Supply chain forecasting adalah proses memperkirakan kebutuhan dan kondisi rantai pasok di masa mendatang berdasarkan data historis, tren, serta faktor lain yang memengaruhi operasional bisnis. Perkiraan ini membantu perusahaan merencanakan kebutuhan persediaan, pengadaan bahan baku, kapasitas produksi, hingga distribusi barang.
Salah satu bagian penting dalam proses tersebut adalah demand forecasting, yaitu perkiraan permintaan pelanggan terhadap produk atau layanan. Mari pelajari supply chain forecasting lebih dalam di artikel ini.
Apa Itu Supply Chain Forecasting?
Supply chain forecasting atau peramalan rantai pasok adalah proses menggunakan data dan analisis untuk memperkirakan kebutuhan serta kondisi yang akan memengaruhi aktivitas rantai pasok. Hasilnya digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan terkait pengadaan, persediaan, produksi, dan distribusi.
Informasi yang diperkirakan dapat mencakup permintaan pelanggan, kebutuhan bahan baku, tingkat persediaan, waktu pengadaan (lead time), dan kapasitas pasokan. Dengan perkiraan tersebut, perusahaan dapat mengantisipasi kebutuhan operasional sebelum masalah muncul.
Supply chain forecasting berkaitan erat dengan supply chain management (SCM), yaitu pengelolaan aliran barang, informasi, dan sumber daya dari pemasok hingga pelanggan akhir. Forecasting membantu proses SCM dengan menyediakan gambaran mengenai kebutuhan dan kondisi yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Perlu dipahami bahwa forecasting berbeda dari planning. Forecasting menghasilkan perkiraan berdasarkan data dan asumsi, sedangkan planning menggunakan perkiraan tersebut untuk menentukan tindakan, seperti berapa banyak barang yang perlu dipesan atau kapan produksi harus dimulai.
Apa Manfaat Supply Chain Forecasting bagi Bisnis?
Supply chain forecasting memberikan sejumlah manfaat bagi perusahaan, terutama dalam perencanaan dan pengendalian operasional.
- Mengoptimalkan persediaan: Perkiraan kebutuhan yang lebih baik membantu perusahaan menentukan jumlah stok yang sesuai dan mengurangi risiko kelebihan atau kekurangan persediaan.
- Meningkatkan akurasi pengadaan: Perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku dan merencanakan waktu pemesanan berdasarkan permintaan serta lead time pemasok.
- Mendukung perencanaan produksi: Forecast membantu perusahaan menyesuaikan volume produksi dengan perkiraan permintaan dan kapasitas yang tersedia.
- Meningkatkan efisiensi distribusi: Perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan kapasitas pengiriman, tenaga kerja, dan sumber daya logistik.
- Mengendalikan biaya operasional: Perencanaan yang lebih baik dapat mengurangi biaya penyimpanan berlebih, pengadaan mendesak, dan penggunaan kapasitas yang tidak optimal.
- Meningkatkan layanan pelanggan: Ketersediaan produk dan kesiapan pemenuhan pesanan membantu perusahaan melayani pelanggan secara lebih konsisten.
Apa Saja Metode Supply Chain Forecasting?
Pemilihan metode supply chain forecasting perlu mempertimbangkan tujuan perkiraan, ketersediaan data, pola permintaan, dan jangka waktu yang ingin diprediksi. Tidak ada satu metode yang selalu paling akurat untuk semua kondisi bisnis.
Berikut ini beberapa metode yang umum digunakan adalah:
1. Qualitative forecasting
Qualitative forecasting adalah metode peramalan yang mengandalkan penilaian ahli, pengalaman tim, wawancara pelanggan, atau informasi pasar. Metode ini berguna ketika data historis belum tersedia atau tidak cukup untuk menghasilkan perkiraan yang andal.
Contohnya adalah perusahaan yang baru meluncurkan produk dan belum memiliki riwayat penjualan. Tim dapat memperkirakan permintaan berdasarkan riset pasar, masukan distributor, dan penilaian tenaga penjualan.
2. Time series forecasting
Time series forecasting menggunakan data historis yang tersusun berdasarkan waktu untuk memperkirakan nilai pada periode berikutnya. Metode ini dapat membantu mengenali pola tren, musiman, dan variasi yang berulang dalam data.
Dua pendekatan yang umum digunakan adalah moving average dan exponential smoothing. Moving average menggunakan rata-rata dari sejumlah periode sebelumnya, sedangkan exponential smoothing memberikan bobot lebih besar pada data terbaru sesuai parameter yang digunakan.
Metode ini cocok ketika perusahaan memiliki data historis yang relevan dan pola sebelumnya masih dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi mendatang. Namun, hasilnya perlu ditinjau ketika terjadi perubahan besar pada pasar atau operasional.
3. Causal forecasting
Causal forecasting memperkirakan suatu kondisi berdasarkan hubungan antara variabel yang diprediksi dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Dalam demand forecasting, faktor tersebut dapat berupa harga, promosi, kondisi ekonomi, atau variabel lain yang relevan.
Sebagai contoh, perusahaan dapat menganalisis hubungan antara promosi dan peningkatan permintaan untuk memperkirakan kebutuhan stok pada periode promosi berikutnya.
