Home / Blog / Apa Itu Distribusi Logistik dalam Supply Chain
Apa Itu Distribusi Logistik dalam Supply Chain (freepik)

Apa Itu Distribusi Logistik dalam Supply Chain

Setiap hari, jutaan barang berpindah dari pabrik ke toko, gudang ke pelanggan, dari satu pulau ke pulau lain. Barang tidak langsung sampai ke tangan pelanggan begitu selesai diproduksi. Ada proses panjang di baliknya, mulai dari penyimpanan, pengaturan pengiriman, hingga distribusi ke berbagai titik. Distribusi logistik adalah sebuah sistem yang mengaturnya.

Yuk, kita kupas tuntas apa itu distribusi logistik, jenis, hingga prosesnya di lapangan dalam artikel ini!

Baca Juga: Apa Itu Logistik? Pengertian, Tujuan, dan Manfaat

Pengertian Distribusi Logistik

Apa Itu Distribusi Logistik dalam Supply Chain (freepik)
Apa Itu Distribusi Logistik dalam Supply Chain (freepik)

Distribusi logistik adalah proses mengirim barang dari produsen atau pemasok ke tangan konsumen akhir melalui berbagai saluran dan moda transportasi. Cakupannya tidak hanya “memindahkan barang”, tetapi juga mencakup penyimpanan di gudang, pengelolaan stok, pengemasan hingga pelacakan pengiriman.

Berbeda halnya dengan transportasi biasa yang hanya fokus memindahkan barang dari titik A ke B, cakupan distribusi logistik lebih luas, yaitu memastikan barang tepat sasaran, tepat waktu, dalam kondisi baik, dan efisien dari segi biaya. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa distribusi menjadi tulang punggung rantai.

Baca Juga: Kenapa First Mile Hub Jadi Penentu Cepatnya Pengiriman? Ini Faktanya

Jenis Distribusi Logistik

Setiap bisnis punya pendekatan distribusi yang berbeda, tergantung kebutuhan dan skala operasionalnya.

1. Distribusi Langsung

Produsen mengirim barang langsung ke konsumen tanpa perantara. Sebagai contoh pabrik furnitur yang menerima pesanan online lalu mengirimnya via ekspedisi ke rumah pelanggan. Cocok untuk bisnis dengan sistem penjualan langsung.

2. Distribusi Tidak Langsung

Barang melewati pihak lain seperti distributor atau retailer sebelum sampai ke pelanggan. Metode ini untuk menjangkau pasar lebih luas, meskipun dari segi biaya lebih tinggi dan kontrol dari produsen berkurang.

3. Distribusi Intensif

Produk didistribusikan ke sebanyak mungkin titik penjualan agar mudah ditemukan. Sebagai contoh minuman kemasan dijual di supermarket, warung, minimarket, bahkan gerobak pinggir jalan. Cocok untuk produk kebutuhan sehari-hari.

4. Distribusi Selektif

Produsen memilih perantara tertentu yang memenuhi kriteria (misalnya punya reputasi baik atau lokasi strategis). Sebagai contoh merek elektronik tertentu hanya bisa pelanggan beli di toko resmi, bukan toko biasa.

5. Distribusi Eksklusif

Pihak produsen hanya memberi hak jual ke satu perantara untuk satu wilayah tertentu. Contoh konkretnya, dealer mobil resmi hanya ada satu di suatu kota.

Baca Juga: Pengertian Proses Logistik, Bukan Cuma Kirim Barang

Proses Distribusi Logistik dalam Praktik

Distribusi berjalan melalui beberapa tahap yang saling terhubung satu sama lain:

1. Penerimaan Pesanan

Pelanggan memesan produk, sistem mencatat detail pesanan (jenis barang, jumlah, dan alamat tujuan).

2. Pengambilan Barang (Picking)

Staf gudang mengambil produk dari rak sesuai pesanan sebelum masuk ke tahap pengecekan.

3. Pengecekan (Checking)

Memastikan barang yang diambil sesuai dengan pesanan, tidak salah model atau jumlah.

