Home / Blog / Pengertian Sea Freight, Keunggulan, dan Kapan Harus Menggunakannya
Sea Freight

Pengertian Sea Freight, Keunggulan, dan Kapan Harus Menggunakannya

Sea freight adalah metode pengiriman barang melalui jalur laut menggunakan kapal kargo, kapal kontainer, atau jenis kapal lain yang disesuaikan dengan karakter muatan. Metode ini banyak dipakai untuk barang berjumlah besar, berat, atau berukuran besar ketika waktu pengiriman masih cukup fleksibel.

Kalau kamu mencari arti sea freight, istilah ini merujuk pada pengangkutan kargo melalui laut. Sederhananya, sea freight artinya pengiriman barang menggunakan kapal dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, lalu dapat dilanjutkan dengan transportasi darat jika layanan mencakup pengantaran ke lokasi tujuan.

Keunggulan utamanya ada pada kapasitas. Kapal dapat membawa muatan dalam jumlah jauh lebih besar dibanding pesawat. Namun, pengiriman laut juga membutuhkan perencanaan lebih awal karena jadwal kapal, proses di pelabuhan, konsolidasi, dan perjalanan laut ikut memengaruhi total waktu pengiriman.

Bagaimana Sea Freight Bekerja?

Pengiriman sea freight tidak dimulai ketika kapal berangkat. Sebelum itu, pengirim perlu menentukan jenis layanan, menyiapkan data muatan, memilih kontainer jika diperlukan, mengatur jadwal, dan memastikan barang siap sebelum batas waktu penerimaan yang ditentukan.

Secara umum, prosesnya berjalan seperti berikut:

  1. Booking: detail barang, jumlah, berat, volume, rute, dan kebutuhan kontainer diberikan kepada penyedia layanan untuk mengecek jadwal serta ketersediaan ruang.
  2. Persiapan barang: muatan dikemas dan disiapkan sesuai karakter barang serta metode pengiriman yang digunakan.
  3. Stuffing atau konsolidasi: untuk FCL, barang dimuat ke kontainer yang digunakan untuk shipment tersebut. Pada LCL, barang dari beberapa shipper dikumpulkan dan dikonsolidasikan sebelum kontainer diberangkatkan.
  4. Pengiriman ke pelabuhan: kontainer atau muatan dibawa ke terminal sesuai jadwal dan batas waktu operasional.
  5. Proses terminal dan loading: kontainer yang sudah memenuhi persyaratan operasional disiapkan lalu dimuat ke kapal.
  6. Pelayaran: kapal bergerak menuju pelabuhan tujuan, baik secara langsung maupun melalui pelabuhan transit atau transshipment.
  7. Proses di tujuan: setelah dibongkar dari kapal, barang menjalani proses terminal dan administrasi yang berlaku.
  8. Pengiriman lanjutan: jika cakupan layanan mencakup transportasi darat, barang diteruskan menuju gudang atau alamat penerima.

Artinya, waktu pelayaran bukan satu-satunya angka yang perlu dilihat. Jadwal pickup, proses stuffing, konsolidasi LCL, jadwal kapal, transit, bongkar muat, sampai pengiriman dari pelabuhan juga masuk dalam total lead time.

Proses memasukkan dan menata barang di dalam kontainer sendiri dikenal sebagai stuffing container. Penataannya perlu mempertimbangkan bentuk, berat, stabilitas, dan penggunaan ruang agar barang tetap aman selama perjalanan.

Siapa yang Menangani Sea Freight?

Dalam satu shipment laut, kamu bisa berhubungan dengan beberapa pihak sekaligus. Karena itu, carrier, freight forwarder, dan pihak yang mengurus transportasi tidak selalu merujuk pada perusahaan yang sama.

