Home / Blog / Jenis Barcode dalam Manajemen Gudang dan Fungsinya dalam Operasional
Jenis Barcode dalam Manajemen Gudang dan Fungsinya dalam Operasional (freepik)

Jenis Barcode dalam Manajemen Gudang dan Fungsinya dalam Operasional

Setiap kali berbelanja di supermarket, kamu pasti pernah melihat kasir memindai label bergaris hitam-putih pada kemasan produk. Dalam hitungan detik, data produk akan muncul di layar. Proses scan ini memang terlihat sederhana, meskipun di baliknya ada sistem yang mengatur pergerakan barang secara detail. Barcode adalah alat identifikasi yang membantu bisnis mengontrol stok, lokasi, dan alur distribusi tanpa harus melakukan pengecekan manual satu per satu.

Yuk, kita bahas jenis-jenisnya dalam manajemen gudang pada artikel ini!

Baca Juga: Apa yang Dimaksud Gudang dalam Logistik dan Fungsinya

Definisi Barcode dalam Manajemen Gudang

Jenis Barcode dalam Manajemen Gudang dan Fungsinya dalam Operasional
Jenis Barcode dalam Manajemen Gudang dan Fungsinya dalam Operasional (freepik)

Barcode adalah representasi data dalam bentuk pola garis atau simbol yang bisa dibaca oleh scanner. Dalam manajemen gudang, barcode (kode batang) digunakan untuk mengidentifikasi barang, lokasi rak, hingga dokumen pengiriman. Dengan menempelkan barcode pada setiap produk atau kemasan, staf gudang bisa melacak pergerakan barang dari masuk hingga keluar dengan lebih akurat.

Setiap kode biasanya terhubung langsung ke sistem seperti WMS (Warehouse Management System). Begitu di-scan, data langsung muncul di sistem. Proses ini membuat pekerjaan jadi lebih cepat dan dapat meminimalisir kesalahan input data. Selain itu, data inventaris di sistem akan otomatis ter-update tanpa perlu pencatatan manual.

Cara Kerja Sistem Barcode

Sebelum memahami detail teknisnya, penting untuk melihat gambaran umum bagaimana kode batang bisa terbaca dan diproses dalam sistem:

  • Struktur Barcode

Barcode terdiri dari kombinasi garis dan spasi dengan ketebalan berbeda. Pola ini mewakili angka atau karakter tertentu. Pada barcode 1D, data tersusun secara horizontal. Sementara itu, pada barcode 2D, data tersusun dalam bentuk kotak atau matriks. Semakin kompleks bentuknya, makin banyak data yang bisa tersimpan.

  • Bagaimana Scanner Membaca Barcode?

Scanner bekerja dengan memancarkan cahaya pada kode batang. Pantulan cahaya dari garis hitam dan putih diterjemahkan menjadi data digital. Sistem kemudian mencocokkan data tersebut dengan database. Dalam hitungan detik, informasi barang langsung muncul. Proses ini yang membuat operasional gudang bisa berjalan cepat.

Baca Juga: Fungsi Penting Warehouse dan Bedanya dengan Gudang

Jenis-Jenis Barcode 1D (Linear)

Berikut adalah jenis kode batang linear yang perlu kamu ketahui:

  • Code 128

Code 128 sering digunakan di logistik karena fleksibel. Jenis ini bisa menyimpan angka dan huruf. Umumnya dipakai untuk label pengiriman atau inventori internal. Tingkat akurasinya juga tinggi. Cocok untuk operasional gudang, karena mampu menampung informasi yang lebih kompleks seperti kode produk, nomor batch, hingga detail lokasi penyimpanan sehingga memudahkan proses pelacakan dan pengelolaan barang secara lebih efisien.

