Goods receipt (GR) adalah salah satu proses penting untuk mencatat barang yang masuk ke gudang. Dalam aktivitas pergudangan, setiap barang yang masuk dan keluar perlu dicatat agar jumlah inventory di dalam sistem tetap sesuai dengan kondisi fisik.
GR umumnya dilakukan ketika warehouse menerima barang dari supplier, baik berdasarkan purchase order (PO) maupun dokumen pengiriman lainnya. Prosesnya tidak hanya mencatat jumlah barang, tetapi juga dapat melibatkan pemeriksaan kondisi, spesifikasi, hingga pencocokan barang dengan dokumen.
Cari tahu lebih dalam tentang goods receipt di ranah logistik dan pergudangan di artikel ini. Kamu juga akan memahami perbedaan GR dengan good issue (GI) di sini.
Apa Itu Goods Receipt (GR)?
Goods receipt adalah proses penerimaan dan pencatatan barang yang masuk ke gudang atau inventory berdasarkan transaksi dan dokumen yang terkait. Dalam proses ini, warehouse memastikan barang yang datang sesuai dengan informasi yang telah ditentukan sebelum penerimaan dicatat ke dalam sistem.
Contohnya, sebuah perusahaan memesan 500 unit produk dari supplier. Ketika barang tiba di warehouse, tim receiving akan memeriksa jumlah, SKU, kondisi kemasan, dan informasi lainnya. Jika barang sesuai, penerimaan tersebut dicatat sebagai goods receipt.
Dalam operasional gudang, proses GR biasanya termasuk dalam inbound logistics dan berlangsung sebelum barang ditempatkan ke lokasi penyimpanan melalui proses putaway.
Pencatatan yang akurat sangat penting karena kesalahan pada tahap receiving dapat membuat jumlah stok dalam sistem berbeda dengan stok fisik. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi proses picking, replenishment, stock opname, hingga pemenuhan pesanan pelanggan.
Apa Fungsi Goods Receipt dalam Logistik?
Goods receipt memiliki beberapa fungsi penting dalam pengelolaan inventory dan operasional warehouse, yaitu:
- Mencatat barang yang masuk: GR menjadi catatan bahwa barang telah diterima oleh warehouse.
- Memperbarui inventory: Barang yang telah diterima dan memenuhi ketentuan dapat ditambahkan ke stok dalam sistem.
- Memastikan kesesuaian barang: Tim receiving dapat membandingkan barang aktual dengan PO, delivery note, atau dokumen lainnya.
- Memeriksa kondisi barang: Pemeriksaan dapat membantu menemukan barang rusak, cacat, atau tidak sesuai sebelum masuk ke stok.
- Mendukung administrasi pembelian: Data penerimaan dapat digunakan untuk mencocokkan pesanan dengan barang yang benar-benar diterima.
- Meningkatkan traceability: Riwayat penerimaan membantu perusahaan mengetahui kapan barang masuk, dari supplier mana, dan berapa jumlah yang diterima.
Dengan demikian, GR bukan hanya aktivitas administratif. Proses ini menjadi salah satu titik kontrol untuk menjaga inventory accuracy di dalam warehouse.
Dokumen yang Digunakan dalam Goods Receipt
Goods receipt biasanya mengacu pada beberapa dokumen untuk memastikan barang yang diterima sesuai dengan transaksi.
- Purchase Order (PO): Menjadi acuan mengenai barang yang dipesan, jumlah, spesifikasi, dan informasi pembelian lainnya.
- Delivery Note: Dokumen yang menyertai pengiriman dan mencantumkan detail barang yang dikirim supplier.
- Packing List: Membantu memeriksa jumlah kemasan, isi, berat, dan informasi fisik lainnya.
- Goods Receipt Document: Bukti atau catatan bahwa barang telah diterima dan dicatat dalam sistem.
- Invoice: Dapat digunakan untuk proses pencocokan transaksi pembelian dan administrasi pembayaran.
- Quality Inspection Record: Digunakan ketika barang memerlukan pemeriksaan kualitas sebelum masuk ke inventory yang tersedia.
Dalam sistem ERP, pencatatan GR juga dapat berkaitan dengan proses three-way matching, yaitu pencocokan antara purchase order, goods receipt, dan invoice sebelum pembayaran supplier diproses.
Perbedaan Goods Receipt (GR) dan Goods Issue (GI)
Goods receipt dan goods issue sering dianggap sama karena keduanya merupakan transaksi yang mencatat pergerakan barang dalam inventory. Keduanya juga membutuhkan pencatatan yang akurat agar jumlah stok di sistem dapat mencerminkan kondisi fisik di warehouse.
Namun, GR dan GI sebenarnya sangat berbeda. Berikut tabel perbedaan keduanya:
| Aspek | Goods Receipt (GR) | Goods Issue (GI) |
| Pergerakan barang | Barang masuk | Barang keluar |
| Dampak terhadap stok | Menambah inventory | Mengurangi inventory |
| Proses logistik | Inbound | Outbound |
| Contoh | Barang dari supplier diterima | Barang dikirim kepada customer |
| Aktivitas terkait | Receiving dan putaway | Picking, packing, dan shipping |
Goods receipt biasanya dilakukan ketika warehouse menerima barang dari supplier atau sumber lainnya. Sebaliknya, goods issue dilakukan ketika barang dikeluarkan dari inventory, misalnya untuk memenuhi pesanan customer, kebutuhan produksi, atau kebutuhan operasional perusahaan.
