengan kebutuhan transaksi, skema perdagangan, atau ketentuan negara tujuan.
Data Barang Tidak Sesuai dengan Invoice atau PEB
Pastikan data barang dalam SKA sesuai dengan dokumen pendukung, seperti invoice dan PEB. Perbedaan pada nama barang, jumlah, nilai, negara tujuan, atau data eksportir bisa membuat pengajuan perlu diperbaiki.
Tidak Melampirkan Dokumen Pendukung yang Lengkap
Dokumen pendukung seperti invoice, packing list, PEB, dokumen pengangkutan, atau dokumen asal barang perlu disiapkan sesuai kebutuhan. Jika ada dokumen yang kurang, proses verifikasi bisa tertunda.
Salah Menentukan Origin Criteria
Origin criteria menunjukkan dasar penentuan asal barang. Jika kriteria ini tidak sesuai, pengajuan SKA bisa bermasalah, terutama untuk SKA Preferensi yang digunakan untuk memperoleh fasilitas tarif bea masuk.
Mengajukan SKA Terlalu Mepet dengan Jadwal Pengiriman
Sebaiknya, pengajuan SKA tidak dilakukan terlalu dekat dengan jadwal pengiriman. Jika ada revisi data atau dokumen tambahan yang diminta, eksportir masih punya waktu untuk memperbaikinya tanpa mengganggu proses ekspor.
Tidak Mengecek Ketentuan Negara Tujuan
Setiap negara bisa memiliki ketentuan dokumen yang berbeda. Karena itu, eksportir perlu mengecek apakah negara tujuan mensyaratkan Certificate of Origin, jenis apa yang dibutuhkan, dan apakah ada aturan khusus yang harus dipenuhi.
Baca Juga: Cara Menulis Alamat Paket yang Benar Supaya Kurir Tidak Salah Kirim
Kesimpulannya, Certificate of Origin atau Surat Keterangan Asal adalah dokumen penting dalam ekspor-impor karena membantu membuktikan asal barang dan mendukung proses kepabeanan di negara tujuan. Dengan memahami fungsi, jenis, dokumen yang dibutuhkan, serta cara mengurusnya, eksportir dapat menyiapkan pengiriman dengan lebih tepat dan mengurangi risiko hambatan administrasi.
Jika kamu sedang menyiapkan pengiriman dan ingin proses logistik berjalan lebih praktis, kamu dapat mengunjungi Forwarder.ai untuk mengetahui layanan yang tersedia dan mendukung proses logistik bisnis kamu.
Referensi:
- https://trade.kadin.id/lcoo
- https://e-ska.kemendag.go.id/uploads/UM-ES.pdf
- https://e-ska.kemendag.go.id/uploads/Flow%20pengajuan%20SKA%20elektronik.pdf
Kirim Barang Tanpa Ribet. Semua Bisa dari Satu Platform!
Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.



