Satu truk kargo bisa melakukan beberapa perjalanan dari gudang dalam sehari, tetapi belum tentu mengangkut lebih banyak barang dibandingkan truk lainnya. Untuk mengukur frekuensi perjalanan tiap armada, perusahaan menggunakan data ritase.
Gampangnya, ritase adalah jumlah perjalanan angkut yang diselesaikan kendaraan dalam periode tertentu.
Angka ini membantu tim operasional memantau aktivitas armada serta mengevaluasi biaya pengiriman, meskipun banyaknya perjalanan bukan satu-satunya tolok ukur produktivitas.
Lalu, bagaimana cara menghitungnya dan apa kaitannya dengan produktivitas armada? Yuk, kita kupas tuntas dalam artikel ini!
Pengertian Ritase dalam Operasional Truk

Ritase adalah cara perusahaan menghitung frekuensi pengangkutan barang oleh truk. Jadi, satu kendaraan bisa mencatat beberapa perjalanan (rit) dalam sehari meskipun barang yang dibawa berbeda pada setiap perjalanan.
Tim logistik biasanya mencatat aktivitas tersebut melalui surat jalan atau laporan perjalanan kendaraan.
Catatan ini dapat membantu perusahaan memantau jumlah pengiriman, mengevaluasi aktivitas armada, dan mengatur jadwal operasional. Dengan membandingkan target dan realisasi perjalanan, tim logistik bisa mengetahui kendala yang menghambat aktivitas armada.
Baca juga: 9 Jenis Software Logistik untuk Bisnis Modern
Apa yang Dihitung sebagai Satu Rit?
Satu rit merujuk pada satu perjalanan angkut, tetapi batas penyelesaiannya bisa berbeda menurut sistem operasional. Sebagian perusahaan menghitung rit setelah barang sampai dan pengiriman selesai di tujuan.
Sementara itu, perusahaan lainnya menggunakan satu siklus pulang-pergi sehingga perjalanan baru dianggap selesai saat kendaraan kembali ke gudang. Pilih satu aturan yang jelas sebelum membandingkan kinerja antartruk.
Misalnya, truk mengantar barang dari Gudang A ke Toko B, lalu kembali tanpa muatan. Jika perusahaan menghitung rit berdasarkan pengiriman barang, perjalanan dari Gudang A ke Toko B tercatat sebagai satu rit.
Saat truk kembali ke gudang tanpa membawa barang, perjalanan tersebut tidak menambah jumlah ritase.
Cara Menghitung Ritase Harian, Mingguan, dan Bulanan
Cara menghitung ritase cukup sederhana, yaitu dengan menjumlahkan perjalanan angkut yang selesai dalam periode tertentu.
Misalnya, satu truk menyelesaikan tiga rit pada Senin, empat rit pada Selasa, dan dua rit pada Rabu. Artinya, total perjalanan selama tiga hari mencapai sembilan rit.
Ritase periode = total rit yang selesai selama periode tersebut
Rumus ini berlaku untuk ritase harian, mingguan, maupun bulanan. Perbedaannya hanya terletak pada periode pencatatan, yaitu satu hari untuk ritase harian atau akumulasi perjalanan selama satu minggu dan satu bulan.
Baca juga: Arti Lead Time dalam Logistik, Jenis, dan Cara Menghitungnya
Hubungan Ritase dengan Utilisasi Armada dan Biaya per Perjalanan
Ritase berkaitan dengan utilisasi armada, yaitu tingkat pemanfaatan waktu operasional dan kapasitas angkut kendaraan.
Truk dengan banyak rit memang terlihat lebih produktif, tetapi belum tentu mengangkut lebih banyak barang. Kamu juga perlu memeriksa jumlah muatan yang dibawa dalam satu rit, waktu kendaraan menganggur, serta perjalanan pulang tanpa barang.
Biaya per perjalanan dihitung dengan membagi total biaya operasional dengan jumlah rit pada periode yang sama. Perhitungannya mencakup BBM, tol, upah pengemudi, serta perawatan dan penyusutan kendaraan.
Untuk analisis yang lebih luas, perusahaan juga dapat menghubungkan frekuensi perjalanan dengan cost to serve per rute agar dapat melihat apakah jumlah rit sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk melayani pengiriman tersebut.
Kamu bisa membandingkan biaya pengiriman pada rute dan jenis muatan yang serupa agar hasil evaluasinya lebih akurat.
Faktor yang Membatasi Jumlah Ritase dalam Sehari
Jumlah rit dalam sehari bisa berbeda meskipun kendaraan mengangkut jenis barang yang sama. Kondisi rute serta kelancaran proses bongkar muat turut menentukan berapa banyak pengiriman yang dapat diselesaikan.