Sebagai contoh, supplier mengirim 100 unit barang ke warehouse. Ketika barang diterima dan dicatat, transaksi tersebut merupakan GR dan inventory bertambah 100 unit. Ketika 20 unit kemudian di-picking dan dikirim kepada customer, pengeluaran tersebut dicatat sebagai GI sehingga stok berkurang 20 unit.
Dengan memahami perbedaan GR dan GI, perusahaan dapat menjaga stock movement tetap tercatat dari saat barang masuk hingga akhirnya keluar dari warehouse.
Kapan Goods Receipt dan Goods Issue Dilakukan?
GR dan GI digunakan pada situasi yang berbeda dalam siklus inventory.
Goods Receipt dilakukan ketika:
- Barang dari supplier tiba di warehouse.
- Barang hasil pembelian telah diterima.
- Barang dari warehouse atau lokasi lain masuk ke lokasi tujuan.
- Barang yang dikembalikan customer diterima kembali, sesuai proses inventory yang digunakan perusahaan.
Goods Issue dilakukan ketika:
- Barang dikirim kepada customer.
- Barang dikeluarkan untuk kebutuhan produksi.
- Barang dipindahkan keluar dari warehouse.
- Barang digunakan untuk kebutuhan operasional tertentu.
Namun, tidak semua perpindahan fisik otomatis menggunakan transaksi GR atau GI dengan cara yang sama. Jenis transaksi dalam sistem dapat bergantung pada skenario inventory dan konfigurasi WMS atau ERP yang digunakan perusahaan.
Tips Saat Mencatat Goods Receipt
Pencatatan goods receipt perlu dilakukan secara akurat karena data tersebut menjadi dasar inventory dalam sistem. Beberapa hal berikut dapat membantu mengurangi kesalahan.
1. Cocokkan barang dengan dokumen sebelum mencatat GR
Jangan hanya menghitung jumlah barang. Kamu juga harus memeriksa SKU, deskripsi, ukuran, batch atau lot number jika relevan, serta informasi lainnya yang tercantum dalam PO dan dokumen pengiriman. Misalnya, PO mencantumkan 100 unit SKU A, tetapi supplier mengirim 100 unit SKU B. Jumlahnya memang sama, tetapi barang tersebut tetap tidak sesuai pesanan.
2. Catat jumlah aktual yang diterima
GR sebaiknya mencerminkan barang yang benar-benar diterima, bukan hanya jumlah yang tercantum pada PO. Jika PO berisi 500 unit tetapi hanya 480 unit yang tiba, perbedaan tersebut perlu ditangani sesuai prosedur perusahaan dan tidak boleh diabaikan hanya agar angka penerimaan sama dengan pesanan.
3. Periksa kondisi barang
Barang yang rusak, penyok, bocor, atau kemasannya bermasalah sebaiknya diidentifikasi saat receiving. Jika perlu, barang dapat ditempatkan di area quarantine terlebih dahulu sampai tim terkait menentukan apakah barang dapat diterima sebagai stok normal, dikembalikan, atau membutuhkan tindakan lainnya.
4. Hindari pencatatan GR sebelum barang diterima
Pencatatan penerimaan sebelum barang benar-benar tiba dapat menyebabkan inventory dalam sistem lebih tinggi daripada stok fisik. Kondisi ini berisiko menimbulkan masalah ketika warehouse menerima pesanan dan sistem menunjukkan stok tersedia, padahal barang sebenarnya belum diterima.
5. Gunakan barcode atau scanning jika tersedia
Barcode scanning dapat membantu mengurangi kesalahan input manual pada SKU, quantity, atau informasi inventory lainnya. Integrasi antara barcode, WMS, dan ERP juga dapat membuat proses receiving lebih cepat sekaligus meningkatkan inventory visibility.
6. Segera tindak lanjuti selisih barang
Jika ditemukan selisih jumlah, barang salah, atau kerusakan, jangan membiarkannya tanpa status yang jelas. Catat selisih barang dan koordinasikan dengan supplier, purchasing, quality control, atau pihak terkait sesuai SOP. Dengan begitu, masalah dapat ditelusuri tanpa mengganggu akurasi stok.
Sudah Paham Goods Receipt dalam Warehouse?
Goods receipt adalah proses penerimaan dan pencatatan barang yang masuk ke inventory warehouse. Proses ini mencakup pemeriksaan dokumen, penghitungan barang, pengecekan kondisi, pencatatan ke WMS atau ERP, hingga barang dapat dilanjutkan ke proses putaway.
GR berperan penting dalam menjaga akurasi inventory karena menjadi salah satu titik awal pencatatan stock movement. Sementara itu, goods issue mencatat barang yang keluar dari inventory. Keduanya sama-sama penting untuk memastikan data stok dalam sistem tetap sesuai dengan kondisi fisik.
Dengan mencocokkan barang dengan dokumen, mencatat jumlah aktual, memeriksa kondisi, serta segera menangani selisih stok barang, perusahaan dapat membuat proses receiving lebih akurat dan mendukung operasional warehouse yang lebih efisien.


