Distribution center (DC) adalah salah satu fasilitas untuk menerima, mengelola, menyortir, dan mengirim barang menuju berbagai tujuan, seperti retailer, distributor, cabang perusahaan, atau customer.
Dalam kegiatan supply chain, barang yang diproduksi tidak selalu langsung dikirim dari pabrik manufaktur menuju toko atau pelanggan. Barang biasanya melewati beberapa titik distribusi agar pengiriman ke berbagai wilayah dapat dilakukan dengan lebih efisien. Titik inilah yang disebut distribution center
Sama-sama memiliki aktivitas penyimpanan dan penanganan barang, distribution center masih sering dianggap sama dengan warehouse atau fulfillment center. Padahal, ketiganya memiliki fokus operasional yang berbeda. Mari kenali lebih dalam tentang DC di artikel ini.
Apa Itu Distribution Center?
Distribution center adalah fasilitas dalam jaringan logistik yang digunakan untuk menerima, mengelola, menyimpan sementara, menyortir, dan mendistribusikan barang menuju berbagai tujuan.
Berbeda dari fasilitas yang hanya berfokus pada penyimpanan, distribution center dirancang untuk mendukung pergerakan inventory. Barang yang masuk ke DC dapat diproses dan dikirim kembali menuju toko, distributor, branch warehouse, atau customer sesuai kebutuhan distribusi.
Dalam perusahaan, distribution center atau DC biasanya menjadi salah satu titik penting dalam jaringan supply chain. Sebuah perusahaan dapat memiliki satu DC pusat yang melayani beberapa wilayah atau beberapa DC yang masing-masing melayani area geografis tertentu.
Apa Fungsi Distribution Center?
Distribution center memiliki beberapa fungsi penting dalam proses distribusi barang, seperti:
1. Menerima barang dari supplier atau manufacturer
Distribution center menerima inventory dari supplier, manufacturer, atau distribution point lainnya. Pada tahap receiving, barang dapat diperiksa berdasarkan SKU, quantity, kondisi, dan dokumen pengiriman. Proses ini penting untuk memastikan barang yang masuk sesuai dengan informasi yang tercatat dalam sistem inventory.
2. Menyimpan barang sementara sebelum didistribusikan
DC dapat menyediakan area penyimpanan untuk barang yang belum langsung dikirim ke tujuan. Namun, storage pada distribution center umumnya mendukung aktivitas distribusi sehingga barang dapat memiliki inventory turnover yang relatif tinggi. Tujuannya bukan semata-mata menyimpan barang dalam jangka panjang.
3. Mengonsolidasikan dan memecah pengiriman
Distribution center dapat menggabungkan barang dari beberapa sumber sebelum dikirim dalam satu pengiriman. Proses ini dikenal sebagai consolidation.
Sebaliknya, satu pengiriman dalam jumlah besar juga dapat dipecah menjadi beberapa pengiriman yang lebih kecil berdasarkan tujuan. Proses ini disebut deconsolidation. Keduanya membantu perusahaan mengatur distribusi dengan lebih efisien.
4. Menyortir barang berdasarkan tujuan
Barang yang berada di DC dapat dikelompokkan berdasarkan toko, wilayah, customer, jenis produk, atau jadwal pengiriman. Aktivitas sorting ini memudahkan proses outbound sehingga barang dapat dikirim ke tujuan yang tepat.
5. Mempercepat proses distribusi
Dengan menempatkan barang di lokasi yang strategis, distribution center dapat memperpendek waktu dan jarak pengiriman menuju berbagai destinasi. Hal ini sangat penting bagi perusahaan yang melayani banyak wilayah dengan volume pengiriman yang tinggi.
6. Mendukung pengelolaan inventory dan order
Distribution center juga berperan dalam menjaga ketersediaan inventory untuk memenuhi kebutuhan jaringan distribusi. Data inventory dapat digunakan untuk menentukan kapan barang perlu dikirim kembali ke retailer, branch warehouse, atau distribution point lainnya.
7. Mengurangi biaya dan jarak distribusi
Konsolidasi barang di satu lokasi dapat membantu perusahaan mengoptimalkan penggunaan kendaraan dan rute pengiriman. Daripada setiap supplier mengirim barang secara langsung ke banyak tujuan, barang dapat dikonsolidasikan terlebih dahulu di DC sebelum didistribusikan menggunakan rute yang lebih terencana.
Bagaimana Cara Kerja Distribution Center?
Cara kerja distribution center dapat berbeda berdasarkan jenis industri, volume inventory, dan model distribusi. Namun, secara umum prosesnya meliputi:
- Receiving: barang tiba dari supplier atau manufacturer dan diterima oleh tim inbound.
- Inspection: quantity, SKU, kondisi barang, dan dokumen diperiksa.
- Putaway atau staging: barang ditempatkan di storage location atau staging area sesuai kebutuhan.
- Inventory management: jumlah dan lokasi inventory dicatat dalam sistem.
- Order processing: DC menerima permintaan distribusi dari retailer, distributor, branch, atau customer.
- Picking: barang diambil berdasarkan order yang harus dipenuhi.
- Sorting: barang dikelompokkan berdasarkan tujuan pengiriman.
- Consolidation: beberapa barang atau order dapat digabungkan dalam satu pengiriman untuk meningkatkan efisiensi.
- Loading: barang dimuat ke kendaraan yang akan melakukan outbound delivery.
- Dispatch: kendaraan meninggalkan distribution center untuk mengirim barang ke destination.
