Home / Blog / Mengenal Minimum Order Quantity (MOQ), Fungsi, & Cara Hitungnya
ilustrasi minimum order quantity

Mengenal Minimum Order Quantity (MOQ), Fungsi, & Cara Hitungnya

Minimum Order Quantity (MOQ) adalah batas pembelian minimum dari suatu barang yang sudah ditetapkan oleh supplier atau manufacturer. MOQ penting diperhatikan karena dapat memengaruhi biaya pembelian, inventory, kebutuhan warehouse, hingga biaya logistik.

Dalam perdagangan internasional, MOQ juga dapat berkaitan dengan efisiensi pengiriman dan penggunaan kapasitas container. Karena itu, memahami cara menentukan MOQ dapat membantu perusahaan menghindari pembelian berlebihan sekaligus menjaga efisiensi biaya.

Mari pahami lebih dalam MOQ beserta cara hitungnya di artikel ini!

Apa Itu Minimum Order Quantity (MOQ)?

Minimum Order Quantity (MOQ) adalah jumlah minimum barang yang harus dipesan oleh buyer dalam satu transaksi sesuai ketentuan supplier atau manufacturer. Jumlah minimum ini sifatnya tidak fleksibel, sehingga tidak bisa lagi ditawar di bawah angka yang sudah ditetapkan.

Misalnya, supplier menetapkan MOQ sebanyak 100 unit untuk suatu produk. Artinya, buyer perlu membeli setidaknya 100 unit dalam satu order. Buyer dapat memesan 100, 200, atau 500 unit, tetapi tidak dapat melakukan pemesanan hanya 50 unit jika supplier menerapkan MOQ tersebut.

Penetapan MOQ ini untuk menjaga efisiensi produksi, pengadaan bahan baku, packaging, hingga proses pengiriman. Produksi dalam jumlah terlalu kecil dapat membuat biaya setup dan operasional per unit menjadi lebih tinggi. Ini bisa menyebabkan rusaknya margin keuntungan supplier atau bahkan merugi.

MOQ juga berkaitan dengan kebutuhan inventory management dari sisi buyer. Jika MOQ terlalu tinggi dibandingkan permintaan, buyer dapat memiliki stok berlebih yang membutuhkan ruang penyimpanan dan meningkatkan inventory holding cost.

Dalam transaksi ekspor, MOQ juga dapat dinyatakan dalam berbagai satuan sesuai karakteristik barang, seperti unit, carton, pallet, kilogram, ton, atau CBM. Contohnya, supplier menetapkan MOQ 1 pallet untuk produk tertentu. Buyer internasional harus membeli minimal satu pallet, tetapi tidak berarti order tersebut harus memenuhi satu container penuh. Jika volumenya belum cukup untuk FCL, cargo dapat dikirim menggunakan LCL atau dikonsolidasikan dengan cargo lainnya.

Apa Fungsi MOQ dalam Logistik dan Supply Chain?

Adanya MOQ memiliki beberapa fungsi bagi supplier maupun buyer, di antaranya:

1. Mengontrol biaya produksi

Supplier dapat menentukan MOQ berdasarkan biaya setup mesin, bahan baku, tenaga kerja, dan proses produksi. Produksi dalam batch yang lebih besar dapat membuat biaya tetap tersebar ke lebih banyak unit.

2. Meningkatkan efisiensi proses pengadaan

MOQ membantu supplier menghindari terlalu banyak pesanan dengan quantity kecil yang membutuhkan proses administrasi dan produksi berulang. Bagi buyer, memahami MOQ juga membantu menyusun purchasing plan dan menentukan jumlah pembelian yang lebih sesuai.

3. Menjaga efisiensi pengiriman

Jumlah order dapat memengaruhi efisiensi penggunaan kendaraan, pallet, dan container. Order yang terlalu kecil mungkin membuat biaya transportasi per unit menjadi tinggi.

Dalam perdagangan internasional, buyer juga perlu mempertimbangkan apakah quantity yang dipesan dapat memanfaatkan kapasitas FCL, LCL, pallet, atau moda transportasi lainnya secara efisien.

4. Membantu supplier mengelola inventory dan produksi

MOQ memungkinkan supplier merencanakan kebutuhan bahan baku dan kapasitas produksi berdasarkan volume order minimum yang telah ditentukan.

5. Mengoptimalkan biaya per unit

Ketika produksi dilakukan dalam jumlah tertentu, biaya tetap seperti setup produksi dapat dibagi ke lebih banyak unit sehingga biaya rata-rata per unit dapat lebih rendah.

6. Membantu perencanaan inventory pembeli

Buyer dapat menggunakan informasi MOQ sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan jumlah pembelian dan kebutuhan storage.

Namun, MOQ yang besar tidak selalu menguntungkan. Jika permintaan rendah, pembelian dalam jumlah besar dapat menyebabkan overstock, slow-moving inventory, atau bahkan dead stock.

Bagaimana Cara Menentukan MOQ?

Tidak ada satu rumus MOQ yang berlaku untuk semua bisnis. Jumlah minimum order perlu disesuaikan dengan struktur biaya, kapasitas produksi, permintaan, dan kondisi supply chain.

