Distribusi barang ke beberapa kota sekaligus membutuhkan perencanaan rute dan pemilihan kendaraan yang sesuai dengan volume muatan. Jumlah barang untuk setiap tujuan pun belum tentu sama sehingga kebutuhan angkut pada tiap rute bisa berbeda.
Salah satu cara mengatur distribusi logistik tersebut adalah menggunakan sistem hub and spoke, yaitu jaringan yang mengumpulkan muatan di titik tertentu sebelum meneruskannya ke berbagai tujuan. Model ini memungkinkan perusahaan menggabungkan muatan dari atau menuju beberapa lokasi agar kapasitas armada pada jalur tertentu dapat dimanfaatkan lebih efisien.
Namun, penggabungan muatan juga menambah proses transit dan penanganan barang. Karena itu, hub and spoke tidak selalu lebih baik daripada pengiriman langsung.
Bagaimana cara kerjanya dan kapan sistem ini lebih menguntungkan daripada distribusi point-to-point? Yuk, kita bahas selengkapnya dalam artikel ini!
Apa Itu Hub and Spoke dalam Logistik?

Hub and spoke adalah model jaringan logistik yang menggunakan satu atau beberapa titik pusat untuk mengumpulkan, menyortir, dan mendistribusikan barang. Titik pusat tersebut disebut hub, sedangkan spoke merupakan jalur yang menghubungkan hub dengan lokasi lain dalam jaringan.
Barang dari beberapa titik dapat dibawa menuju hub, dikelompokkan berdasarkan tujuan atau rute berikutnya, kemudian diteruskan menggunakan kendaraan yang sesuai. Dengan skema ini, perusahaan tidak harus mengoperasikan perjalanan langsung yang terpisah untuk setiap kombinasi asal dan tujuan.
Model tersebut dapat diterapkan pada berbagai moda transportasi. Pada distribusi darat, hub dapat menghubungkan beberapa gudang atau kota tujuan melalui jaringan truk. Dalam pelayaran, pelabuhan tertentu juga dapat berfungsi sebagai titik pusat yang terhubung dengan pelabuhan lain melalui kapal feeder.
Baca juga: Definisi Transportasi Logistik dan Jenisnya
Bagaimana Barang Bergerak dari Gudang Asal ke Hub dan Lokasi Tujuan?
Dalam jaringan hub and spoke, barang tidak selalu bergerak langsung dari gudang asal menuju kota tujuan. Pengiriman dapat melalui tahap pengumpulan, konsolidasi, penyortiran, dan pemindahan ke kendaraan berikutnya.
Alurnya bergantung pada lokasi asal, tujuan barang, volume muatan, rute lanjutan, serta jadwal kendaraan yang tersedia.
Pengumpulan dan Penggabungan Muatan di Hub Utama
Barang dari beberapa gudang atau lokasi pengambilan terlebih dahulu dikirim menuju hub. Setelah tiba, muatan diperiksa dan dikelompokkan berdasarkan kota tujuan atau rute pengiriman berikutnya.
Barang yang dapat menggunakan jalur yang sama kemudian dikonsolidasikan ke kendaraan lanjutan. Prinsip serupa juga dapat ditemukan pada pengiriman Less Than Truck Load (LTL), yang memanfaatkan kapasitas truk untuk membawa beberapa muatan sekaligus.
Konsolidasi dapat membantu meningkatkan tingkat keterisian kendaraan ketika volume dari masing-masing titik belum cukup untuk menggunakan armada secara terpisah.
Pemindahan Barang ke Jalur Lanjutan Menuju Kota Tujuan
Setelah proses pengelompokan selesai, muatan dipisahkan berdasarkan kota atau wilayah tujuan. Barang kemudian dimuat ke kendaraan yang melayani rute berikutnya dan berangkat sesuai jadwal distribusi.
Koordinasi jadwal menjadi penting pada tahap ini. Jika kendaraan lanjutan baru berangkat beberapa jam setelah barang tiba, waktu tunggu tersebut ikut menambah total durasi pengiriman.
Fasilitas dengan aliran barang yang cepat juga dapat menggunakan pendekatan cross docking, yaitu memindahkan barang dari kendaraan masuk menuju kendaraan keluar tanpa penyimpanan dalam waktu lama. Namun, cross docking merupakan metode operasional fasilitas dan tidak sama dengan konsep jaringan hub and spoke secara keseluruhan.
Baca juga: Mengenal Cross Docking, Jenis, & Kapan Harus Menggunakannya
Perbedaan Hub and Spoke dengan Point-to-Point
Selain hub and spoke, perusahaan dapat menggunakan model point-to-point, yaitu mengirim barang langsung dari titik asal menuju lokasi tujuan tanpa melewati titik konsolidasi dalam jaringan.
Perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut:
| Aspek | Hub and Spoke | Point-to-Point |
|---|---|---|
| Alur distribusi | Barang melewati titik konsolidasi sebelum melanjutkan perjalanan | Barang bergerak langsung dari asal menuju tujuan |
| Penggabungan muatan | Muatan dari beberapa pengiriman dapat digabungkan pada jalur tertentu | Muatan dikirim melalui rute langsung menuju tujuan masing-masing |
| Biaya transportasi | Berpotensi menekan biaya per unit jika konsolidasi meningkatkan tingkat keterisian kendaraan | Bergantung pada jarak, volume, dan kebutuhan kendaraan pada setiap rute |
| Waktu pengiriman | Dapat memiliki waktu transit dan menunggu kendaraan lanjutan | Tidak membutuhkan proses konsolidasi di hub |
| Penanganan barang | Dapat memerlukan penyortiran dan pemindahan tambahan | Jumlah perpindahan barang selama perjalanan cenderung lebih sedikit |
Tidak ada model yang selalu paling efisien untuk semua pengiriman. Hub and spoke dapat menguntungkan ketika konsolidasi mampu meningkatkan utilisasi armada, sedangkan point-to-point dapat lebih praktis ketika volume ke satu tujuan sudah besar atau target waktu pengiriman tidak memungkinkan adanya transit tambahan.
Kapan Penggabungan Muatan di Hub Lebih Menguntungkan?
Pilihan antara penggabungan muatan dan pengiriman langsung bergantung pada volume barang untuk setiap tujuan, tingkat keterisian kendaraan, frekuensi keberangkatan, serta target waktu tiba.
Pengaruh Volume Per Kota dan Tingkat Keterisian Kendaraan
Jumlah barang yang dikirim ke setiap kota memengaruhi seberapa banyak kapasitas kendaraan yang dapat digunakan. Sebagai ilustrasi, perusahaan memiliki truk dengan kapasitas 10 ton dan perlu mengirim barang ke beberapa kota.
- Volume per kota relatif kecil: muatan 2 ton ke Solo, 3 ton ke Yogyakarta, dan 4 ton ke Semarang menghasilkan total 9 ton. Jika jaringan, jadwal, dan lokasi hub mendukung, sebagian perjalanan dapat dikonsolidasikan sebelum muatan dipisahkan menuju tujuan berikutnya.
- Volume ke satu kota sudah besar: jika muatan menuju satu tujuan sudah mendekati atau memenuhi kapasitas kendaraan, pengiriman langsung dapat lebih sederhana karena tidak memerlukan konsolidasi dan pemindahan tambahan.
Artinya, tingkat keterisian kendaraan memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Penghematan perjalanan utama tetap perlu dibandingkan dengan biaya kendaraan lanjutan, penanganan di hub, dan tambahan waktu transit.
Pengaruh Frekuensi Keberangkatan dan Target Waktu Tiba
Frekuensi kendaraan lanjutan ikut menentukan berapa lama barang berada di titik transit.
- Jadwal keberangkatan berdekatan: barang dapat segera melanjutkan perjalanan setelah proses konsolidasi dan penyortiran selesai.
- Jeda keberangkatan panjang: barang yang tiba pukul 10.00 tetapi kendaraan berikutnya baru berangkat pukul 20.00 memiliki waktu tunggu sekitar 10 jam. Pengiriman langsung dapat dipertimbangkan apabila tambahan waktu tersebut membuat target pengiriman tidak tercapai.
Karena itu, efisiensi jaringan tidak cukup dinilai dari jumlah kendaraan yang digunakan. Total waktu dari barang berangkat hingga tiba di tujuan tetap perlu dihitung.
Bagaimana Jumlah dan Lokasi Hub Memengaruhi Jarak dan Biaya?
Jumlah dan lokasi titik konsolidasi memengaruhi jarak tempuh sekaligus biaya penanganan barang. Terlalu banyak hub dapat menambah aktivitas bongkar muat, penyortiran, dan pemindahan kargo. Sebaliknya, jumlah hub yang terlalu sedikit dapat membuat perjalanan dari titik asal atau menuju tujuan menjadi lebih panjang.
Penentuan lokasi sebaiknya mempertimbangkan sebaran volume pengiriman, akses jalan, kedekatan dengan pasar atau titik produksi, kapasitas fasilitas, dan koneksi dengan rute utama.
Perusahaan juga perlu menghitung freight cost secara menyeluruh. Penghematan pada perjalanan utama belum tentu membuat total biaya lebih rendah apabila proses transit membutuhkan terlalu banyak penanganan atau perjalanan tambahan.
Baca juga: Cara Menurunkan Biaya Logistik Secara Efisien
Risiko Keterlambatan dan Kerusakan saat Barang Berpindah di Hub
Setiap perpindahan menambah aktivitas penanganan barang selama perjalanan. Semakin sering muatan dibongkar, disortir, atau dipindahkan ke kendaraan lain, semakin banyak pula titik proses yang perlu dikelola.
Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
- Keterlambatan pengiriman akibat antrean bongkar muat, proses penyortiran, atau kendaraan lanjutan yang belum tersedia.