Dalam operasi dengan cross-docking, proses dapat dibuat lebih singkat. Barang yang baru tiba dapat langsung disortir dan diarahkan menuju area outbound tanpa melalui penyimpanan yang lama. Alur tersebut membuat DC berfungsi sebagai titik penghubung antara inbound logistics dan outbound distribution.
Perbedaan Distribution Center, Fulfillment Center, dan Warehouse
Distribution center, fulfillment center, dan warehouse sering dianggap sama karena ketiganya dapat menerima, menyimpan, dan menangani inventory. Ketiganya juga dapat memiliki aktivitas seperti receiving, storage, picking, dan shipping.
Namun, fokus operasionalnya berbeda.
- Distribution center: fokus utama pada distribusi dan pergerakan barang menuju berbagai tujuan, seperti retailer, distributor, cabang, atau customer.
- Fulfillment center: fokus pada pemenuhan pesanan customer, terutama dalam bisnis e-commerce, mulai dari order processing, picking, packing, hingga shipping.
- Warehouse: lebih berfokus pada penyimpanan dan pengelolaan inventory.
Perbedaan tersebut juga terlihat dari aktivitas yang dominan:
- Distribution center banyak menangani sorting, consolidation, deconsolidation, replenishment, cross-docking, dan dispatch.
- Fulfillment center banyak menangani order processing, picking, packing, labeling, dan shipping.
- Warehouse lebih menitikberatkan pada storage, inventory control, putaway, dan pengelolaan stok.
Dari sisi order, distribution center sering menangani kebutuhan distribusi dalam jumlah tertentu menuju retailer, distributor, atau cabang. Sementara fulfillment center lebih banyak menangani pesanan individual dari customer.
Warehouse sendiri dapat menyimpan barang untuk periode yang lebih panjang, sedangkan DC biasanya memiliki perputaran inventory yang lebih cepat karena dirancang untuk mendukung distribusi.
Meski demikian, ketiga istilah tersebut tidak selalu menunjukkan fasilitas yang benar-benar terpisah. Sebuah fasilitas dapat menjalankan fungsi warehouse sekaligus distribution center, atau bahkan memiliki fungsi fulfillment untuk memenuhi kebutuhan bisnis tertentu.
Apa Saja Aktivitas di Distribution Center?
Berbagai aktivitas yang dapat ditemukan dalam distribution center antara lain:
- Receiving dan unloading: menerima dan menurunkan barang dari kendaraan inbound.
- Inspection: memeriksa quantity, kondisi, SKU, dan dokumen.
- Putaway: menempatkan barang ke storage location.
- Staging: menempatkan barang sementara sebelum proses berikutnya.
- Inventory management: mencatat dan mengontrol ketersediaan barang.
- Order processing: memproses permintaan distribusi.
- Picking: mengambil barang sesuai kebutuhan pengiriman.
- Sorting: mengelompokkan barang berdasarkan destination.
- Consolidation: menggabungkan barang untuk pengiriman yang lebih efisien.
- Deconsolidation: memecah pengiriman besar menjadi beberapa tujuan.
- Cross-docking: mengalihkan barang dari inbound menuju outbound dengan minim penyimpanan.
- Loading: memuat barang ke kendaraan.
- Dispatch: mengirim barang menuju destination.
Aktivitas tersebut biasanya didukung oleh teknologi seperti Warehouse Management System (WMS), barcode scanner, conveyor, pallet, forklift, dan berbagai material handling equipment lainnya.
Contoh Penggunaan Distribution Center
Distribution center digunakan dalam berbagai model bisnis dan industri. Berikut ini beberapa penggunaan DC sesuai industri bisnis:
- Retail: Manufacturer mengirim produk dalam jumlah besar ke DC, kemudian barang didistribusikan ke berbagai toko berdasarkan kebutuhan masing-masing.
- FMCG: Produk seperti makanan kemasan, minuman, produk kebersihan, dan kebutuhan sehari-hari dikonsolidasikan di DC sebelum dikirim ke distributor atau retail outlet.
- Distribusi antarcabang: Perusahaan dapat menggunakan DC pusat untuk mengirim inventory ke branch warehouse di berbagai kota.
- E-commerce: Inventory dari beberapa supplier dapat dikonsolidasikan di distribution center sebelum didistribusikan menuju berbagai wilayah.
- Spare parts: Perusahaan dapat menyimpan dan mengatur spare parts di DC agar kebutuhan berbagai cabang atau service center dapat dipenuhi dengan cepat.
- Cross-docking: Barang yang baru tiba dapat langsung disortir berdasarkan destination dan dipindahkan ke kendaraan outbound tanpa melalui storage dalam waktu lama.
Sudah Tahu Fungsi Distribution Center?
Jadi, distribution center (DC) adalah suatu tempat yang digunakan untuk menerima, mengelola, menyimpan sementara, menyortir, dan mendistribusikan barang menuju berbagai tujuan dalam jaringan logistik.
Fungsi DC tidak hanya berkaitan dengan storage, tetapi juga mencakup receiving, inventory management, picking, sorting, consolidation, cross-docking, loading, hingga dispatch. Karena itu, distribution center memiliki peran penting dalam menghubungkan manufacturer atau supplier dengan retailer, distributor, cabang, maupun customer.
Dengan pengelolaan DC yang baik, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi supply chain, inventory turnover, transportation, dan outbound distribution, sekaligus mempercepat aliran barang menuju pasar.