  • EAN-13 dan EAN-8

EAN banyak digunakan untuk produk retail. Biasanya kamu temukan di barang supermarket. EAN-13 memiliki 13 digit, sementara EAN-8 lebih pendek. Kode ini mengikuti standar internasional dan digunakan untuk mengidentifikasi produk global. Artinya, setiap kode EAN bersifat unik dan bisa dikenali di berbagai negara sehingga memudahkan proses distribusi, penjualan hingga pencatatan stok di sistem yang berbeda tanpa perlu penyesuaian ulang.

  • UPC-A dan UPC-E

UPC banyak dipakai di Amerika dan retail global. Fungsinya mirip dengan EAN. UPC-A memiliki kode lebih panjang dibanding UPC-E. Biasanya digunakan untuk produk konsumsi sehari-hari (FMCG). Scanner retail seperti pada kasir di supermarket atau minimarket biasanya membaca kode ini saat barang dipindai di meja pembayaran.

  • Code 39

Code 39 digunakan untuk kebutuhan industri. Jenis ini bisa menyimpan huruf dan angka. Biasanya digunakan untuk label aset atau komponen. Tidak sepadat Code 128, karena setiap karakter direpresentasikan dengan pola yang lebih panjang sehingga ukuran barcode cenderung lebih besar. Namun, strukturnya lebih sederhana dan mudah dibaca oleh berbagai jenis scanner. Oleh karena itu, Code 39 masih cukup populer di beberapa sektor seperti manufaktur, logistik ringan, dan pelacakan inventaris internal.

  • ITF-14

ITF-14 digunakan untuk kemasan karton atau outer box. Biasanya dipakai untuk distribusi skala besar. Kode ini membantu tracking antar gudang. Sangat umum di supply chain FMCG karena satu kode bisa mewakili satu karton berisi banyak unit produk sehingga memudahkan proses penerimaan, penyimpanan hingga pengiriman dalam jumlah besar. Jadi, tidak perlu melakukan scan satu per satu item di dalamnya.

Baca Juga: Jenis Software Logistik untuk Bisnis Modern

Jenis-jenis Barcode 2D

Adapun jenis kode batang 2D yang umum digunakan di antaranya:

  • QR Code

QR Code bisa menyimpan data jauh lebih banyak dari kode batang biasa. Isinya bisa berupa link, teks, atau data lainnya. Kamu dapat dengan mudah memindai QR dengan menggunakan smartphone sehingga penggunaannya jauh lebih praktis dalam berbagai situasi. Dengan kemudahan dan fleksibilitasnya QR Code banyak dimanfaatkan untuk keperluan marketing maupun tracking.

  • Data Matrix

Data Matrix sering digunakan untuk industri manufaktur dan farmasi, terutama untuk pelabelan komponen kecil seperti suku cadang elektronik, alat medis, atau kemasan obat. Meskipun ukurannya kecil, kode ini mampu menyimpan data dalam jumlah besar, termasuk nomor seri, tanggal produksi hingga informasi batch. Bentuknya yang ringkas juga membuatnya cocok ditempatkan pada produk dengan area penempatan label yang terbatas seperti komponen elektronik atau kemasan obat, karena tetap bisa menyimpan banyak data tanpa harus memakan banyak ruang.

  • PDF417

PDF417 digunakan untuk dokumen dan data kompleks, seperti boarding pass pesawat, SIM, atau kartu identitas resmi. Kode ini mampu menyimpan berbagai informasi sekaligus, misalnya nama, nomor identitas, tanggal lahir, hingga data tambahan lainnya dalam satu simbol. Namun, karena bentuknya memanjang dan membutuhkan ruang cetak yang lebih besar, penggunaannya kurang praktis untuk label kecil dan tidak umum seperti QR Code dalam proses logistik.

Baca Juga: Pengertian Sortir Barang dalam Logistik dan Prosesnya

Perbedaan Barcode dan QR Code

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa keduanya sama, padahal ada beberapa perbedaan di antara keduanya:

  • Kapasitas Data

Barcode 1D hanya menyimpan data terbatas. Biasanya berupa angka atau kode sederhana. Sementara itu, QR Code bisa menyimpan data jauh lebih banyak, bahkan bisa menyimpan URL atau informasi detail. Hal ini membuat QR Code bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti mengarahkan ke website, menampilkan informasi produk, atau menyimpan data kontak.