Berikut dua faktor utama yang memengaruhi ritase harian:
Jarak dan Kondisi Rute
Perjalanan jarak jauh membutuhkan waktu lebih lama sehingga truk biasanya hanya bisa menyelesaikan sedikit rit dalam sehari. Namun, kemacetan, akses jalan sempit, pembatasan waktu melintas bagi truk, dan kondisi cuaca juga memengaruhi durasi perjalanan.
Sebaliknya, rute pendek yang macet belum tentu memiliki waktu tempuh lebih cepat daripada perjalanan jarak jauh yang lancar. Gunakan catatan waktu tempuh aktual sebelum menetapkan target frekuensi perjalanan harian.
Waktu Tunggu, Loading, dan Unloading
Satu siklus pengangkutan tidak hanya terdiri atas waktu berkendara. Truk bisa mengantre di gudang, menunggu dokumen, memuat barang (loading), dan membongkarnya di tujuan (unloading).
Jika perjalanan membutuhkan satu jam sementara antrean dan bongkar muat memakan waktu dua jam, total keseluruhan prosesnya menjadi tiga jam.
Waktu tunggu yang panjang membuat truk lebih lama berada di gudang atau lokasi tujuan sebelum bisa menjalankan pengiriman berikutnya. Karena itu, efisiensi proses bongkar muat juga dapat memengaruhi jumlah rit yang mampu diselesaikan armada.
Akibatnya, jumlah perjalanan harian bisa berkurang meskipun jarak pengirimannya relatif dekat.
Mengapa Ritase Tinggi Belum Tentu Lebih Efisien?
Angka ritase yang tinggi belum tentu membuat pengiriman lebih efisien. Truk yang sering berangkat dengan muatan sedikit bisa menghabiskan lebih banyak BBM dan biaya tol.
Perjalanan pulang tanpa muatan juga dapat menambah biaya operasional karena truk tetap mengonsumsi BBM meskipun tidak membawa barang. Salah satu cara memanfaatkan perjalanan kembali adalah melalui backhaul atau muatan balik, selama rute, kapasitas, dan jadwal memungkinkan.
Untuk menilai efisiensinya, perusahaan perlu membandingkan jumlah rit dengan total barang terkirim, biaya per ton, dan durasi perjalanan. Dengan begitu, banyaknya perjalanan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan operasional.
Baca juga: Pahami Apa Itu Freight Cost, Cara Hitung, & Tips Menghematnya
Contoh Evaluasi Produktivitas Armada dengan Data Ritase
Misalnya, dua truk melayani rute dengan kondisi serupa selama satu hari. Berikut ilustrasi sederhana untuk membandingkan hasil kerja keduanya:
| Indikator | Truk A | Truk B |
|---|---|---|
| Rit selesai | 5 | 4 |
| Muatan rata-rata per rit | 2 ton | 3 ton |
| Total barang terkirim | 10 ton | 12 ton |
| Total biaya | Rp1.500.000 | Rp1.440.000 |
| Biaya per ton | Rp150.000 | Rp120.000 |
Truk A memiliki ritase lebih tinggi, tetapi Truk B justru mengirim lebih banyak barang dengan biaya per ton lebih rendah.
Penilaian ini tetap mengasumsikan kapasitas kendaraan, rute, dan waktu kerja yang sebanding. Artinya, satu angka perjalanan tidak cukup untuk menyimpulkan armada mana yang lebih efisien.
Dalam evaluasi produktivitas armada, ritase adalah salah satu acuan untuk mengukur frekuensi pengangkutan barang. Truk yang mampu menyelesaikan banyak perjalanan memang terlihat lebih produktif, tetapi hasil kerjanya tetap bergantung pada jumlah muatan dan biaya yang dikeluarkan.
Perusahaan tidak harus menambah jumlah rit untuk meningkatkan produktivitas armada. Memaksimalkan muatan dan mengurangi perjalanan kosong juga bisa membantu mengangkut lebih banyak barang dengan jumlah perjalanan yang sama.
Agar pengelolaan pengiriman lebih terstruktur dan mudah dipantau, perusahaan dapat memanfaatkan solusi logistik yang terintegrasi. Forwarder.ai membantu bisnis mengelola pengiriman secara efisien dalam satu platform, mulai dari perencanaan hingga tracking kargo secara real-time.
Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik, cek rute, hingga cek biaya kirim sesuai kebutuhan bisnismu!
Kirim Barang Tanpa Ribet. Semua Bisa dari Satu Platform!
Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.