Beberapa langkah yang dapat kamu gunakan untuk menentukan MOQ adalah:

  1. Tentukan biaya produksi per batch. Hitung biaya bahan baku, tenaga kerja, setup mesin, packaging, dan biaya produksi lainnya.
  2. Hitung biaya tetap setiap kali produksi dilakukan. Semakin kecil batch produksi, semakin besar kemungkinan biaya tetap per unit menjadi tinggi.
  3. Perkirakan volume permintaan. Gunakan historical sales atau demand forecast untuk mengetahui berapa banyak produk yang kemungkinan akan dibutuhkan.
  4. Pertimbangkan kapasitas produksi. MOQ perlu disesuaikan dengan kemampuan supplier dalam menghasilkan barang dalam satu batch.
  5. Hitung biaya penyimpanan. Pastikan quantity minimum tidak menyebabkan buyer harus menanggung inventory holding cost yang terlalu tinggi.
  6. Pertimbangkan biaya logistik. Freight, trucking, handling, dan biaya pengiriman lainnya dapat memengaruhi jumlah order yang paling efisien.
  7. Tentukan jumlah minimum yang tetap ekonomis. MOQ idealnya dapat menjaga efisiensi produksi dan distribusi tanpa membuat buyer menyimpan inventory secara berlebihan.

Rumus dan Contoh Perhitungan MOQ

Secara umum, MOQ tidak memiliki formula tunggal karena setiap supplier memiliki struktur biaya dan tujuan yang berbeda. Namun, salah satu pendekatan sederhana yang dapat digunakan adalah berdasarkan batas biaya produksi tetap per unit.

Misalnya:

  • Biaya setup produksi per batch = Rp2.000.000
  • Batas biaya setup yang dapat dialokasikan = Rp10.000 per unit

Maka:

MOQ = Biaya setup produksi ÷ Biaya setup maksimum per unit

MOQ = Rp2.000.000 ÷ Rp10.000 = 200 unit

Dengan pendekatan tersebut, supplier membutuhkan setidaknya 200 unit dalam satu batch agar biaya setup tidak melebihi Rp10.000 per unit.

Namun, angka tersebut belum tentu menjadi MOQ final. Supplier masih perlu mempertimbangkan demand, kapasitas produksi, harga bahan baku, storage, lead time, serta biaya logistik.

Dari sisi buyer, perhitungan juga perlu melihat apakah 200 unit sesuai dengan kebutuhan inventory. Jika rata-rata penjualan hanya 50 unit per bulan, MOQ 200 unit berarti buyer harus menyimpan persediaan sekitar empat bulan jika tidak ada perubahan demand.

Apa Perbedaan MOQ dan EOQ?

MOQ dan Economic Order Quantity (EOQ) sering dianggap sama karena keduanya berkaitan dengan jumlah barang yang dipesan dalam aktivitas purchasing. Keduanya juga dapat digunakan untuk membantu perusahaan menentukan quantity pembelian yang efisien.

Namun, dasar penentuannya berbeda.

  • MOQ: Jumlah minimum yang ditetapkan supplier atau manufacturer untuk satu order.
  • EOQ: Jumlah pemesanan yang dihitung untuk mengoptimalkan biaya order dan biaya penyimpanan inventory.
  • MOQ merupakan batas dari sisi supplier, sedangkan EOQ merupakan perhitungan optimal dari sisi buyer.
  • MOQ dapat ditetapkan berdasarkan batch produksi, sedangkan EOQ mempertimbangkan faktor seperti demand, ordering cost, dan holding cost.

Misalnya, hasil perhitungan EOQ perusahaan adalah 100 unit, tetapi supplier menetapkan MOQ 200 unit. Buyer tidak dapat membeli hanya 100 unit jika supplier tidak bersedia memberikan quantity di bawah MOQ.

Dalam kondisi tersebut, perusahaan dapat mempertimbangkan negosiasi MOQ, mencari supplier alternatif, atau menerima quantity pembelian yang lebih besar dengan menghitung dampaknya terhadap inventory.

Faktor yang Memengaruhi MOQ

Besarnya MOQ dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi supplier maupun buyer.

  • Biaya produksi dan setup: Produksi dalam batch tertentu dapat lebih efisien daripada produksi dalam quantity kecil.
  • Volume permintaan: Supplier cenderung lebih mudah menetapkan MOQ yang sesuai ketika pola demand dapat diprediksi.
  • Kapasitas produksi: Kemampuan mesin dan fasilitas produksi dapat menentukan ukuran minimum batch.
  • Harga bahan baku: Pembelian bahan baku dalam quantity tertentu dapat memengaruhi biaya produksi.
  • Lead time: Semakin panjang waktu produksi dan pengiriman, semakin penting perencanaan quantity pembelian.
  • Biaya penyimpanan: MOQ yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan storage dan inventory holding cost.
  • Biaya transportasi: Quantity order dapat memengaruhi efisiensi trucking, pallet, maupun container.
  • Ukuran atau volume produk: Barang berukuran besar membutuhkan kapasitas penyimpanan dan transportasi yang lebih besar.
  • Shelf life: Produk dengan masa simpan terbatas memiliki risiko lebih tinggi jika MOQ terlalu besar.
  • Kapasitas warehouse: Buyer perlu memastikan storage space mampu menampung inventory yang dibeli.

Sudah Paham Apa Itu Minimum Order Quantity?

Jadi, MOQ adalah jumlah minimum barang yang harus dipesan dalam satu transaksi sesuai ketentuan supplier atau manufacturer. MOQ digunakan untuk menjaga efisiensi produksi, pengadaan, dan distribusi, tetapi dari sisi buyer jumlah tersebut perlu disesuaikan dengan demand dan kemampuan penyimpanan.

Dalam ekspor, MOQ dapat dinyatakan dalam unit, carton, pallet, berat, atau volume. Quantity tersebut juga dapat memengaruhi efisiensi freight, container utilization, FCL, LCL, dan biaya logistik secara keseluruhan.

Karena itu, menentukan MOQ yang tepat perlu mempertimbangkan demand forecast, biaya produksi, lead time, warehouse capacity, inventory holding cost, freight cost, dan risiko overstock agar proses procurement dan supply chain tetap efisien.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top