  • Kemampuan Baca

Barcode biasanya membutuhkan scanner khusus, sedangkan QR Code bisa dibaca dengan kamera smartphone. Hal ini membuat QR lebih praktis untuk penggunaan sehari-hari. Namun, di kawasan gudang atau operasional, baik kode batang maupun QR biasanya tetap dibaca menggunakan scanner khusus, karena perangkat tersebut lebih cepat dan didesain untuk kebutuhan kerja.

  • Penggunaan Optimal

Barcode cocok untuk identifikasi cepat di gudang, sementara QR lebih cocok untuk informasi tambahan seperti aktivitas tracking atau marketing. Keduanya punya fungsi berbeda dan digunakan untuk kebutuhan yang tidak sama sehingga biasanya dipakai secara bersamaan, bukan untuk saling menggantikan.

Perbedaan Barcode dan RFID

Keduanya sama-sama digunakan untuk mengidentifikasi produk, tetapi cara kerjanya berbeda:

Cara Baca

Cara penggunaan barcode adalah dengan memindainya satu per satu dan scanner harus diarahkan langsung ke label. Berbeda halnya dengan RFID yang bisa dibaca tanpa kontak, bahkan bisa membaca banyak item sekaligus. Hal ini membuat RFID lebih canggih karena mampu mempercepat proses identifikasi, mengurangi kesalahan manusia, dan memungkinkan pelacakan otomatis secara real-time dalam skala besar.

Jangkauan dan Keterbatasan

Barcode punya jangkauan terbatas dan harus terlihat oleh scanner. Sementara itu, RFID bisa dibaca dari jarak tertentu. Namun, RFID lebih sensitif terhadap gangguan sinyal dari lingkungan sekitar, seperti logam atau gelombang radio lain. Tidak selalu cocok untuk semua kondisi. Oleh karena itu, RFID tidak selalu cocok digunakan di lingkungan dengan banyak logam atau interferensi sinyal tinggi seperti di pabrik atau gudang tertentu.

Biaya Implementasi

Kalau dilihat dari segi biaya, kode batang jauh lebih murah, karena label dan scanner relatif terjangkau. Berbeda dengan RFID yang membutuhkan budget lebih besar karena butuh chip dan reader khusus. Banyak bisnis tetap memilih barcode karena efisiensi biaya.

Fungsi Barcode dalam Manajemen Gudang

Berikut adalah fungsi kode batang dalam manajemen gudang yang wajib kamu ketahui:

  • Penerimaan Barang (Inbound)

Saat barang masuk gudang, kode batang langsung dipindai. Sistem akan mencatat jumlah dan jenis barang. Proses ini efektif untuk mengurangi kesalahan input manual. Semua data langsung tersimpan di sistem sehingga proses operasional jadi lebih cepat dan akurat.

  • Penempatan dan Lokasi Stok

Salah satu fungsi paling penting dari barcode adalah untuk mengetahui lokasi rak. Setiap lokasi punya kode uniknya tersendiri. Saat barang disimpan, sistem akan mencatat posisinya. Sistem ini memudahkan pencarian barang sehingga tidak perlu pengecekan manual satu per satu.

  • Picking dan Packing

Saat picking, tim cukup memindai barcode. Sistem akan memastikan barang yang diambil sesuai untuk mengurangi risiko salah kirim. Proses packing juga jadi lebih cepat, karena semua berbasis data real-time.

