Home / Blog / Apa Itu Supply Chain, Proses, Fungsi, dan Contohnya
Apa itu Supply Chain, Proses, Fungsi, dan Contohnya

Apa Itu Supply Chain, Proses, Fungsi, dan Contohnya

Sebelum produk sampai ke tangan pelanggan, terdapat rangkaian proses panjang di belakangnya, mulai dari pengadaan bahan baku hingga distribusi ke pasar. Supply chain adalah keseluruhan rangkaian distribusi yang menghubungkan berbagai pihak dalam satu alur kerja. Di dalamnya terdapat banyak aktivitas, mulai dari produksi, penyimpanan, hingga pengiriman barang. Jika salah satu bagian terganggu, operasional bisnis bisa ikut terdampak.

Yuk, kita bahas selengkapnya dalam artikel berikut!

Pengertian Supply Chain dan Bedanya dengan Logistik

Apa itu Supply Chain, Proses, Fungsi, dan Contohnya (freepik)
Apa itu Supply Chain, Proses, Fungsi, dan Contohnya (freepik)

Supply chain adalah rangkaian aktivitas yang menghubungkan supplier, produsen, distributor, hingga konsumen dalam satu alur distribusi. Istilah ini juga dikenal sebagai rantai pasok. Aktivitas di dalam rantai pasok mencakup pengadaan bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga barang diterima konsumen. Berbeda dengan logistik yang lebih fokus pada penyimpanan dan pengiriman barang. Jadi, logistik adalah bagian dari supply chain, bukan keseluruhan prosesnya.

Baca lengkapnya di Logistik vs Supply Chain: Apa Bedanya & Kaitan Keduanya?

Komponen Utama Supply Chain

Rantai pasok terdiri dari beberapa komponen utama yang saling berhubungan satu sama lain:

Supplier dan Pengadaan Bahan Baku

Supplier menyediakan bahan baku yang kita butuhkan untuk proses produksi. Kualitas dan ketersediaan bahan baku sangat bergantung pada kinerja supplier. Jika pasokan tidak stabil, proses produksi bisa terganggu atau bahkan terhenti. Selain itu, keterlambatan pasokan juga bisa memengaruhi jadwal distribusi sehingga pemilihan supplier yang andal jadi langkah awal yang sangat menentukan dalam rantai pasok.

Manufaktur dan Produksi

Setelah bahan baku tersedia, proses produksi dimulai. Pada tahap ini, bahan baku diolah menjadi produk jadi atau setengah jadi, sesuai kebutuhan pasar. Kelancaran proses produksi berpengaruh besar terhadap biaya operasional dan ketepatan waktu pengiriman produk. Jika terjadi kesalahan produksi, dampaknya bisa berlanjut ke tahap distribusi.

Quality control perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan. Selain menjaga kualitas produk, langkah ini juga membantu mengurangi risiko retur, pemborosan bahan baku, dan gangguan pada proses lanjutan dalam rantai pasok.

Distribusi dan Pergudangan

Produk yang sudah selesai diproduksi biasanya disimpan sementara di gudang. Pengelolaan gudang yang baik membantu menjaga ketersediaan stok agar tetap bisa memenuhi permintaan. Selain itu, penyimpanan yang rapi memudahkan proses pengambilan barang saat akan dikirim. Setelahnya, barang perlu didistribusikan melalui jalur yang telah direncanakan agar dapat tiba di tujuan tepat waktu. Jika proses ini tidak dikelola secara optimal, perusahaan berisiko mengalami kelebihan atau kekurangan stok di beberapa titik.

Baca Juga: Warehouse Management System (WMS): Pengertian, Cara Kerja, dan Manfaatnya

Transportasi dan Pengiriman

Barang kemudian dikirim ke berbagai lokasi menggunakan moda transportasi yang sesuai. Pemilihan moda akan memengaruhi waktu tempuh dan ongkos kirim. Selain itu, perencanaan rute juga berperan dalam menjaga efisiensi distribusi. Kalau tidak terencana dengan baik, pengiriman bisa jadi lebih lama dan mahal. Oleh karena itu, pengelolaan transportasi yang tepat tidak hanya membantu menekan biaya logistik, tetapi juga memastikan produk sampai ke tujuan sesuai jadwal dan kebutuhan pelanggan.

