Home / Blog / Mengenal Delivery Note dalam Logistik dan Bedanya dengan DO & PO
ilustrasi delivery note

Mengenal Delivery Note dalam Logistik dan Bedanya dengan DO & PO

Delivery note (DN) adalah sebuah dokumen yang berisi informasi mengenai barang yang dikirim kepada penerima. Dokumen ini juga dapat menjadi referensi bagi pihak penerima ketika melakukan receiving dan mencocokkan barang dengan pesanan.

Delivery note sering ditemukan dalam proses outbound logistics, mulai dari warehouse melakukan picking dan packing hingga barang tiba di lokasi customer. DN juga sering dianggap sama dengan surat jalan, delivery order (DO), atau bahkan purchase order (PO). Padahal, masing-masing dapat memiliki fungsi dan waktu penggunaan yang berbeda. Mari ketahui lebih dalam tentang DN di sini!

Apa Itu Delivery Note?

Delivery note (DN) adalah dokumen yang menyertai pengiriman barang dari pengirim kepada penerima dan berisi informasi mengenai barang yang dikirim. Informasi di dalamnya dapat mencakup nama barang, SKU, quantity, satuan barang, nomor pesanan, serta identitas pengirim dan penerima.

Delivery note biasanya dibuat ketika barang akan dikirim dari supplier, distributor, warehouse, atau penjual kepada customer. Fokus utama DN adalah barang yang dikirim, bukan nilai transaksi atau tagihan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan membeli 500 unit produk dari supplier. Setelah pesanan siap dikirim, supplier menyiapkan barang dan delivery note yang mencantumkan 500 unit produk tersebut. Dokumen kemudian dibawa bersama barang menuju warehouse milik pembeli. Ketika barang tiba, tim receiving dapat menggunakan DN untuk memeriksa apakah barang yang datang sesuai dengan informasi pengiriman.

Apa Fungsi Delivery Note dalam Logistik?

Delivery note membantu berbagai aktivitas dalam proses pengiriman dan penerimaan barang.

1. Sebagai dokumen pendamping pengiriman

Delivery note dapat dibawa bersama barang selama perjalanan dari lokasi pengirim menuju penerima. Dokumen ini membantu memberikan informasi mengenai isi pengiriman kepada pihak yang menangani barang.

2. Menjelaskan detail barang yang dikirim

DN mencantumkan informasi seperti nama barang, SKU, quantity, dan satuan sehingga penerima dapat mengetahui detail cargo yang seharusnya diterima.

3. Membantu proses receiving di warehouse

Ketika barang tiba di warehouse, tim receiving dapat menggunakan DN sebagai referensi untuk memeriksa barang sebelum melakukan pencatatan penerimaan.

4. Membantu memeriksa kesesuaian barang

Penerima dapat membandingkan barang aktual dengan informasi pada delivery note. Jika terdapat barang kurang, salah item, atau kerusakan, discrepancy dapat dicatat untuk ditindaklanjuti.

5. Mendukung traceability pengiriman

Nomor dan informasi pada DN dapat digunakan untuk menelusuri suatu pengiriman dan menghubungkannya dengan dokumen lain seperti PO, DO, maupun GRN.

Apa Saja Isi Delivery Note?

Format delivery note dapat berbeda berdasarkan perusahaan dan jenis pengiriman. Namun, beberapa informasi yang umum dicantumkan antara lain:

  • Nomor delivery note: Nomor referensi unik untuk mengidentifikasi dokumen pengiriman.
  • Tanggal pengiriman: Menunjukkan kapan barang dikirim.
  • Nama dan alamat pengirim: Informasi pihak yang mengirimkan barang.
  • Nama dan alamat penerima: Informasi lokasi atau pihak yang menerima barang.
  • Nomor purchase order: Dicantumkan jika pengiriman berkaitan dengan PO tertentu.
  • Nomor delivery order: Dicantumkan jika perusahaan menggunakan DO sebagai bagian dari proses pengiriman.
  • Nama atau SKU barang: Identitas barang yang dikirim.
  • Quantity: Jumlah barang yang dikirim.
  • UoM: Satuan barang seperti pcs, carton, kg, atau pallet.
  • Batch atau lot number: Digunakan jika barang membutuhkan pelacakan berdasarkan batch atau lot.
  • Informasi pengiriman: Dapat mencakup nomor kendaraan atau informasi lainnya sesuai kebutuhan perusahaan.
  • Tanda tangan penerima: Digunakan sebagai konfirmasi bahwa barang telah diterima.
  • Catatan discrepancy: Digunakan untuk mencatat barang rusak, kurang, atau ketidaksesuaian lainnya.

Tidak semua delivery note harus memiliki seluruh informasi tersebut. Formatnya biasanya disesuaikan dengan SOP perusahaan, jenis barang, dan kebutuhan sistem logistik yang digunakan.

Apakah Delivery Note Sama dengan Surat Jalan?

Delivery note dan surat jalan sering dianggap sama karena keduanya sama-sama digunakan untuk menyertai proses pengiriman barang dan memberikan informasi mengenai muatan yang dikirim.

Dalam praktik bisnis di Indonesia, delivery note sering digunakan sebagai istilah bahasa Inggris untuk dokumen yang secara fungsi menyerupai surat jalan. Keduanya dapat sama-sama mencantumkan informasi seperti pengirim, penerima, barang, quantity, dan tanggal pengiriman.

Namun, istilah dan format dokumen dapat berbeda antarperusahaan. Surat jalan umumnya digunakan dalam konteks administrasi pengiriman barang di Indonesia dan dapat menjadi dokumen pendamping kendaraan selama proses distribusi. Sementara itu, delivery note merupakan istilah yang lebih umum digunakan dalam transaksi dan komunikasi logistik berbahasa Inggris.

Karena itu, jika sebuah perusahaan menyebut dokumen pengiriman sebagai delivery note, dokumen tersebut belum tentu memiliki format yang sama persis dengan surat jalan perusahaan lain.

Perbedaan Delivery Note, DO, dan GRN

Delivery note, delivery order (DO), dan Goods Receipt Note (GRN) sering membingungkan karena ketiganya dapat muncul dalam satu rangkaian proses pemenuhan pesanan dan pengiriman barang.

Ketiganya memang sama-sama berkaitan dengan pergerakan barang dan dapat memuat informasi seperti nama barang, quantity, atau pihak yang terlibat. Namun, fokus penggunaannya berbeda.

  • Delivery Note (DN): Dokumen yang umumnya menyertai barang ketika dikirim dan mencatat detail barang yang dikirim kepada penerima.
  • Delivery Order (DO): Dokumen yang dapat berfungsi sebagai dasar atau instruksi untuk pengeluaran maupun penyerahan barang kepada pihak tertentu. Dalam beberapa perusahaan, DO digunakan sebagai dasar warehouse menyiapkan barang untuk dikirim.
  • Goods Receipt Note (GRN): Dokumen atau catatan yang dibuat oleh pihak penerima untuk merekam hasil penerimaan barang setelah proses receiving dilakukan.

Perlu diperhatikan bahwa delivery order tidak selalu memiliki arti yang sama di setiap konteks. Dalam proses distribusi, DO dapat menjadi instruksi pengiriman. Sementara dalam industri pelayaran dan kepelabuhanan, delivery order juga dapat merujuk pada dokumen yang berkaitan dengan pengeluaran atau penyerahan cargo.

Karena itu, penggunaan istilah DO perlu dilihat berdasarkan konteks perusahaan atau industri yang bersangkutan.

Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan sebagai:

PO → DO → Warehouse menyiapkan barang → Delivery Note → Pengiriman → Receiving → GRN

Namun, tidak semua perusahaan menggunakan seluruh dokumen tersebut. Beberapa perusahaan dapat menggabungkan fungsi tertentu atau menggunakan istilah berbeda untuk dokumen yang serupa.