4. Machine learning forecasting
Machine learning forecasting memanfaatkan algoritma untuk mempelajari pola dari data historis dan variabel terkait. Metode ini dapat digunakan untuk menganalisis data dalam jumlah besar atau pola yang kompleks, misalnya ketika permintaan dipengaruhi oleh berbagai faktor sekaligus.
Bagaimana Cara Melakukan Supply Chain Forecasting?
Penerapan supply chain forecasting memerlukan proses yang terstruktur agar hasil perkiraan dapat digunakan untuk mendukung keputusan operasional.
1. Tentukan tujuan dan horizon forecasting
Langkah pertama adalah menentukan tujuan perkiraan. Tentukan dulu apakah forecast digunakan untuk memperkirakan permintaan, merencanakan pembelian bahan baku, mengatur persediaan, atau menentukan kapasitas produksi.
Selanjutnya, tentukan forecasting horizon atau periode yang ingin diperkirakan. Perkiraan jangka pendek dapat digunakan untuk kebutuhan operasional harian atau mingguan, sedangkan perkiraan jangka panjang dapat mendukung perencanaan kapasitas dan strategi bisnis.
2. Kumpulkan dan menyiapkan data
Kumpulkan data yang relevan, seperti:
- Riwayat penjualan
- Pesanan pelanggan
- Tingkat persediaan
- Lead time pemasok
- Riwayat pengiriman
Jika diperlukan, tambahkan informasi mengenai promosi, musim, atau perubahan pasar. Pastikan data yang digunakan akurat dan konsisten. Data duplikat, pencatatan yang tidak lengkap, serta perbedaan satuan dapat mengganggu hasil perkiraan.
Perusahaan juga perlu memeriksa kejadian tidak biasa, seperti gangguan pasokan atau promosi besar. Kejadian tersebut perlu dianalisis agar tidak disalahartikan sebagai pola permintaan normal.
3. Pilih metode forecasting yang sesuai
Pilih metode berdasarkan tujuan dan karakteristik data. Jika data historis terbatas, pendekatan kualitatif dapat membantu. Jika tersedia data historis yang cukup dan memiliki pola waktu, metode time series dapat menjadi pilihan.
Jika memungkinkan, bandingkan beberapa metode menggunakan data pengujian yang tidak digunakan untuk membangun model. Cara ini membantu perusahaan memilih pendekatan yang memberikan hasil paling sesuai untuk kebutuhan bisnis.
4. Evaluasi akurasi hasil perkiraan
Setelah menghasilkan forecast (perkiraan), bandingkan nilainya dengan data aktual untuk mengetahui tingkat kesalahannya. Evaluasi ini penting karena perkiraan yang terlihat masuk akal belum tentu cukup akurat untuk mendukung keputusan operasional.
Beberapa metrik yang dapat digunakan adalah:
- MAE (Mean Absolute Error): mengukur rata-rata selisih absolut antara nilai perkiraan dan nilai aktual.
- RMSE (Root Mean Squared Error): mengukur besarnya kesalahan dengan memberikan penalti lebih besar pada kesalahan yang besar.
- MAPE (Mean Absolute Percentage Error): mengukur rata-rata kesalahan absolut dalam bentuk persentase, tetapi dapat bermasalah ketika nilai aktual nol atau mendekati nol.
Pemilihan metrik perlu disesuaikan dengan data dan tujuan evaluasi. Perusahaan juga sebaiknya memeriksa apakah forecast cenderung terlalu tinggi atau terlalu rendah, bukan hanya melihat satu nilai akurasi secara keseluruhan.
5. Integrasikan hasil forecasting ke dalam operasional
Forecast baru memberikan manfaat ketika digunakan dalam pengambilan keputusan. Hasil perkiraan dapat menjadi dasar untuk menyusun jadwal pembelian, menentukan target persediaan, merencanakan produksi, dan menyiapkan kapasitas distribusi.
Koordinasikan hasilnya dengan tim penjualan, pengadaan, gudang, produksi, dan logistik. Setiap tim dapat memberikan informasi tambahan yang belum tercermin dalam data historis, seperti perubahan promosi, keterlambatan pemasok, atau keterbatasan kapasitas.
Perbarui forecast ketika muncul data baru atau kondisi bisnis berubah. Dengan demikian, perkiraan tetap relevan dan dapat digunakan sebagai bagian dari proses perencanaan yang berkelanjutan.
Sudah Paham Apa Itu Supply Chain Forecasting?
Supply chain forecasting adalah proses memperkirakan kebutuhan dan kondisi rantai pasok di masa mendatang untuk mendukung keputusan pengadaan, persediaan, produksi, dan distribusi. Salah satu komponennya adalah demand forecasting, yang berfokus pada perkiraan permintaan pelanggan.
Metode yang dapat digunakan meliputi qualitative forecasting, time series forecasting, causal forecasting, dan machine learning forecasting. Pemilihannya perlu mempertimbangkan tujuan bisnis, karakteristik data, dan kebutuhan operasional.
Dengan proses yang terstruktur, supply chain forecasting dapat membantu bisnis merencanakan sumber daya secara lebih efektif dan menjaga kelancaran rantai pasok.