Kalau kamu menemukan istilah sea freight transporter, penggunaannya bisa berbeda tergantung konteks. Secara umum, sea freight transporter adalah pihak yang menyediakan atau menjalankan transportasi laut. Dalam praktiknya, operator kapal atau shipping line bertindak sebagai carrier, sedangkan freight forwarder dapat mengatur pengiriman dengan menghubungkan shipper ke carrier serta layanan pendukung lainnya.

Jadi, freight forwarder tidak otomatis berarti perusahaan tersebut mengoperasikan kapal sendiri. Saat membandingkan layanan, lebih penting melihat siapa carrier-nya, rute yang digunakan, cakupan layanan, dan pihak mana yang bertanggung jawab di setiap tahap.

Jenis Sea Freight Berdasarkan Cara Muatan Dikirim

Jenis sea freight dapat dibedakan dari cara barang dimuat dan jenis kapal atau ruang yang digunakan. Untuk pengiriman bisnis, FCL dan LCL merupakan dua istilah yang paling sering ditemui dalam pengiriman berkontainer.

1. Full Container Load (FCL)

FCL (Full Container Load) menggunakan satu kontainer untuk muatan dari satu shipper. Metode ini tidak berarti kontainer harus selalu terisi sampai setiap sentimeter ruang habis. Yang membedakannya adalah kontainer tersebut tidak dikonsolidasikan dengan shipment LCL milik pengirim lain.

FCL layak dipertimbangkan ketika volume barang cukup besar, karakter barang membutuhkan kontrol penataan yang lebih baik, atau perbandingan total biaya sudah lebih efisien dibanding mengirim sebagai LCL.

2. Less than Container Load (LCL)

LCL (Less than Container Load) memungkinkan beberapa shipper berbagi ruang dalam satu kontainer. Pengirim tidak perlu menyewa seluruh kontainer sehingga metode ini sering lebih masuk akal untuk muatan yang volumenya belum besar.

Ada proses tambahan berupa konsolidasi di asal dan dekonsolidasi di tujuan. Karena itu, alur LCL bisa berbeda dari FCL dan waktu penanganannya perlu ikut diperhitungkan.

Baca Juga: Perbedaan LCL dan FCL pada Pengiriman Menggunakan Kontainer

3. Break Bulk

Break bulk digunakan untuk muatan yang tidak dikirim sebagai barang curah dan tidak cocok dimasukkan ke kontainer standar. Mesin, komponen industri, material konstruksi, atau muatan berdimensi khusus dapat membutuhkan metode ini.

Barang biasanya dimuat per unit, peti, bundel, atau bentuk kemasan lainnya. Proses bongkar muatnya bisa membutuhkan crane dan perencanaan lifting khusus.

4. Roll-on/Roll-off (RoRo)

RoRo dirancang untuk kendaraan atau muatan beroda yang dapat dinaikkan dan diturunkan melalui ramp kapal. Contohnya mobil, truk, trailer, atau unit tertentu yang dapat bergerak sendiri maupun ditarik.

5. Dry Bulk

Dry bulk digunakan untuk komoditas curah kering yang dimuat dalam jumlah besar tanpa kemasan satuan seperti karton. Jenis barang dan kapal yang digunakan bergantung pada karakter komoditas serta fasilitas bongkar muat yang tersedia.

6. Liquid Bulk

Liquid bulk digunakan untuk muatan cair dalam jumlah besar. Penanganannya menggunakan kapal atau peralatan khusus sesuai karakter cairan dan persyaratan keselamatannya.

Baca Juga: 6 Jenis Sea Freight yang Umum Digunakan

FCL atau LCL, Mana yang Lebih Sesuai?

Memilih FCL atau LCL tidak sebaiknya hanya berdasarkan apakah barang terlihat banyak atau sedikit. Total volume, karakter barang, frekuensi pengiriman, biaya, serta jadwal semuanya perlu dibandingkan.

