Home / Blog / Dangerous Goods: Klasifikasi dan Contoh Barangnya
Dangerous Goods: Klasifikasi dan Contoh Barangnya

Dangerous Goods: Klasifikasi dan Contoh Barangnya

Banyak orang mengira dangerous goods hanya berupa bahan peledak atau zat kimia industri. Padahal kenyataannya, barang yang sering kita gunakan sehari-hari juga termasuk dalam kategori ini, lho. Mulai dari parfum, aerosol, hingga power bank, semuanya punya risiko tertentu jika dikirim tanpa penanganan tepat. Oleh karena itu, produk tersebut memerlukan prosedur pengemasan, pelabelan, dan pengiriman yang berbeda dari barang pada umumnya.

Yuk, kita bahas klasifikasi, contoh barangnya, regulasi yang mengaturnya, serta cara pengemasan dan pelabelannya selengkapnya dalam artikel ini!

Pengertian Dangerous Goods

Dangerous Goods: Klasifikasi dan Contoh Barangnya (magnific)
Dangerous Goods: Klasifikasi dan Contoh Barangnya (magnific)

Dangerous goods adalah barang atau bahan yang dapat membahayakan keselamatan manusia, lingkungan, maupun alat angkut selama proses penyimpanan maupun pengiriman. Potensi bahayanya pun beragam, mulai dari mudah terbakar, meledak, bersifat korosif, hingga mengandung zat beracun. Risiko tersebut membuat bahan berbahaya tidak dapat dikirim menggunakan prosedur yang sama seperti barang biasa.

Agar proses pengiriman tetap aman, setiap jenis bahan berbahaya memiliki aturan penanganannya masing-masing. Aturan tersebut mencakup cara mengemas barang, penggunaan label berbahaya, hingga dokumen yang perlu kamu sertakan. Tujuannya sederhana, yaitu mengurangi risiko kecelakaan selama barang berada di gudang maupun perjalanan.

Apa Saja Klasifikasi Dangerous Goods Berdasarkan Kelas Bahaya?

Setiap bahan berbahaya memiliki karakteristik bahaya yang berbeda. Untuk memudahkan proses penanganan dan pengirimannya, barang berbahaya terbagi ke dalam sembilan kelas:

Jenis BahayaContoh Barang
Kelas 1Bahan peledakPetasan, amunisi, bahan peledak industri
Kelas 2GasTabung LPG, oksigen, aerosol
Kelas 3Cairan mudah terbakarParfum, bensin, alkohol, cat
Kelas 4Padatan mudah terbakarKorek api, sulfur, logam reaktif tertentu
Kelas 5Bahan pengoksidasi dan peroksida organikHidrogen peroksida, amonium nitrat
Kelas 6Bahan beracun dan infeksiusPestisida, sampel medis tertentu
Kelas 7Bahan radioaktifMaterial radioaktif untuk kebutuhan medis atau industri
Kelas 8Bahan korosifAsam sulfat, cairan pembersih berbahan kimia kuat
Kelas 9Barang berbahaya lainnyaBaterai lithium, power bank, es kering (dry ice)

Klasifikasi di atas tidak dibuat untuk membatasi pengiriman barang, melainkan untuk menentukan cara penanganan paling sesuai. Sebagai contoh, produk yang mudah terbakar tentu memerlukan perlakuan berbeda dengan bahan korosif atau baterai lithium. Dengan mengetahui kelas bahayanya sejak awal, pengirim bisa memilih kemasan, label, maupun layanan logistik yang tepat sesuai kebutuhan.

Baca Juga: Apa Saja Keunggulan Air Freight Selain Kecepatan? Cek Faktanya

Barang Sehari-Hari Apa Saja yang Ternyata Termasuk Dangerous Goods?

Beberapa barang yang sering kita gunakan sehari-hari juga termasuk dangerous goods. Berikut beberapa contoh yang paling umum kita jumpai dalam proses pengiriman:

  • Produk Elektronik

Sebagian perangkat elektronik menggunakan baterai lithium yang berpotensi menimbulkan panas berlebih jika mengalami kerusakan atau hubungan arus pendek (short circuit). Oleh karena itu, pengiriman produk elektronik tertentu memerlukan penanganan khusus. Contoh produknya di antaranya:

  • power bank
  • baterai lithium
  • baterai cadangan (spare battery)
  • Produk Kecantikan

Ada beberapa produk kecantikan tertentu yang masuk ke dalam kategori barang berbahaya karena mengandung alkohol atau dikemas dalam bentuk spray sehingga pengirimannya memerlukan prosedur tertentu. Produk yang dimaksud di antaranya:

  • parfum
  • deodoran aerosol
  • hair spray
  • nail polish
  • Produk Rumah Tangga

Tidak sedikit produk rumah tangga mengandung bahan kimia yang mudah terbakar atau bersifat korosif. Meskipun umum digunakan, produk-produk ini tetap memerlukan penanganan khusus saat dikirim:

  • cat
  • tiner
  • cairan pembersih berbahan kimia
  • pemutih dengan kandungan kimia tertentu
  • Produk Gas dan Bahan Bakar

Beragam jenis bahan bakar atau gas juga memerlukan penanganan khusus dalam proses pengirimannya, karena berisiko memicu kebakaran kalau tidak ditangani dengan benar. Contohnya adalah:

  • tabung LPG
  • gas kaleng (butane gas)
  • bensin
  • solar

Regulasi Apa Saja yang Mengatur Pengiriman Dangerous Goods?