Retailer dan End Consumer

Tahapan paling akhir adalah ketika barang sampai ke tangan konsumen. Retailer berperan sebagai perantara yang menjual produk ke pelanggan akhir. Pada titik ini, hasil dari seluruh proses supply chain mulai terlihat secara langsung. Jika seluruh proses berjalan lancar, produk akan sampai tepat waktu dalam kondisi baik. Sebaliknya, kalau ada masalah di tahap sebelumnya, dampaknya akan langsung terasa oleh pelanggan.

Cara Kerja Supply Chain dari Hulu ke Hilir

Supply chain bekerja melalui tiga alur utama yang berjalan secara bersamaan:

Alur Informasi

Alur informasi mengalir dua arah. Supplier perlu tahu berapa banyak bahan baku yang dibutuhkan, sementara retailer memberi tahu produsen tentang permintaan konsumen. Data seperti permintaan pasar, stok, dan jadwal pengiriman menjadi dasar pengambilan keputusan. Jika data tidak akurat, perusahaan bisa salah memperkirakan kuantitas produksi atau kebutuhan stok. Akibatnya, barang bisa menumpuk di gudang atau justru tidak tersedia saat permintaan meningkat. Komunikasi antarpihak juga sangat bergantung pada alur informasi ini. Semakin jelas informasinya, semakin mudah proses berjalan.

Alur Barang atau Material

Barang bergerak dari supplier ke tahap produksi, lalu ke gudang, dan akhirnya didistribusikan ke konsumen. Setiap perpindahan harus tercatat dengan baik agar tidak terjadi kesalahan. Kalau pencatatannya tidak rapi, risiko kehilangan barang atau selisih stok bisa meningkat. Alur barang terkontrol membantu menjaga ketersediaan produk dan proses distribusi juga menjadi lebih teratur.

Alur Keuangan

Setiap aktivitas dalam supply chain melibatkan transaksi keuangan, mulai dari pembayaran ke supplier hingga penerimaan dari pelanggan. Pengelolaan arus kas yang baik membantu menjaga perusahaan memenuhi berbagai kebutuhan operasional seperti pembelian bahan baku, biaya produksi, dan distribusi barang. Jika arus kas terganggu, operasional bisnis bisa terhambat. Oleh karena itu, setiap transaksi harus dicatat dan dipantau dengan baik agar kondisi keuangan tetap terkontrol.

Jenis-jenis Model Supply Chain

Tidak semua rantai pasok dirancang dengan cara yang sama. Berikut adalah beberapa model yang umum digunakan:

Supply Chain Tradisional

Model ini berjalan linear dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengutamakan stabilitas dan efisiensi biaya. Biasanya digunakan untuk produk yang tingkat permintaannya relatif stabil dan dapat diprediksi seperti barang kebutuhan sehari-hari (sabun, mi instan, atau minuman kemasan). Perusahaan yang menggunakan model ini biasanya punya relasi jangka panjang dengan pihak supplier dan jadwal produksi yang tetap. Perubahan atau gangguan dalam rantai pasok sering kali sulit diakomodasi karena sistemnya kaku dan kurang fleksibel.

Lean Supply Chain

Lean supply chain berfokus pada pengurangan pemborosan di setiap tahapan, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pengiriman ke pelanggan. Pemborosan yang dimaksud mencakup kelebihan stok, waktu tunggu yang tidak perlu, dan cacat produksi. Tujuan penerapan model ini adalah menekan biaya seminimal mungkin tanpa mengorbankan kualitas produk. Model ini sangat cocok untuk industri dengan volume produksi tinggi dan tidak memiliki banyak varian produk seperti industri otomotif di mana efisiensi biaya menjadi kunci daya saing.

Agile Supply Chain

Agile supply chain adalah model yang dirancang untuk merespons perubahan permintaan dengan cepat dan efektif. Model ini mengutamakan kecepatan dan fleksibilitas di atas efisiensi biaya, karena permintaan pasar sering berubah dan sulit diprediksi. Contoh industri yang cocok menggunakan model ini di antaranya fashion, barang musiman, atau produk dengan tren konsumen yang cepat berubah.

Perusahaan yang menggunakan model ini biasanya memiliki banyak supplier alternatif dan sistem produksi yang bisa diubah dengan cepat untuk menyesuaikan volume dan jenis produk. Namun, model ini membutuhkan biaya operasional yang lebih tinggi karena harus siap menghadapi ketidakpastian.

Responsive Supply Chain

Model ini merupakan kombinasi antara lean dan agile dengan tujuan memberikan respons cepat terhadap permintaan pelanggan sambil tetap menjaga efisiensi biaya. Responsive supply chain sering digunakan dalam industri retail. Perusahaan menggunakan data permintaan real-time untuk menyesuaikan produksi dan distribusi dengan cepat. Sistem model ini berorientasi pada kepuasan pelanggan. Dengan begitu, permintaan pelanggan bisa terpenuhi dengan akurat.