4. Pengemasan (Packing)

Barang dibungkus dengan kemasan yang aman untuk perjalanan.

5. Penyimpanan Sementara

Produk sering kali disimpan di gudang atau pusat distribusi sebelum dikirim ke tujuan berikutnya.

6. Pengiriman ke Tujuan (Shipping)

Tahapan selanjutnya adalah memuat barang ke truk atau kontainer sebelum pengiriman ke alamat tujuan.

7. Pelacakan (Tracking)

Pengirim dan penerima bisa memantau posisi kargo secara real-time.

8. Serah Terima

Barang sampai ke tangan penerima dan bukti penerimaan ditandatangani.

Baca Juga: Benarkah Trucking dalam Logistik Lebih Efisien? Ini Faktanya

Tantangan Distribusi

Distribusi logistik kerap menghadapi kendala operasional di lapangan, di antaranya:

1. Keterlambatan Pengiriman

Faktor seperti lalu lintas, cuaca, atau kendala operasional bisa mempengaruhi waktu pengiriman. Misalnya barang belum siap dikirim atau kendaraan belum bisa berangkat, bisa mempengaruhi waktu tibanya barang.

2. Biaya Bahan Bakar

Fluktuasi harga BBM mempengaruhi biaya pengiriman secara langsung. Ketika BBM naik, ongkos kirim ikut naik, dan bisnis harus memutuskan antara menaikkan harga atau menanggung sendiri margin yang tergerus.

3. Infrastruktur yang Tidak Merata

Jalan rusak, pelabuhan kecil dengan peralatan terbatas, dan kurangnya jembatan di beberapa daerah akan menghambat kelancaran distribusi. Barang bisa tertahan berhari-hari hanya karena akses jalan yang buruk.

4. Kemacetan Lalu Lintas

Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan terkenal dengan kemacetannya. Truk yang terjebak macet berjam-jam mengakibatkan keterlambatan pengiriman dan Anda harus membayar ekstra untuk jasa sopir.

5. Keterbatasan Armada (Bisnis Kecil)

Tidak semua bisnis memiliki truk sendiri. Menyewa vendor logistik terkadang sulit di daerah tertentu atau biayanya tidak masuk akal untuk volume kecil.

6. Koordinasi Antar Pihak

Distribusi melibatkan banyak pihak, mulai dari gudang, transporter hingga penerima barang yang perlu untuk menyesuaikan jadwal satu sama lain. Barang bisa saja sudah siap di gudang, tetapi armada belum datang, begitupun sebaliknya.

7. Pengelolaan Stok dan Fluktuasi Permintaan

Stok berlebih atau kekurangan stok bisa mengganggu kelancaran distribusi. Kondisi ini sering terjadi karena permintaan pasar yang fluktuatif, seperti lonjakan pesanan saat promo atau musim tertentu, lalu turun drastis di periode lain. Tanpa perencanaan yang tepat, barang bisa menumpuk di satu lokasi, sementara di lokasi lain justru kosong.

Memahami distribusi logistik adalah jantung dari setiap bisnis yang mengirim barang. Tanpa distribusi yang efisien, produk terbaik sekalipun hanya akan menumpuk di gudang, tidak akan pernah sampai ke tangan pelanggan.

Perhitungan volume bukan sekadar angka di atas kertas saja. Hal ini menjadi dasar dalam menentukan efisiensi pengiriman secara keseluruhan. Dengan memahami cara menghitung kubikasi kontainer, Anda bisa merencanakan pengiriman dengan perhitungan yang tepat, mulai dari pemilihan jenis peti kemas hingga penyusunan muatan di dalamnya.

Agar pengelolaan pengiriman lebih terstruktur dan mudah dipantau, perusahaan dapat memanfaatkan solusi logistik yang terintegrasi. Forwarder.ai membantu bisnis mengelola pengiriman secara efisien dalam satu platform, mulai dari perencanaan hingga tracking kargo secara real-time.

Cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman terbaik, cek rute, hingga cek biaya kirim sesuai kebutuhan bisnis Anda!

Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.

Feeling enlightened? Share this article to more people.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top