Pengiriman barang dengan kandungan berbahaya mengacu pada sejumlah regulasi yang dirancang untuk menjaga keselamatan selama proses distribusi. Regulasi tersebut menjadi acuan bagi penyedia jasa logistik dalam menentukan prosedur pengemasan, pelabelan, dokumentasi hingga pengangkutan barang berbahaya.

Ada sejumlah standar internasional yang menjadi acuan agar barang berbahaya pengirimannya tetap aman melalui berbagai moda transportasi:

Moda TransportasiRegulasi yang Digunakan
UdaraIATA Dangerous Goods Regulations (IATA DGR)
LautInternational Maritime Dangerous Goods (IMDG) Code
Jalan (internasional)ADR (Agreement concerning the International Carriage of Dangerous Goods by Road)
Kereta apiRID (Regulations concerning the International Carriage of Dangerous Goods by Rail)

Pengiriman dangerous goods di Indonesia juga mengacu pada ketentuan dari Kementerian Perhubungan serta kebijakan dari masing-masing penyedia jasa logistik. Oleh karena itu, persyaratan pengiriman bisa berbeda, tergantung jenis barang maupun pilihan moda transportasinya.

Bagaimana Cara Mengemas dan Melabeli Dangerous Goods dengan Benar?

Kemasan dan label bukanlah sekadar pelengkap dalam pengiriman barang berbahaya. Keduanya berfungsi memberikan informasi mengenai karakteristik muatan sekaligus membantu mengurangi risiko selama proses penyimpanan dan pengiriman. Berikut adalah langkah-langkah pengemasan dan pelabelan yang bisa kamu lakukan:

  • Gunakan Kemasan Sesuai dengan Karakteristik Muatan

Setiap jenis barang berbahaya memerlukan kemasan yang berbeda. Misalnya, cairan yang mudah terbakar memerlukan wadah rapat untuk mengurangi risiko kebocoran selama pengiriman. Kemasan juga harus cukup kuat agar mampu melindungi isi dalam paket dari benturan. Penggunaan kemasan yang sesuai menjadi langkah awal untuk menjaga keamanan barang selama proses distribusi.

  • Tempelkan Label Bahaya yang Sesuai

Label membantu petugas gudang maupun kurir mengenali karakteristik produk yang sedang ditangani. Informasi ini penting agar barang disimpan dan dikirim sesuai prosedur yang berlaku. Pastikan label tetap terlihat jelas dan tidak tertutup lakban maupun kemasan tambahan. Hindari menggunakan label yang tidak sesuai dengan jenis barang, karena bisa menimbulkan kesalahan saat proses pengiriman.

  • Lengkapi Dokumen Jika Diperlukan

Beberapa jenis muatan berbahaya memerlukan dokumen tambahan sebelum masuk tahap pengiriman. Dokumen tersebut berisi informasi mengenai jenis barang, klasifikasi bahaya, hingga cara penanganannya. Kelengkapan dokumen membantu mempercepat proses pemeriksaan sekaligus mengurangi risiko penolakan pengiriman. Oleh karena itu, pastikan untuk memeriksa kembali persyaratan dari penyedia jasa logistik yang kamu gunakan.

  • Pastikan Jasa Logistik Menerima Pengiriman Dangerous Goods

Sebelum mengirim barang, pastikan terlebih dahulu apakah penyedia jasa logistik pilihanmu menerima kategori produk yang akan dikirim. Mengecek ketentuan sejak awal membantu mengurangi risiko penolakan oleh jasa logistik saat proses pengiriman. Kalau perlu, tanyakan juga persyaratan pengemasan dan dokumen yang harus dipenuhi.

Baca Juga: Kenapa Airway Bill Krusial dalam Pengiriman Udara? Ini Faktanya

Apa Risikonya Jika Penjual Online Tidak Mendeklarasikan Dangerous Goods?

Banyak penjual mengirim barang tanpa menginformasikan bahwa produk tersebut termasuk dangerous goods. Padahal, hal ini dapat menimbulkan berbagai risiko selama proses pengiriman, seperti:

  • Barang ditolak oleh penyedia jasa logistik.
  • Pengiriman tertunda karena perlu pemeriksaan tambahan.
  • Barang berpotensi membahayakan pekerja, kendaraan, maupun barang lain dalam satu pengiriman.
  • Penjual terkena sanksi sesuai ketentuan penyedia jasa logistik atau regulasi yang berlaku.

Dengan memberitahukan jenis barang sejak awal membantu penyedia jasa logistik menentukan cara penanganan yang paling sesuai sehingga proses pengiriman bisa berjalan aman dan lancar.

Banyak orang baru menyadari sebuah barang termasuk dangerous goods ketika pengirimannya ditolak oleh penyedia jasa logistik. Padahal, kalau jenis barang dikenali sejak awal, proses pengemasan, pelabelan, hingga pengirimannya akan jauh lebih mudah untuk dipersiapkan. Cara ini membantu pengiriman berjalan lebih aman sekaligus mengurangi kendala yang sebenarnya bisa dihindari.

Agar pengelolaan pengiriman lebih terstruktur dan mudah dipantau, perusahaan dapat memanfaatkan solusi logistik yang terintegrasi. Forwarder.ai membantu bisnis mengelola pengiriman secara efisien dalam satu platform, mulai dari perencanaan hingga tracking kargo secara real-time.

Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik, cek rute, hingga cek biaya kirim sesuai kebutuhan bisnis Anda!

Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.

Feeling enlightened? Share this article to more people.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top