Pernahkah bisnis kamu mengalami momen di mana pendapatannya pas-pasan, tidak untung, tetapi juga tidak rugi? Break Event Point (BEP) atau titik impas adalah kondisi ketika pendapatan usaha sudah cukup untuk menutup semua biaya. Gampangnya, BEP adalah acuan yang membantu kita untuk mengetahui kapan pendapatan usaha sudah cukup untuk menutup semua biaya. Tanpa perhitungan ini, kamu bisa menjalankan bisnis tanpa tahu sebenarnya sudah untung atau masih rugi. Dalam sektor logistik, perhitungan seperti ini sangat penting, karena komponen biayanya cukup kompleks.
Yuk, kita kupas tuntas mengenai titik impas dalam bisnis pada artikel berikut!
Baca Juga: Biaya Logistik Gak Sesimpel Ongkir, Ini Jenisnya Biar Gak Salah Hitung!
Pengertian BEP (Break Even Point)

BEP adalah titik di mana total pendapatan sama persis dengan total biaya yang dikeluarkan. Di posisi ini, bisnis kamu tidak mendapatkan keuntungan, tetapi juga tidak mengalami kerugian, alias balik modal. Konsep ini penting karena BEP menjadi patokan minimal operasional.
Dengan mengetahui angka ini, kamu bisa menetapkan target penjualan yang lebih realistis. Tidak hanya itu, kamu juga bisa mengukur seberapa cepat bisnis bisa mulai menghasilkan profit.
Baca Juga: Pahami Apa Itu Freight Cost, Cara Hitung, & Tips Menghematnya
Komponen dalam Perhitungan BEP
Sebelum menghitung BEP, kamu harus tahu tiga komponen utama perhitungannya:
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Fixed cost adalah biaya tetap yang tidak berubah meskipun volume penjualan naik atau turun. Contohnya seperti sewa gudang, gaji karyawan tetap, dan biaya operasional kantor. Biaya ini tetap harus kamu keluarkan meskipun belum ada penjualan. Dalam perhitungan Break Even Point, fixed cost menjadi komponen utama yang harus kamu penuhi dulu sebelum mendapatkan keuntungan. Semakin besar fixed cost, makin tinggi juga target penjualan yang harus kamu capai.
Biaya Variabel (Variable Cost)
Variable cost adalah biaya yang berubah mengikuti jumlah produksi atau penjualan. Misalnya biaya bahan baku, ongkos pengiriman per unit, hingga packaging. Semakin banyak produk yang kamu jual, semakin besar biaya ini. Dalam bisnis logistik, biaya bahan bakar dan handling biasanya dikategorikan sebagai variable cost. Dengan mengontrol biaya variabel, otomatis kamu juga menurunkan angka BEP. Artinya, kalau kamu bisa menekan biaya per unit, jumlah penjualan yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas juga jadi lebih sedikit.
Margin Kontribusi (Contribution Margin)
Contribution margin adalah selisih antara harga jual dan biaya variabel per unit. Nilai ini menunjukkan seberapa besar kontribusi setiap produk untuk menutup fixed cost. Semakin besar margin, makin cepat juga kamu mencapai Break Even Point. Komponen ini menjadi kunci dalam perhitungan BEP. Tanpa margin yang cukup, bisnis akan sulit berkembang.
Baca Juga: Biaya Full Truck Load (FTL): Komponen Utama dan Penjelasannya
Rumus BEP
Ada dua cara untuk menghitung BEP, yaitu dalam satuan unit dan dalam Rupiah. Berikut adalah penjelasan lengkapnya:
Rumus BEP dalam Unit
BEP dalam unit digunakan untuk mengetahui berapa jumlah produk yang harus kamu jual. Rumusnya adalah fixed cost dibagi dengan contribution margin per unit. Hasilnya berupa jumlah minimum unit yang harus terjual agar tidak rugi. Perhitungan ini membantu kamu merencanakan produksi sesuai dengan target penjualan yang harus kamu capai. Dengan begitu, kamu tidak asal menentukan target penjualan. Berikut adalah rumusnya:
BEP (unit) = Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
Rumus ini dapat menjawab mengenai berapa banyak produk yang harus terjual untuk mencapai titik impas.
Rumus BEP dalam Rupiah
BEP dalam rupiah menunjukkan nilai penjualan yang harus kamu capai. Perhitungannya menggunakan fixed cost dibagi rasio margin. Hasilnya berupa angka omzet yang harus dicapai agar bisnis impas. Cara ini lebih mudah dipahami karena langsung berkaitan dengan pendapatan. Banyak bisnis menggunakan pendekatan ini untuk membuat perencanaan keuangan. Berikut adalah rumusnya:
BEP (Rupiah) = Biaya Tetap / (1 – (Biaya Variabel per Unit / Harga Jual per Unit))
Rumus ini dapat menjawab pertanyaan terkait nilai penjualan minimal yang harus kamu capai untuk mencapai titik impas.