AspekFCLLCL
Penggunaan kontainerSatu shipment menggunakan kontainer sendiriBerbagi dengan shipment shipper lain
VolumeLebih cocok untuk muatan besar atau ketika tarif satu kontainer sudah ekonomisLebih fleksibel untuk volume kecil hingga menengah
HandlingTidak membutuhkan konsolidasi dengan shipment lainAda proses konsolidasi dan dekonsolidasi
Dasar biaya utamaUmumnya berdasarkan ukuran dan jenis kontainer serta ruteUmumnya berdasarkan volume atau skema tarif yang berlaku
PerencanaanPerlu memilih ukuran dan tipe kontainer yang sesuaiPerlu memperhitungkan jadwal konsolidasi dan penanganan di CFS

Tidak ada batas volume tunggal yang otomatis membuat FCL selalu lebih murah daripada LCL. Titik peralihannya bisa berbeda menurut rute, tarif, jenis kontainer, dan biaya lokal. Kalau volume mulai besar, bandingkan kedua penawaran berdasarkan total biaya, bukan hanya tarif dasarnya.

Tipe Kontainer yang Digunakan dalam Sea Freight

Jenis layanan dan tipe kontainer adalah dua hal berbeda. FCL atau LCL menjelaskan skema penggunaan ruang, sedangkan tipe kontainer menentukan bentuk dan fasilitas tempat barang dimuat.

Dry Container

Dry container atau general purpose container digunakan untuk barang kering yang tidak membutuhkan pengaturan suhu khusus. Ini merupakan salah satu tipe yang paling umum dalam pengiriman berkontainer.

High Cube Container

High cube memiliki ruang vertikal lebih tinggi dibanding kontainer standar dengan panjang yang sebanding. Tipe ini berguna untuk barang yang relatif ringan tetapi membutuhkan volume lebih besar.

Reefer Container

Reefer dilengkapi sistem pengaturan suhu dan digunakan untuk barang yang membutuhkan kondisi temperatur tertentu selama pengiriman. Setelan dan prosedur penanganannya harus disesuaikan dengan kebutuhan barang.

Open Top dan Flat Rack

Open top dan flat rack digunakan ketika bentuk atau dimensi barang tidak cocok dengan kontainer tertutup standar. Pemilihan keduanya perlu memperhitungkan dimensi, berat, titik angkat, serta metode pengamanan muatan.

Tank Container

Tank container dirancang untuk membawa jenis cairan tertentu menggunakan tangki yang dipasang dalam rangka kontainer standar. Persyaratan unit dan penanganannya bergantung pada jenis muatan.

Baca Juga: Tipe Kontainer Dalam Sea Freight dan Fungsinya

Dokumen yang Umum Digunakan dalam Sea Freight

Tidak ada satu daftar dokumen yang berlaku persis sama untuk setiap pengiriman laut. Kebutuhannya berubah mengikuti rute, jenis barang, skema FCL atau LCL, carrier, dan sifat pengirimannya.

Beberapa dokumen dan data yang umum ditemui antara lain:

  • Shipping Instruction (SI): berisi informasi shipment yang diberikan shipper kepada carrier atau forwarder untuk membantu proses dokumentasi pengangkutan.
  • Packing List: menjelaskan kondisi fisik muatan seperti jumlah kemasan, berat, dan informasi barang.
  • Bill of Lading (B/L): menjadi tanda terima barang dan bukti hubungan pengangkutan. Fungsi lain B/L dapat berbeda tergantung jenis dokumennya.
  • Verified Gross Mass (VGM): berat kotor terverifikasi packed container yang diperlukan ketika shipment berada dalam cakupan ketentuan VGM.
  • Delivery Order (DO): digunakan dalam proses pelepasan atau pengambilan barang di tujuan sesuai skema carrier atau agen.

Untuk pengiriman tertentu, dokumen komersial, kepabeanan, asuransi, atau izin barang khusus juga bisa diperlukan. Karena sifatnya kondisional, jangan menganggap semua dokumen tersebut wajib untuk setiap shipment.