- Kerusakan barang saat muatan dibongkar, dipindahkan, atau dimuat kembali.
- Kesalahan penyortiran yang membuat barang masuk ke kendaraan atau rute yang tidak sesuai.
- Gangguan pada satu hub yang dapat memengaruhi beberapa rute sekaligus karena fasilitas tersebut menjadi titik penghubung jaringan.
Risiko tersebut dapat dikurangi dengan menyelaraskan jadwal kedatangan dan keberangkatan, memastikan kemasan sesuai dengan karakter barang, mencatat setiap perpindahan muatan, serta menjaga visibilitas status pengiriman.
Mengukur Efisiensi Jaringan Hub and Spoke
Efisiensi jaringan hub and spoke sebaiknya tidak dinilai hanya berdasarkan jumlah barang yang berhasil digabungkan. Perusahaan perlu melihat apakah konsolidasi benar-benar menghasilkan perbaikan biaya dan layanan.
Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:
- Utilisasi kapasitas kendaraan menunjukkan seberapa besar kapasitas angkut yang digunakan dibandingkan kapasitas tersedia.
- Biaya per unit pengiriman membandingkan total biaya transportasi dan penanganan dengan jumlah, volume, atau berat barang yang dikirim.
- Waktu transit di hub menunjukkan berapa lama barang menunggu sebelum melanjutkan perjalanan.
- Ketepatan pengiriman mengukur seberapa banyak barang yang tiba sesuai target waktu.
- Tingkat kerusakan atau kesalahan penyortiran membantu mengevaluasi dampak proses penanganan tambahan terhadap kualitas layanan.
Peningkatan utilisasi idealnya disertai penurunan biaya per unit tanpa mengorbankan ketepatan waktu maupun kondisi barang. Jika kendaraan lebih penuh tetapi biaya penanganan meningkat tajam atau barang lebih sering terlambat, konsolidasi belum tentu menghasilkan efisiensi secara keseluruhan.
Baca juga: Pengiriman Sering Telat? Coba Strategi Last Mile Delivery Ini!
Contoh Perbandingan Pengiriman Antarkota melalui Hub dan Rute Langsung
Sebagai ilustrasi sederhana, sebuah perusahaan di Jakarta perlu mengirim 4 ton barang ke Semarang, 3 ton ke Solo, dan 2 ton ke Yogyakarta. Total muatan mencapai 9 ton, sementara kendaraan untuk perjalanan utama memiliki kapasitas 10 ton.
Contoh berikut hanya menggambarkan perbedaan alur. Pilihan rute yang paling efisien dalam operasional nyata tetap perlu dihitung berdasarkan jarak, lokasi hub, biaya kendaraan, jadwal keberangkatan, dan kondisi jaringan aktual.
| Aspek | Pengiriman Langsung | Pengiriman melalui Hub |
|---|---|---|
| Alur | Jakarta → Semarang Jakarta → Solo Jakarta → Yogyakarta | Muatan dibawa bersama menuju hub yang ditentukan, kemudian dipisahkan ke rute Semarang, Solo, dan Yogyakarta sesuai desain jaringan |
| Perjalanan utama | Menggunakan perjalanan terpisah untuk setiap tujuan | Muatan dapat dikonsolidasikan pada sebagian jalur utama |
| Pemindahan barang | Tidak melalui proses konsolidasi di hub | Muatan perlu disortir dan dipindahkan ke kendaraan lanjutan sesuai tujuan |
| Hal yang diperhitungkan | Biaya kendaraan, jarak, kapasitas, dan waktu pada setiap rute | Biaya perjalanan utama, kendaraan lanjutan, penanganan, waktu transit, dan tingkat keterisian kendaraan |
Hub and spoke dapat menjadi pilihan untuk distribusi antarkota ketika perusahaan perlu mengatur pengiriman ke beberapa tujuan sekaligus dan konsolidasi mampu meningkatkan pemanfaatan kapasitas kendaraan. Namun, model ini juga menambah aktivitas penyortiran, pemindahan barang, dan waktu transit.
Karena itu, setiap rute tidak harus menggunakan skema yang sama. Perusahaan dapat mengonsolidasikan muatan pada jalur yang volumenya masih kecil, sekaligus menggunakan pengiriman langsung untuk tujuan yang volumenya sudah cukup besar atau membutuhkan waktu tiba lebih cepat.
Agar pengelolaan pengiriman lebih terstruktur dan mudah dipantau, perusahaan dapat memanfaatkan solusi logistik yang terintegrasi. Forwarder.ai membantu bisnis mengelola pengiriman secara efisien dalam satu platform, mulai dari perencanaan hingga tracking kargo secara real-time.
Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik, cek rute, hingga cek biaya kirim sesuai kebutuhan bisnismu!
Kirim Barang Tanpa Ribet. Semua Bisa dari Satu Platform!
Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.