Baca Juga: Penyebab Biaya Logistik Mahal dan Solusinya
Perbedaan BEP Unit dan BEP Rupiah
BEP unit berfokus pada jumlah barang yang harus dijual. Sementara itu, BEP Rupiah berfokus pada nilai penjualan yang perlu kamu capai. Keduanya sama-sama penting, meskipun penggunaannya untuk kebutuhan yang berbeda. BEP unit biasanya dipakai untuk perencanaan produksi. Sementara itu, BEP Rupiah lebih sering digunakan untuk melihat target omzet.
Cara Menghitung BEP
Contoh 1: BEP Unit
Bayangkan kamu menjalankan bisnis logistik dengan sewa kendaraan dan gaji sopir sebesar Rp150.000.000 per bulan (fixed cost). Biaya operasional per pengiriman adalah Rp20.000 (biaya variabel) sehingga kamu mematok tarif Rp40.000 per pengiriman. Maka, perhitungannya:
BEP (unit) = 150.000.000 / (40.000 – 20.000) = 7.500 pengiriman
Artinya, kamu harus mendapatkan 7.500 pengiriman dalam sebulan untuk mencapai titik impas.
Contoh 2: BEP Rupiah
Dengan data yang sama, berikut adalah perhitungan BEP dalam Rupiah:
BEP (Rupiah) = 150.000.000 / (1 – (20.000 / 40.000))
= 150.000.000 / (1 – 0,5)
= 150.000.000 / 0,5
= 300.000.000
Artinya, target pendapatan yang harus kamu capai adalah Rp300.000.000 per bulannya untuk mencapai titik impas.
Baca Juga: Freight Forwarding Charges: Pengertian dan Komponennya
Cara Menurunkan BEP
Semakin rendah nilai Break Even Point, makin cepat juga bisnis kamu mendapatkan keuntungan. Berikut adalah cara menurunkannya:
Efisiensi Fixed Cost
Menekan biaya tetap bisa langsung menurunkan BEP. Kamu bisa mulai dengan mengevaluasi biaya sewa, gaji, atau pengeluaran rutin lainnya. Pengurangan fixed cost bisa membuat target penjualan jadi lebih rendah, meskipun di satu sisi kamu tetap harus menjaga operasional tetap berjalan seperti biasanya. Jadi, penerapan efisiensi harus dilakukan dengan perhitungan yang matang.
Optimalkan Variable Cost
Mengurangi variable cost juga efektif untuk menurunkan BEP. Sebagai contoh, kamu bisa melakukan negosiasi ulang harga bahan baku dengan supplier agar lebih murah, atau beralih ke vendor yang menawarkan harga lebih kompetitif tanpa menurunkan kualitas. Kamu juga bisa menekan biaya dengan mengurangi penggunaan kemasan yang tidak perlu atau memperbaiki alur kerja yang masih kurang efisien. Dalam konteks logistik, ini juga bisa berarti optimasi rute pengiriman atau penggunaan bahan bakar. Semakin rendah biaya variabel, makin besar juga margin yang kamu dapat. Alhasil, bisnismu bisa mencapai titik impas lebih cepat.
Baca Juga: Cara Menurunkan Biaya Logistik Secara Efisien
Naikkan Harga Jual
Menaikkan harga jual juga bisa menurunkan BEP karena margin meningkat. Namun, strategi ini tidak bisa kamu lakukan sembarangan. Penting untuk mempertimbangkan kondisi pasar dan kompetitor. Kalau harga terlalu tinggi, permintaan bisa turun. Oleh karena itu, penyesuaian harga perlu dilakukan dengan perhitungan yang matang dan hati-hati.
BEP adalah indikator penting untuk menilai apakah sebuah bisnis layak dijalankan atau tidak. Dengan melihat titik impas, kamu bisa memperkirakan risiko yang mungkin terjadi. Dalam bisnis logistik, perhitungan ini membantu menentukan jumlah armada dan kapasitas operasional. Tidak hanya itu, BEP juga bisa digunakan untuk indikator perencanaan ekspansi bisnis ke depannya. Dengan perhitungan yang tepat, kamu bisa menghindari kerugian sejak awal.
Agar pengelolaan pengiriman lebih terstruktur dan mudah dipantau, perusahaan dapat memanfaatkan solusi logistik yang terintegrasi. Forwarder.ai membantu bisnis mengelola pengiriman secara efisien dalam satu platform, mulai dari perencanaan hingga tracking kargo secara real-time.
Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik, cek rute, hingga cek biaya kirim sesuai kebutuhan bisnis Anda!
Kirim Barang Tanpa Ribet. Semua Bisa dari Satu Platform!
Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.