Salah satu sumber data awalnya adalah Shipping Instruction. Data yang tidak konsisten pada tahap ini bisa ikut terbawa ke dokumen pengangkutan berikutnya.

Baca Juga: Dokumen-Dokumen Penting dalam Sea Freight

Apa yang Memengaruhi Biaya Sea Freight?

Tarif pengiriman laut bukan satu angka yang hanya ditentukan oleh jarak. Dua shipment dengan rute sama pun bisa memiliki total biaya berbeda karena volume, tipe layanan, jenis kontainer, dan cakupan pengirimannya tidak sama.

1. FCL atau LCL

Pada FCL, biaya dasar berkaitan dengan ukuran dan tipe kontainer serta rute. LCL memiliki struktur berbeda karena biaya muatan dihitung berdasarkan ruang yang digunakan serta proses konsolidasi dan penanganannya.

Kalau ingin melihat komponennya lebih detail, tersedia panduan terpisah mengenai biaya FCL dan cara menghitung tarif LCL.

2. Rute dan Jadwal Pelayaran

Rute langsung dan rute yang membutuhkan transshipment memiliki struktur operasional berbeda. Frekuensi kapal, ketersediaan ruang, pelabuhan yang digunakan, serta kondisi pasar pada rute tersebut juga dapat memengaruhi tarif.

3. Jenis dan Ukuran Kontainer

Kontainer 20 kaki, 40 kaki, high cube, reefer, atau equipment khusus tidak memiliki struktur biaya yang sama. Barang yang membutuhkan peralatan khusus juga bisa menambah kebutuhan penanganan.

4. Biaya Terminal dan Penanganan

Selain ocean freight, penawaran dapat memuat komponen terminal, dokumentasi, penanganan, konsolidasi, atau biaya lokal lainnya. Nama serta cakupannya dapat berbeda menurut carrier, pelabuhan, dan layanan.

5. Transportasi dari dan ke Pelabuhan

Kalau layanan mencakup pickup atau pengiriman dari pelabuhan ke gudang penerima, biaya trucking dan kebutuhan transportasi darat perlu dihitung bersama freight lautnya.

6. Surcharge dan Kondisi Operasional

Tarif dapat memiliki surcharge tertentu sesuai kondisi rute, carrier, musim, atau layanan. Karena itu, tarif dasar yang terlihat rendah belum tentu menghasilkan total biaya paling rendah.

7. Penyimpanan, Demurrage, atau Detention jika Terjadi

Keterlambatan dalam mengambil barang, mengembalikan equipment, atau melewati periode bebas yang berlaku dapat menimbulkan biaya tambahan sesuai ketentuan penyedia layanan. Karena aturan dan terminologinya bisa berbeda, cek free time serta kondisi tarif sebelum pengiriman berjalan.

Untuk melihat biaya pengiriman sebagai satu kesatuan, bukan hanya ocean freight, kamu juga bisa memahami freight cost dan komponen yang memengaruhinya.

Keunggulan Sea Freight untuk Bisnis

Keunggulan sea freight paling terasa ketika kebutuhan pengiriman sesuai dengan karakter moda laut. Artinya, laut tidak selalu menjadi pilihan terbaik, tetapi bisa sangat efisien untuk situasi tertentu.

1. Kapasitas Muatan Besar

Kapal dapat membawa kontainer dan kargo dalam jumlah besar. Ini membuat pengiriman laut relevan untuk distribusi dengan volume tinggi, barang berat, atau muatan yang sulit ditangani melalui pesawat.

2. Biaya Bisa Lebih Efisien untuk Muatan Besar

Untuk barang dalam jumlah besar yang tidak membutuhkan waktu transit sangat singkat, laut sering memberikan biaya per unit yang lebih masuk akal dibanding udara. Efisiensinya tetap perlu dihitung berdasarkan total shipment, bukan asumsi bahwa laut selalu paling murah.