Perbedaan Delivery Note dan Purchase Order (PO)

Delivery note dan purchase order (PO) sering dianggap sama karena keduanya dapat mencantumkan informasi mengenai barang, quantity, supplier, dan buyer.

Padahal, keduanya digunakan pada tahap yang berbeda dalam proses pengadaan dan pengiriman.

  • Purchase Order (PO): Dokumen yang dibuat oleh buyer untuk memesan barang atau jasa kepada supplier.
  • Delivery Note (DN): Dokumen yang digunakan untuk menyertai pengiriman barang dari supplier kepada buyer.
  • PO menunjukkan barang yang dipesan, sedangkan DN menunjukkan barang yang dikirim.
  • PO biasanya dibuat sebelum supplier mengirimkan barang, sedangkan DN digunakan ketika barang telah disiapkan untuk dikirim.

Contohnya, buyer membuat PO untuk 500 unit barang. Supplier kemudian menyiapkan pengiriman dan menerbitkan delivery note yang mencantumkan 500 unit tersebut.

Ketika barang tiba, warehouse melakukan pemeriksaan. Jika hanya 490 unit yang benar-benar diterima, hasil receiving tersebut dapat digunakan sebagai dasar pembuatan GRN sesuai prosedur perusahaan.

Dengan demikian, satu rangkaian transaksi dapat memiliki tiga informasi penting:

  • PO = apa yang dipesan
  • DN = apa yang dikirim
  • GRN = apa yang diterima

Tips Mengelola Delivery Note

Pengelolaan DN yang baik membantu mengurangi kesalahan dalam proses pengiriman dan receiving.

  • Pastikan quantity sesuai: Quantity pada DN harus sesuai dengan barang yang benar-benar akan dikirim.
  • Cocokkan SKU dan deskripsi barang: Kesalahan SKU dapat menyebabkan barang yang diterima berbeda dari pesanan.
  • Gunakan nomor referensi yang jelas: Hubungkan DN dengan PO, sales order, atau DO jika dokumen tersebut digunakan.
  • Pastikan informasi penerima benar: Kesalahan alamat atau pihak penerima dapat menyebabkan masalah dalam proses delivery.
  • Catat discrepancy: Jika barang kurang, rusak, atau terdapat ketidaksesuaian lainnya, catat informasi tersebut agar dapat ditindaklanjuti.
  • Simpan dokumen dengan baik: DN dapat diperlukan untuk tracking, audit, rekonsiliasi inventory, atau penyelesaian dispute dengan customer.
  • Gunakan sistem digital jika tersedia: Integrasi DN dengan WMS, ERP, atau sistem transportasi dapat membantu mengurangi input manual dan meningkatkan visibility pengiriman.
  • Pastikan DN mudah ditelusuri: Nomor DN sebaiknya dapat dikaitkan dengan transaksi lain seperti PO, DO, dan GRN.

Sudah Paham Tentang Delivery Note?

Jadi, delivery note adalah dokumen yang menyertai pengiriman barang dari pengirim kepada penerima dan mencatat detail barang yang dikirim. Dalam logistik, DN membantu proses outbound, pengiriman, receiving, pemeriksaan quantity, dan traceability barang.

Delivery note sering memiliki fungsi yang mirip dengan surat jalan, tetapi penggunaan istilah dan formatnya dapat berbeda antarperusahaan. Sementara itu, delivery order (DO) dapat digunakan sebagai dasar atau instruksi pengiriman, sedangkan GRN mencatat hasil penerimaan barang.

Delivery note juga berbeda dari purchase order. PO menunjukkan barang yang dipesan, DN menunjukkan barang yang dikirim, dan GRN menunjukkan barang yang diterima.

Melalui prosedur pengelolaan dokumen yang akurat, perusahaan dapat menjaga koordinasi antara supplier, warehouse, purchasing, transporter, customer, dan tim receiving, sekaligus meningkatkan akurasi inventory dan visibility dalam proses distribusi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top