Digital Supply Chain

Digital supply chain memanfaatkan teknologi digital seperti IoT, AI, dan big data untuk meningkatkan visibilitas dan pengambilan keputusan. Semua data, mulai dari pasokan bahan baku hingga pengiriman ke pelanggan terintegrasi secara real-time dalam satu sistem sehingga perusahaan bisa mengantisipasi gangguan sebelum terjadi. Gangguan yang dimaksud seperti keterlambatan pengiriman dari supplier atau lonjakan permintaan yang tidak terduga. Penerapan model ini memang membutuhkan investasi yang cukup besar, tetapi manfaatnya dalam jangka panjang sangat besar.

Baca Juga: Pengertian Dokumen Logistik dalam Supply Chain

Mengapa Supply Chain Management (SCM) Penting?

Supply Chain Management (SCM) adalah proses mengelola aliran barang, informasi dan keuangan secara terintegrasi.

Tujuan SCM

SCM bertujuan memastikan seluruh proses berjalan efisien dan terkoordinasi. Dengan pengelolaan yang baik, biaya bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas. Selain itu, SCM membantu menjaga ketersediaan barang di pasar. Tanpa adanya SCM, koordinasi antarpihak bisa terganggu.

Ruang Lingkup SCM

Manajemen rantai pasok mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, hingga distribusi. Semua bagian saling terhubung dan tidak bisa berdiri sendiri. Koordinasi antartim menjadi hal yang penting agar setiap proses berjalan selaras. Mengingat ruang lingkup rantai pasok sangat luas, integrasi antar proses diperlukan untuk menjaga kelancaran operasional.

Indikator Kerja (KPI) Supply Chain

Untuk mengukur efektivitas rantai pasok, perusahaan menggunakan beberapa indikator kinerja utama:

  • On-Time Delivery Rate, merupakan persentase pengiriman yang sampai tepat waktu sesuai perjanjian.
  • Order Fill Rate, merupakan persentase pesanan yang dapat dipenuhi dari stok tersedia tanpa backorder untuk mengukur seberapa baik perusahaan menjaga ketersediaan produk.
  • Inventory Turnover, berkaitan dengan seberapa cepat stok barang terjual dan diganti dalam periode tertentu. Rasio tinggi menandakan efisiensi pengelolaan stok.
  • Cash-to-cash Cycle Time, merupakan jangka waktu dari pembayaran pemasok oleh perusahaan hingga penerimaan pembayaran dari pelanggan. Semakin pendek siklusnya, makin sehat arus kas suatu bisnis.
  • Supply Chain Cost as % of Revenue, merupakan total biaya rantai pasok dibandingkan dengan pendapatan. Semakin rendah persentasenya, makin efisien rantai pasok tersebut.

Tantangan Supply Chain di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan yang punya tantangannya tersendiri dalam pengelolaan rantai pasok, di antaranya:

Kendala Infrastruktur dan Konektivitas

Kerusakan jalan, padatnya pelabuhan, dan keterbatasan akses ke daerah terpencil. Selain itu, biaya logistik Indonesia mencapai 23–26% dari PDB, tertinggi di ASEAN.

Visibilitas Real-time

Banyak perusahaan masih kesulitan memantau posisi barang secara real-time, terutama di wilayah yang jaringan internetnya masih terbatas. Hal ini menyebabkan keterlambatan informasi dan lambatnya pengambilan keputusan.

Manajemen Risiko Rantai Pasok

Bencana alam, cuaca buruk, dan naik-turunnya harga BBM sering kali mengganggu kelancaran rantai pasok. Perusahaan perlu memiliki rencana cadangan untuk mengantisipasi kendala terkait di masa mendatang.

Bullwhip Effect

Bullwhip effect adalah fenomena di mana perubahan kecil di tingkat konsumen membesar di setiap tingkatan rantai pasok. Misalnya, penurunan pembelian konsumen sebesar 5% bisa menyebabkan distributor memesan produk 15% lebih sedikit, dan pabrik bisa memangkas produksi hingga 30%. Hal ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan pada setiap rantai, antara stok menumpuk atau justru kosong di berbagai titik.