3. Pilihan Kapasitas Lebih Fleksibel

Bisnis tidak harus selalu mengisi satu kontainer. LCL memungkinkan pengiriman dalam volume lebih kecil, sedangkan FCL tersedia ketika kebutuhan ruang sudah lebih besar.

4. Bisa Menangani Banyak Karakter Muatan

Selain dry container standar, tersedia reefer, open top, flat rack, tank container, serta metode pengiriman nonkontainer. Pilihan ini memberi ruang untuk menyesuaikan equipment dengan karakter barang.

5. Cocok untuk Perencanaan Distribusi Rutin

Kalau kebutuhan barang dapat direncanakan lebih awal, jadwal sea freight bisa dimasukkan ke perencanaan stok dan distribusi. Tim tidak harus mengejar moda tercepat selama titik pemesanan dan waktu pengiriman sudah diperhitungkan.

Kekurangan Sea Freight yang Perlu Dipertimbangkan

Kekurangan sea freight terutama berkaitan dengan waktu dan kompleksitas operasionalnya. Memahami batasannya membantu bisnis menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada tarif.

1. Waktu Pengiriman Lebih Panjang

Moda laut biasanya membutuhkan waktu lebih lama dibanding udara, apalagi jika rutenya memerlukan transit atau perpindahan kapal. Proses sebelum dan sesudah pelayaran juga ikut menambah total lead time.

2. Jadwal Tidak Sepenuhnya Fleksibel

Barang harus menyesuaikan jadwal kapal dan batas waktu terminal. Kalau terlewat, shipment bisa perlu menunggu keberangkatan berikutnya.

3. Bisa Terdampak Congestion dan Perubahan Operasional

Kepadatan terminal, cuaca, perubahan rotasi kapal, atau kendala lain di jaringan pelayaran dapat memengaruhi estimasi kedatangan. Karena itu, ETA sebaiknya diperlakukan sebagai estimasi, bukan jaminan waktu tiba.

4. Ada Lebih Banyak Titik Penanganan

Barang perlu berpindah dari lokasi asal ke pelabuhan, melewati terminal, kapal, pelabuhan tujuan, lalu kembali ke moda darat. Untuk LCL, ada tambahan proses konsolidasi dan dekonsolidasi.

5. Perencanaan Dokumen dan Jadwal Harus Lebih Rapi

Data barang, jadwal cutoff, dokumen, serta pengaturan pickup perlu disiapkan dengan baik. Kesalahan yang ditemukan terlalu dekat dengan jadwal kapal bisa lebih sulit diperbaiki tanpa mengganggu keberangkatan.

Sea Freight vs Air Freight, Apa Bedanya?

Perbandingan laut dan udara paling berguna kalau dilihat dari kebutuhan bisnis, bukan sekadar mana yang lebih bagus.

AspekSea FreightAir Freight
Prioritas utamaKapasitas dan efisiensi untuk muatan besarKecepatan dan kebutuhan waktu
Waktu transitLebih panjangUmumnya lebih singkat
KapasitasSangat besar dan banyak pilihan equipmentLebih terbatas oleh kapasitas serta dimensi pesawat
BiayaSering lebih efisien untuk volume besar dan barang beratCenderung lebih tinggi, terutama untuk muatan besar atau berat
Cocok untukBulk shipment, barang berat, distribusi terencana, dan muatan besarBarang mendesak, sensitif waktu, atau relatif bernilai tinggi dibanding ukurannya

Kalau waktu menjadi prioritas utama, air freight layak dibandingkan. Kalau volume besar dan jadwal masih bisa direncanakan lebih jauh, sea freight biasanya menjadi kandidat yang lebih relevan.

Kapan Menggunakan Sea Freight?

Kapan menggunakan sea freight sebenarnya bergantung pada keseimbangan antara biaya, volume, jenis barang, dan tenggat. Moda laut mulai menarik ketika keuntungan kapasitasnya lebih penting daripada kebutuhan pengiriman secepat mungkin.