  • Pengeluaran Barang (Outbound)

Saat barang keluar, barcode kembali dipindai dan sistem akan mengurangi stok secara otomatis. Sistem ini bisa menjaga akurasi inventaris. Tidak ada selisih antara fisik dan sistem sehingga operasional jadi lebih rapi. Setiap pergerakan barang tercatat dengan jelas, proses pengecekan jadi lebih cepat, dan risiko kesalahan pencatatan bisa diminimalisir.

  • Stock Opname Digital

Stock opname tidak perlu lagi dilakukan secara manual. Tim cukup scan barcode di lokasi, data langsung bisa disinkronkan dengan sistem. Proses jadi lebih cepat, hasilnya juga lebih akurat karena setiap item yang dipindai langsung tercatat di sistem tanpa risiko salah input atau terlewat.

Fungsi Barcode dalam Tracking Pengiriman

  • Label Pengiriman

Setiap paket diberi barcode unik yang berisi informasi penting terkait pengiriman. Data ini mencakup asal, tujuan, dan detail lainnya yang dibutuhkan selama proses distribusi. Kode batang tersebut menjadi identitas utama paket sehingga memudahkan pelacakan. Tanpa adanya kode ini, proses tracking akan menjadi lebih sulit dan kurang akurat.

  • Scan di Setiap Checkpoint

Pada setiap titik distribusi, barcode akan dipindai untuk memperbarui informasi lokasi paket. Proses ini memungkinkan data posisi barang ter-update secara otomatis di sistem. Dengan begitu, kamu bisa memantau pergerakan paket secara real-time. Hal ini meningkatkan transparansi dan memberikan rasa aman bagi pelanggan.

  • Real-Time Visibility

Penggunaan barcode memungkinkan pemantauan pergerakan barang secara langsung tanpa perlu menunggu laporan manual. Semua data tersimpan dan dapat diakses melalui sistem kapan saja. Hal ini dapat membantu perusahaan dalam mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat sasaran, terutama saat terjadi kendala dalam proses pengiriman.

Baca Juga: Pengertian Digitalisasi Logistik dan Manfaatnya

Standar GS1 dalam Barcode Logistik

GS1 adalah standar global untuk sistem barcode. Standar ini memastikan kode dari satu produsen bisa dibaca oleh sistem di berbagai negara. Dalam industri logistik, GS1 mengatur format kode batang untuk berbagai level kemasan, mulai dari unit terkecil (EAN-13) hingga palet (ITF-14).

Implementasi Barcode di WMS Modern

Dalam pergudangan modern, barcode sudah terintegrasi dengan Warehouse Management System (WMS) dan menjadi fondasi otomatisasi operasional. Kode batang di sini berfungsi sebagai “pintu masuk” data sekaligus “pemeriksa akhir” sebelum barang meninggalkan gudang. Dengan barcode, WMS bisa memproses ribuan transaksi per hari dengan tingkat akurasi di atas 99%. Sistem juga mencatat aktivitas setiap staf, memungkinkan manajemen memantau produktivitas dan mengidentifikasi area yang memerlukan pelatihan tambahan.

Barcode adalah teknologi sederhana yang punya dampak besar pada efisiensi gudang dan pengiriman, mulai dari penerimaan barang, penempatan stok, picking, packing, hingga pelacakan pengiriman. Keberadaannya memastikan data selalu akurat dan aktivitas operasional bisa selesai lebih cepat. Staf tidak perlu mencatat dan mencari barang secara manual. Dengan adanya teknologi ini, kesalahan manusia bisa berkurang drastis, stok lebih terkontrol, dan pelanggan bisa melacak pesanan mereka dengan mudah.

Agar pengelolaan pengiriman lebih terstruktur dan mudah dipantau, perusahaan dapat memanfaatkan solusi logistik yang terintegrasi. Forwarder.ai membantu bisnis mengelola pengiriman secara efisien dalam satu platform, mulai dari perencanaan hingga tracking kargo secara real-time.

Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik, cek rute, hingga cek biaya kirim sesuai kebutuhan bisnis Anda!

Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.

Feeling enlightened? Share this article to more people.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top