Contoh Supply Chain dalam Berbagai Industri

Setiap industri punya karakteristik supply chain yang berbeda. Perbedaan ini dipengaruhi oleh jenis produk, pola permintaan, dan ekspektasi pelanggan. Berikut adalah beberapa contohnya dari berbagai industri:

Supply Chain FMCG

Produk FMCG terdiri dari barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun, mi instan, atau minuman. Karakteristiknya yaitu volumenya tinggi, margin tipis, dan tingkat permintaannya stabil. Fokusnya pada efisiensi biaya dan distribusi massal.

Supply Chain Manufaktur

Produk seperti mobil, elektronik, atau mesin industri melibatkan banyak komponen dari berbagai supplier. Fokusnya pada ketepatan waktu dan kualitas produk.

Supply Chain E-Commerce

Rantai pasok industri e-commerce punya karakteristik jumlah pesanan yang banyak, volume per pesanan kecil, dan pelanggan menuntut pengiriman cepat. Fokusnya pada kecepatan dan akurasi pemenuhan pesanan (fulfillment).

Supply Chain Farmasi (Cold Chain)

Cold chain terdiri dari produk seperti vaksin, obat-obatan, dan produk biologi. Produk farmasi membutuhkan suhu terkontrol sepanjang perjalanan, sehingga berfokus pada keamanan dan stabilitas suhu.

Digitalisasi Supply Chain

Teknologi punya peran penting dalam rantai pasok modern. Berikut adalah teknologi yang umum digunakan:

ERP dan WMS

ERP dan WMS adalah software yang mengintegrasikan seluruh data operasional perusahaan, mulai dari pembelian, produksi, gudang, hingga keuangan. ERP dan WMS menjadi fondasi digitalisasi rantai pasok.

TMS (Transportation Management System)

TMS menjadi software khusus untuk mengelola transportasi, mulai dari perencanaan rute, pemilihan carrier, hingga pelacakan armada.

Baca Juga: Transport Management System forwarder.ai, Solusi Logistik Lebih Efisien dan Transparan

IoT dan Tracking Real-time

Sensor GPS, RFID, dan IoT memungkinkan kamu untuk memantau posisi dan kondisi barang secara real-time. Khusus cold chain, sensor suhu dapat memberikan peringatan jika kenaikan suhu di atas batas.

AI dan Predictive Analytics

AI membantu memprediksi permintaan, mendeteksi potensi gangguan, dan mengoptimalkan rute pengiriman. Data historis dianalisis untuk memberikan rekomendasi yang lebih akurat.

Kenapa Supply Chain Bisa Terganggu?

Gangguan supply chain bisa terjadi karena berbagai faktor. Bencana alam seperti banjir atau gempa bumi bisa menghentikan pasokan dari supplier. Konflik geopolitik juga bisa menutup jalur perdagangan internasional. Pandemi seperti COVID-19 bisa menyebabkan penutupan pabrik dan pengurangan tenaga kerja. Keterlambatan pengiriman dari supplier, kerusakan barang di perjalanan, atau lonjakan permintaan tak terduga juga sering menjadi kendala rantai pasok.

Peran Freight Forwarder dalam Supply Chain

Freight forwarder membantu mengatur proses pengiriman barang. Mereka menangani dokumen, pemilihan moda, dan koordinasi distribusi. Peranan ini penting, terutama untuk pengiriman antarpulau atau negara. Supply chain adalah sistem yang melibatkan banyak pihak, termasuk freight forwarder di dalamnya. Dengan bantuan mereka proses distribusi lebih terstruktur.

Dengan menggunakan jasa forwarder, perusahaan bisa fokus pada lini bisnis lainnya tanpa harus repot mengurus detail logistik. Mereka akan membantu memilih moda transportasi yang tepat, menegosiasikan tarif yang kompetitif, dan memastikan barang sampai dengan selamat.

Supply chain adalah rangkaian proses yang menghubungkan pengadaan bahan baku hingga produk sampai ke konsumen. Setiap rantai saling terhubung dan tidak bisa berjalan sendiri. Ketika satu bagian terganggu, dampaknya bisa berpengaruh ke proses lainnya dalam rantai pasok. Oleh karena itu, penting bagi bisnis untuk mengelola rantai pasok dengan baik untuk menjaga kelancaran operasionalnya.

Agar pengelolaan pengiriman lebih terstruktur dan mudah dipantau, perusahaan dapat memanfaatkan solusi logistik yang terintegrasi. Forwarder.ai membantu bisnis mengelola pengiriman secara efisien dalam satu platform, mulai dari perencanaan hingga tracking kargo secara real-time.

Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik, cek rute, hingga cek biaya kirim sesuai kebutuhan bisnis Anda!

Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.

Feeling enlightened? Share this article to more people.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top