Sea freight layak dipertimbangkan ketika:

  • volume atau berat barang cukup besar
  • barang tidak perlu tiba dalam hitungan waktu yang sangat singkat
  • biaya transportasi perlu ditekan untuk shipment berkapasitas besar
  • jadwal kebutuhan stok sudah bisa direncanakan lebih awal
  • barang membutuhkan kontainer atau equipment khusus
  • pengiriman dilakukan secara rutin sehingga jadwal pelayaran bisa masuk ke perencanaan distribusi

Namun, jangan memilih sea freight hanya karena tarif dasarnya terlihat lebih murah. Untuk shipment kecil atau kebutuhan yang mendesak, selisih biaya bisa tidak sebanding dengan tambahan waktu tunggu dan penanganan.

Kapan Sea Freight Kurang Cocok?

Pertimbangkan moda lain kalau barang harus tiba secepat mungkin, keterlambatan dapat menghentikan operasional, atau nilai waktu barang jauh lebih besar daripada penghematan freight.

Contohnya, komponen penting yang dibutuhkan agar lini produksi kembali berjalan mungkin lebih masuk akal dikirim lewat udara. Sebaliknya, pengisian stok rutin dalam volume besar dapat direncanakan melalui laut agar biaya distribusinya lebih terkendali.

Tips Memilih Layanan Sea Freight

1. Mulai dari Data Barang

Siapkan jenis barang, jumlah koli, berat, dimensi, volume, serta kebutuhan suhu atau penanganan khusus. Data inilah yang menentukan apakah shipment lebih cocok LCL, FCL, atau metode lainnya.

2. Jangan Bandingkan Ocean Freight Saja

Lihat total biaya dari lokasi asal sampai titik layanan yang kamu butuhkan. Penawaran dengan ocean freight lebih rendah bisa saja memiliki biaya lokal atau transportasi lanjutan yang berbeda.

3. Cek Rute dan Jumlah Transit

Rute langsung dan rute dengan transshipment tidak memiliki profil waktu yang sama. Kalau ETA penting untuk operasional, cek jalur perjalanannya, bukan hanya tanggal keberangkatan.

4. Pahami Cutoff dan Free Time

Catat batas waktu dokumen, penerimaan barang atau kontainer, serta ketentuan free time yang berlaku. Informasi ini membantu tim merencanakan pickup dan proses di tujuan tanpa terburu-buru.

5. Pilih Equipment Berdasarkan Barang, Bukan Kebiasaan

Dry container memang paling umum, tetapi belum tentu tepat untuk setiap muatan. Suhu, ukuran, berat, bentuk, dan metode bongkar muat perlu menjadi dasar pemilihan kontainer.

Baca Juga: Panduan Layanan Sea Freight di Forwarder.ai

Jadi, Apakah Sea Freight Cocok untuk Bisnis Kamu?

Sea freight paling relevan ketika bisnis perlu memindahkan barang dalam jumlah besar dan masih memiliki ruang waktu untuk merencanakan pengiriman. Kapasitasnya besar, pilihan layanan serta equipment beragam, dan biaya dapat lebih efisien untuk jenis shipment tertentu.

Di sisi lain, waktu perjalanan yang lebih panjang, jadwal kapal, proses terminal, dan kemungkinan biaya tambahan membuat keputusan tidak bisa hanya berdasarkan tarif. Bandingkan total biaya, lead time, jenis barang, volume, dan cakupan layanan sebelum memilih.

Kalau kamu ingin membandingkan pilihan pengiriman sesuai kebutuhan bisnis, cek layanan Forwarder.ai untuk berbagai pilihan pengiriman, rute, dan estimasi biaya kirim.

Nikmati voucher hingga 200K untuk pengiriman pertamamu. Langsung berlaku dan otomatis terpotong saat checkout.

Feeling enlightened? Share this article to more people.

Scroll to Top